35. Harus kah?
.
.
.
"Ngapain lu liatin Kak Elard segitunya? Lu ga mau ikutan jadi saingan gua buat dapetin Kak Elard kan?" Kata Kim
Lio menoleh dengan raut wajah geli. "Stres lu nanya gitu ke gua."
"Habisnya lu natepnya kek mau di mangsa aja sih. Kenapa? Cerita dong." Ucap Kim menyenggol lengan Lio
Lio terdiam sesaat, nampak ragu untuk berucap. "Um gada."
Kim berdecih. "Terus gimana sama om Dominic yang tahu kalau lu ga kerja sama dia lagi ?"
"Gada masalah sih. Dia terima keputusan gua." Balas Lio. Hanya sebatas itu, ia belum yakin untuk mengungkapkan setelah dirinya tidak bekerja dengan Dominic, kini ia beralih pada anaknya. Sialan.
"Terus lu pengangguran dong?" Ucap Kim tertawa ngakak
Lio mendengus. Untuk sekarang lebih baik ia tak memberitahu. Ia juga butuh waktu.
"Tapi Om Dominic baik ya, dia ga nuntut ke lu karena—
Omongan Kim dianggap angjn lalu oleh Lio. Lelaki itu tengah sibuk dengan pikirannya. Entah apa yang terjadi kedepannya, Lio tak tahu. Yang pasti ada keraguan dalam dirinya untuk mengikuti lelaki lebih satu tahun di atasnya itu.
Andai, andai saja orangtuanya tidak meninggalkan hutang yang begitu banyak. Meski mereka tak meninggalkan warisan, itu jauh lebih baik di banding meninggalkan beban yang berat terhadapnya. Mungkin hidupnya tidak seperti sekarang. Banting tulang untuk bekerja. Sampai kapan dia akan bekerja mati-matian seperti ini? Ia juga ingin merasakan masa remaja yang mereka bilang menyenangkan.
Walau, ia memiliki Kim dan Noval yang dekat dengannya, ia rasa itu kurang. Ia juga harus membagi waktunya untuk sekolah, bermain dan bekerja. Itu melelahkan. Tak ayal terkadang ia melupakan perannya sebagai seorang siswa karena terlalu fokus untuk mencari uang. Di bilang iri? Tentu. Ia iri dengan remaja seusianya yang hidup dengan normal tanpa memikirkan biaya hidup.
Kapan semua ini berakhir? Lio muak.
Apalagi sekarang ia terjebak dengan lelaki bernama Elard Navarro Ghazanvar. Lio tak tahu harus bagaimana menerima fakta jika lelaki itu yang membantunya. Entah apa yang di rencanakan lelaki itu terhadapnya. Ia tak mampu menebak.
"Iya kan ?" Lio tersentak lalu mengangguk mengiyakan. Padahal ia tak tahu apa yang di ucapkan perempuan itu. Kim menyipitkan matanya, menatap curiga pada Lio.
"Lu ga dengerin gua ngomong ya?!"
"Dengerin kok." Elak Lio
"Coba ulangin apa yang gua omongin tadi?" Kim mendengus tak mendapati jawaban dari Lio. "Lu tuh ya, gua ngomong panjang lebar Lu malah nggak dengerin. Gimana sih? "
"Kalian ini ya, bukannya memperhatikan yang lain lagi penilaian malah ngobrol mulu!!" Pak Guntur menarik telinga Lio dan Kim secara bersamaan. Kedua remaja itu mengaduh kesakitan.
"Pak, lepasin dong sakit nih." Ucap Kim
"Bisa lepas telinga kita Pak. " imbuh Lio
Pak Guntur pun melepaskannya. Ia mendengus menatap kedua siswa nya yang asik mengobrol di banding memeperhatikan pelajaran. "Kalian berdua ambil penilaian lompat jauh."
"Yah pak kita kan belum latihan." Ucap Kim
"Gada alesan. Atau, lebih milih lari lapangan 10 kali ?" Kata Pak Guntur
Kim hanya pasrah. Alamak remidi dia ini. Sedangkan Lio terlihat santai. Dengan fisiknya ia yakin bisa mendapat nilai yang cukup.
°•••♤•••°
KAMU SEDANG MEMBACA
HEAD Over HEELS [BL]
Teen FictionAdelio itu cowok yang pekerja keras. Sangking bekerja kerasnya dia sampai di kejar-kejar rentenir. Bukan dia yang utang tapi kedua orang tuanya. Akibatnya, dia harus menanggung semua hutang kedua orang tuanya yang telah meninggal. Sekolah-kerja-pul...
![HEAD Over HEELS [BL]](https://img.wattpad.com/cover/342704312-64-k128190.jpg)