Cerita BL dewasa bergenre fantasi kolosal yang akan membawamu ke dunia fantasi di masa lampau.
Tentang dua orang pangeran yang terlahir di kerajaan Ananta. Putra Mahkota Ukino dan Kesatria terbaik Semino. Dua bersaudara itu menjalani kehidupan kepan...
Masih Bab Filler Have Fun Jangan dibawa serius Senangin aja
Kebagi 2 kali post karena gambarnya Limit.
Selamat membaca Komentari typo agar diperbaiki
RUANG 1
Penumbra terbangun di sebuah dimensi baru, dimensi acak yang masih terbuat dari kue tapi bercampur juga dengan material alami yang acak. Batuan, rumput, sungai, bercampur berantakan sebagai tanda bahwa dimensi ini bukan dimensi senang-senang. Dimensi lantai dua dari piramida menjadi tempat mereka yang gagal di lantai pertama mendapatkan hukuman batin, sudah dirancang oleh Umbra dan Semino, dan kini senjata makan tuan.
Sang Petapa melangkah dan melihat bagaimana dimensi itu membentuk berupa jalan panjang lurus melingkar dengan dimensi baru di tiap segmentasinya. Seperti kereta dengan berbagai gerbong namun ini berbentuk jalan luas yang panjang ke ujung, melingkar dan membentuk sekat-sekat yang tidak diketahui kemana arahnya. Ada pintu terhubung, itupun samar. Dinding transparan yang mencegah mereka melihat ada apa di ruangan sebelah juga membuat suasana tidak nyaman. Terdengar teriakan kesakitan, minta ampun, dan suara-suara menyeramkan lain yang menandakan peserta yang lebih dulu gugur di lantai satu sudah masuk ke "hukuman" mereka.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
(Peta ruangan mungkin akan berguna nanti)
Sihir mulai mengendalikan mental semua peserta disana, memberi rasa tidak nyaman, takut dan tidak betah. Tapi Umbra sebagai orang yang merapalkan mantranya, jelas mengerti arah sihir dimensi ini ke mana. Berbeda dengan dimensi lantai satu yang memberi euforia, kesenangan dan birahi. Dimensi lantai kedua ini seakan menyedot energi mereka, membuat rasa tidak nyaman yang besar sampai memberi sensasi gemetar di tubuh semua orang di dalamnya.
"Kau kalah Penumbra" ucap Bharatta yang muncul di tengah-tengah dimensi itu. Muncul dengan topeng emas yang menutupi setengah wajahnya. Menggunakan jubah hitam transparan dan bergerak kaku seperti patung. Timbul hilang seperti hologram rusak. Umbra tahu, itu bukan Bharatta yang asli.
"Kau tidak perlu menjelaskan aturan disini lagi kepadaku, kau hanya manifestasi aturan yang dibuat menyerupai pemenang lantai satu" ucap Umbra lalu berjalan lurus mengabaikan si Bharatta palsu tadi, dia berusaha mencari pintu untuk pindah ruangan.
Sosok yang menyerupai Bharatta tadi berjalan di sampingnya dan mulai menjelaskan aturan lantai itu. Sosok tersebut adalah makhluk dimensi buatan Umbra yang menjadi pembimbing tiap jiwa yang terhukum. Dirinya mengira dia pasti menang, namun apa daya dia masuk ke penjara yang dia buat dengan mantranya sendiri. Sebagai Bumantara jelas dia harus adil dengan aturan yang dia buat dan tidak boleh curang. Dia harus menjalani hukumannya sampai selesai.
"Tiap peserta kalah yang masuk dimensi ini akan bisa pergi ke lantai atas bila mereka sudah selamat. Peserta kalah terakhir memiliki keringanan siksaan dengan tugas menyelamatkan semua peserta sebelum matahari terbit" jelas Bharatta "Bila kau gagal menyelamatkan peserta lain sampai matahari terbit... Kalian akan disini sampai pemenang meminta hukuman kalian diakhiri. Dan pemenang itu adalah aku, sedangkan di lantai atas, aku mendapatkan kepuasan luar biasa dan mungkin tidak akan perduli dengan kalian di lantai ini"