Adelio itu cowok yang pekerja keras. Sangking bekerja kerasnya dia sampai di kejar-kejar rentenir. Bukan dia yang utang tapi kedua orang tuanya. Akibatnya, dia harus menanggung semua hutang kedua orang tuanya yang telah meninggal.
Sekolah-kerja-pul...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
♧
Lio mengerang. Ia pikir setelah ia membuat lelaki itu keluar urusannya sudah selesai. Namun ia salah besar. Mereka berakhir di atas ranjang dengan Lio berada dibawah Elard. Suara laknat yang tak hentinya keluar dari mulutnya itu terjadi setiap sentuhan Elard mampu membuat tubuhnya bergetar. Tak ada lagi sedikit celah tubuhnya yang belum di jamah Elard.
"S-stop ngh"
Lio mendorong dada bidang Elard, berharap tubuh itu menjauh dari nya. Suara yang ia tahan, slalu keluar dengan sendiri saat bagian dalamnya di tumbuk dengan keras.
Seolah tuli, Elard menggerakkan tubuhnya dengan cepat. Dia belum puas. Terlalu sayang jika rasa nikmat ini di akhiri begitu cepat. Ia menggeram, mencengkram pinggang ramping Lio, menghantam bagian dalam lelaki itu hingga tubuh Lio terkantuk-kantuk.
Lio menggelengkan kepalanya dengan kedua tangan mencengkram sprai. Kepalanya pusing menerima kenikmatan yang bertubi-tubi. Ia sudah beberapa kali keluar tapi tetap saja Elard mengejar kepuasannya sendiri.
"B-berhenti. Gua hah ga kuat"
Elard mengusap sudut mata Lio yang basah. Berbisik tepat di telinganya dengan kata penenang. "Sebentar lagi."
Lio menggeleng. "Ga kuat uhh"
Lio memeluk punggung Elard dan tanpa sadar mencakar punggung itu dengan kukunya. Kepala Lio mengadah, sepanjang lehernya di kecup basah oleh Elard. Kamar itu begitu berisik dengan suara erotis dari keduanya.
Elard semakin gencar menumbuk tubuh Lio saat di rasa ia akan pelepasan. "Call My name"
"El..uhh hiks" Lio mencengkram bahu Elard seiring cepatnya hentakan yang di terimanya. Elard merendahkan tubuhnya dan memberikan ciuman yang membuat Lio semakin merasa melayang. Dalam beberapa hentakan terakhir sesuatu memenuhi lubangannya dan membuat tubuhnya mengejang lalu bergetar. Lio sudah mencapai batasnya.
"Ahhhh"
"Uuhhhh...eukkkk."
Deru nafas keduanya bersautan. Sungguh gila. Sebelum menutup mata, Lio merasakan jika Elard sempat mencium dahinya dalam sebelum kelopak mata itu tertutup karena kelelahan.
"Thanks."
◇◇◇
Tuh, gua bilang apa mending kita langsung keruang cctv!" Cetus Indra bersedekap dada karena kesal.
"Lu bego apa gimana. Ini rumah orang ga mungkin kita masuk semudah itu." Ucap Novan pedas
"Tapi akhirnya lu pada juga setuju kan." Sahut Indra
Indra memang mengajukan jika ia segera menuju ruang cctv agar lebih cepat dan lebih akurat. Namun sebelum idenya di gunakan, mereka berdebat dengan sengit. Berakhir tak ada cara lain untuk mencari Elard dan Lio. Walau cara mereka tak bisa di bilang dengan cara baik.