29

13.5K 835 34
                                        

Sudah tiga hari sejak kejadian itu, Lio masih terpukul. Dan selama itu ia hanya diam dikamarnya. Dia tak berani berangkat ke sekolah. Bukan menyesal atau menyalahkan, Lio hanya takut jika kejadian itu di ketahui oleh kalayak. Ia belum siap untuk menjadi bahan olok-olokan. Bahkan, chat serta telepon dari orang terdekat ia abaikan.
Mungkin untuk Elard, lelaki itu baik-baik saja dengan latar belakang lelaki itu. Orang-orang bisa memakluminya. Tapi, bagaimana dengan dirinya? Ia bisa hidup saja sudah bersyukur. Lalu, jika berita itu tersebar dan kalayak menyerangnya, menyalahkannya, ia bisa apa?

Dia hanya orang miskin yang di beri sedikit keberuntungan.

Lio terlalu takut.

Banyak hal yang Lio pikirkan. Semuanya. Semuanya terasa begitu rusuh di kepalanya. Soal teman, sekolah, kerjaan, hutang. Ia berandai jika ia mati apakah beban itu akan hilang? Apakah dirinya bisa tenang?

"Bang, ini makan dulu."

Lynda sedih. Ia tak tahu mengapa pulang dari pesta Lio seperti bukan Lio. Ada yang aneh dari kakaknya itu. Sudah ia tanya ribuan kali namun Lio masih bungkam dan enggan mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan, Lio yang biasanya makan banyak kini tak sesuap pun nasi masuk dalam lambungnya.

"Abang kenapa si, kalo ada masalah tolong cerita ke Lynda. Jangan kaya gini. Aku takut." Ujar Lynda jujur

"Gapapa. " Balas Lio lemah

"Kalo gitu Abang makan dulu ya biar ga nambah sakit. Dua sendok aja gapapa. Yang penting makan ya. " bujuk Lynda

Lio tak menjawab namun menerima mangkuk berisi bubur buatan Lynda. Walau lidahnya terasa pahit ia tetap memaksanya.

"Lu ga sekolah?"

"Ga mungkin aku sekolah kalau Abang kaya gini."

Lio terdiam. Tak seharusnya ia memberatkan Lynda dengan keadaannya sekarang. "Maaf ya."

"Gapapa, yang penting Abang sehat ya." Ujar Lynda. "Kalau udah, minum obatnya ya. Aku udah siapin." Lanjutnya

"Makasih." Lio mengambil tiga butir obat lalu menelannya.

"Abang istirahat lagi biar cepet sembuh." Lynda beranjak dengan nampan berisi makanan Lio yang masih separuh. Ia tak mau memaksa Lio untuk menghabiskan. Lio sudah mau makan dan bicara saja ia sudah bersyukur.

"Lyn?"

"Iya?"

"Kalau mereka dateng jangan biarin mereka masuk ya." Lynda tak menjawab, hanya mengangguk sebelum keluar dari kamar.

Lio tahu jika mereka datang secara bergantian untuk menemuinya. Tapi, Lio terlalu takut bertemu. Ia tak siap dengan tanggapan mereka. Lio terlalu pengecut.

♡♡♡

Elard berjalan lesu menuju ruang yang biasa ia gunakan untuk membolos. Ia menatap datar teman-temannya yang ternyata sudah lebih dahulu sampai.

"Muka lu kenapa bonyok-bonyok kek gitu ?" Tanya Hoshi

"Hooh, tumben lu." Sahut Indra

Elard mengusap wajah kasarnya. Tak perduli dengan rasa perih dari lukanya. Ia frustasi.

Luka yang ada di wajahnya itu ulah Novan. Lelaki itu mendatanginya dan memukulnya tanpa sempat ia menghindar. Dengan umpatan tak berhenti dari lelaki itu. Perkelahian jelas tak bisa terhentikan. Hingga Novan mengumpatinya dengan membawa nama Lio,barulah ia sadar. Setelahnya ia hanya pasrah kena pukulan dari lelaki itu hingga guru konseling datang melerai.

"Ada yang tahu alamat Lio ?"

Mereka terdiam. Yah, beberapa hati terakhir ini Elard sering termenung. Tanpa mereka tanya pun sudah tau apa isi pikiran Elard. Mereka diam karena tak memiliki jalan keluar untuk membantu lelaki itu. Mereka juga sama terkejut nya, bahkan sangat. Kejadian itu memang terlihat di luar akal sehat.

HEAD Over HEELS [BL]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang