PESTA KEPUTRAAN - PERMAINAN TERAKHIR

636 44 29
                                        

KOMENTARI BILA DITEMUKAN TYPO AGAR BISA SEGERA DIPERBAIKI


RECAP :

Perwakilan Ananta : Ukino, Semino, Merpati, Merak, Rava

Perwakilan Luar : Arwana, Azaleka, Penumbra

Perwakilan Abaria : Bharatta, Sakti

Siluman : Sorak, Sorai, Rahun, Nira, Akselor


Lima Belas Pria di atas melakukan pesta keputraan, melakukan permainan kucing dan tikus dengan menggunakan sihir dimensi milik Bharatta. Permainan dimenangkan oleh Bharatta dan sisanya akan mendapatkan hukuman dengan sihir keadilan.

Dalam dimensi hukuman, para peserta harus saling menyelamatkan. Penumbra menyelamatkan Ukino dari hukumannya, Semino menyelamatkan Merpati dari hukumannya, lalu mereka berempat menyelamatkan Sakti. Setelah menyelamatkan Akselor, mereka berpencar.

Penumbra, Merpati, Akselor, dan Sakti menyelamatkan Azaleka, lalu dihukum menjadi Buto Ijo. Semino dan Ukino pergi menyelamatkan Arwana. Di sisi lain dimensi hukuman, Rahun menyelamatkan Nira dan Sorak, lalu mereka menyelamatkan Azaleka yang disiksa oleh para Buto Ijo termasuk Umbra, Pati, Selor, dan Sakti yang dihukum. Nira berhasil membuat kesadaran Azaleka kembali, dan Azaleka berhasil melepaskan hukuman dari rekan-rekannya yang menjadi Buto, tersisa Sakti. 

Semino, Ukino dan Arwana selesai dengan dimensi mereka dan siap lanjut menyelamatkan pria-pria lain.


POV PENUMBRA

Aku dan rekan yang lain masuk ke dimensi penyiksaan Azaleka untuk menyelamatkannya. Kami merusak permainan dengan membunuh para Buto Ijo yang kami kira harusnya mati. Membunuh makhluk dimensi yang harusnya tidak bunuh membuat kami terhukum. Mendapatkan hukuman menjadi Buto Ijo yang tidak mampu kami kendalikan dan malah menyiksa dan menyusahkan permainan Azaleka.

Saat menjadi Buto, kesadaran kami pergi entah kemana. Tubuh kami bergerak sendiri dalam wujud monster besar yang brutal. Sedangkan pikiran kami tidak pada tempatnya. Kesadaranku melayang,masuk ke alam bawah sadar-ku sendiri yang gelap dan kelam. Entah apakah ini bagian dari siksaan dimensi hukuman ini, atau memang pikiranku mampu masuk ke fase depresif yang menyakitkan.

"Sudah bermain-mainnya Umbra?" terdengar suara lantang di alam bawah sadarku yang gelap. Terdengar seperti suara ayahku, namun lebih berat dan menggema. Suara itu membuatku lemas seakan-akan itu adalah hinaan bertahun-tahun yang di hujatkan kepadaku langsung di depan mata.

Aku duduk dalam kegelapan dan merasa terputus dengan semua akses ke sihirku. Tubuhku tidak mampu mengeluarkan sihir, mulutku tidak mampu merapalkan mantra, bahkan aku tidak mampu mendeteksi apapun dalam alam bawah sadarku ini. Kosong, hampa, sepi, tidak ada apa-apa.

"Aku mendidikmu menjadi petapa hebat, dan kau pakai kekuatanmu untuk membuat dimensi permainan erotis yang menjijikkan" ucap gema suara itu.

"Aku melakukan apa yang bagiku dan takdir benar" jawabku sambil berusaha menyadarkan diri.

"Menurutmu membuat pesta dimana para pria kuat saling menyetubuhi itu benar?" Sosok menyerupai ayahku muncul di depanku, entah itu ilusi dimensi, entah itu sihir, atau itu benar-benar dirinya, akupun tak tahu.

Dia melayang, transparan, wujudnya benar-benar ayahku, suaranya juga.

"Kita para Bumantara tidak memihak mana yang benar dan mana yang salah. Kita hanya menjadi alat agar takdir berjalan sebagaimana yang kita tahu. Dan yang aku tahu, Pangeran Ananta dan Abaria harus punya hubungan baik. Ini salah satu cara yang aku lakukan agar Ananta dan Abaria dapat disatukan oleh dua pangeran itu"

DANAU PELANGICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang