Cerita BL dewasa bergenre fantasi kolosal yang akan membawamu ke dunia fantasi di masa lampau.
Tentang dua orang pangeran yang terlahir di kerajaan Ananta. Putra Mahkota Ukino dan Kesatria terbaik Semino. Dua bersaudara itu menjalani kehidupan kepan...
"Selamat Pagi pangeranku..." ucap Sakti sambil mengecup bibir Bharatta untuk membangunkannya.
Atta membuka matanya dan melihat Sakti berdiri tegak di samping ranjangnya dengan jubah terbuka. Mengingat tadi malam dia dan Sakti memadu kasih dengan bantuan Ukino dan rekan-rekan, Atta pagi ini merasa bangun tidur adalah hal yang menyenangkan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dia berdiri, memeluk Sakti dan meraba Abs pengawalnya itu. Hidung mereka bertemu dan Atta tanpa basa-basi menyosor bibir Sakti untuk dia lumat. Tangan Bharatta menari-nari di otot perut Sakti yang dia sukai. Dia melompat, mengunci Sakti dengan kakinya dan digendong sambil berciuman.
"Eits, jangan dulu pangeran. Mandi dan Sarapanlah dulu. Raja sudah menunggu" ucap Sakti memberi penolakan yang cukup dia sesalkan, dia turunkan Bharatta dari gendongannya.
"Tadi malam... menyenangkan sekali Sakti" bisik Atta sambil memainkan jarinya di pusar Sakti...
"Ya, aku tahu..." Sakti berjalan menuju kamar mandi "Silahkan bersiap-siap pangeran, anda tidak mau Raja marah kan kalau anda tidak sempat ikut sarapan dengan tamu?"
"Dia tidak mungkin marah kalau sedang ada tamu. Kita tidak ada ibadah pagi?" tanya Atta sambil bertengger di bahu Sakti bergandengan jalan ke area mandi.
Sakti menggeleng "Tidak ada Bumantara lagi, dan Kuil masih dibangun. Penumbra tidak bisa memimpin ibadah Surya sehingga kita diminta ibadah di kamar masing-masing."
Sakti menunggu di luar kamar mandi.
"Terus?" tanya Atta.
"Apa pangeran?" tanya Sakti.
"Mandikan aku..." Pinta Atta.
"Maaf tapi aku tidak bisa basah pangeran, aku sudah menggunakan jubah tugas"
"Ganti ke jubah mandi" ucap Atta "Sekarang..."
Atta membuka jubah tidurnya dan masuk ke dalam air hangat yang sudah Sakti siapkan. Dia mulai mandi dan mengusap tubuhnya di depan Sakti dengan rayuan yang dia sengaja. Atta meraba dadanya dan menatap Sakti dengan mata menggoda sambil memainkan putingnya sendiri. Sakti mengalihkan pandangan, tapi batangnya jelas menunjuk tegang dengan tegak ke arah tubuh Bharatta di depannya.
"Kesini Sakti, bantu aku mandi" ucap Bharatta.
"Anda tidak sakit kan sampai harus dimandikan pangeran?" tanya Sakti.