36. PINDAH
.
.
.
Lio menatap layar ponselnya beberapa kali. Menatap deretan pesan yang di terimanya, pesan berisi alamat serta nomor apartement Elard. Memastikan sekali lagi jika ia tidak salah datang. Setelah bertarung dengan pikirannya, akhirnya dia mengalah dan pergi ke tempat tinggal lelaki itu.
Di tangannya terdapat kantung plastik berisi makanan. Lelaki itu memintanya membawakan makanan sekalian. Memang merepotkan. Apa tidak bisa lelaki itu memesan lewat ponselnya? Sepertinya Elard memang sengaja melakukannya.
Lio menatap gedung tinggi beberapa meter didepannya. Tinggi dan besar. Lio tak berani membayangkan berapa biaya yang ia harus keluarkan untuk tinggal di gedung itu. Menakutkan. Harus berapa tahun Lio bekerja agar bisa tinggal di apartemen?
Lio segera memasuki gedung tingkat itu. Tak ingin membuat tuan muda disana menunggunya. Menaiki lift dan menekan tombol lantai paling atas.
Sudah lima belas menit Lio berdiri didepan pintu kamar Elard. Ia takut untuk menekan bel di samping pintu. Haruskah ia pulang saja dan mengabaikan ucapan lelaki itu ?
Saat ingin menekan bel, pintu lebih dulu di buka dari dalam.
"Ternyata lu udah nyampe? Kenapa di depan pintu ?" Tanya Elard. Lelaki itu menatap kantung plastik yang di bawanya.
"Lama lu!" Ujar Elard mengambil alih kantung plastik itu
Lio menghela nafas kasar, lalu mengikuti Elard masuk. Matanya menatap apartement mewah milik Elard. Mengagumi dalam diam.
Elard kembali ke ruang tamu dengan piring di tangannya. Ia duduk dan segera menghabiskan makanannya. "Ngapain lu berdiri? Duduk."
"Ngatur mulu!" Gumang Lio
"Ya udah berdiri aja sampai gua selesai makan." Lio mendengus. Ternyata gumangannya didengar. Ia duduk di seberang Elard, masih menganggumi apartement lelaki itu.
Lio menatap jengkel. Ia bosan harus menunggu Elard selesai makan tanpa melakukan apapun. Sedangkan, lelaki itu tak ada rasa bersalah dan begitu menikmati makanan. Tak ada suara apapun selain bunyi alat makan.
Elard mengusap bibirnya setelah selesai menghabiskan makanannya. Ia mengambil map dan melemparkannya di atas meja. "Baca. Yang teliti biar ga kebanyakan bacot nanti."
Lio hampir mengeluarkan umpatannya. Elard benar-benar sialan. Seharusnya sejak tadi lelaki itu memberikannya agar ia tak bosan.
Lio mengambilnya. Ah, ternyata surat perjanjian. Ia menatap Elard yang juga tengah menatapnya. Segera ia membaca surat perjanjian itu dengan teliti. Tak ingin di rugikan.
Elard hanya diam menikmati raut wajah Lio yang tengah serius membaca perjanjian itu. Di temani sebatang rokok yang terhimpit di kedua jarinya. Hal yang akan ia lakukan setelah makan.
Lio menutup map tersebut. Ia menatap tepat pada netra lelaki di seberangnya. "Kenapa? Kenapa lu ngelakuin ini?"
Elard menghembuskan asapnya ke udara. "Gua udah bilang ga ada kan."
Jemari Lio saling bertautan. Ia tak tahu jalan pikiran Elard hingga membuat perjanjian seperti itu. Ia, entahlah Lio tak bisa mengutarakan emosi yang ia rasakan. Marah, takut, gelisah, senang menjadi satu.
"Gimana menurut lu tentang perjanjiannya?" Tanya Elard dengan tenang
Perjanjian itu memang berisi tentang Lio dan Lynda yang harus bekerja di bawah Elard dengan beberapa syarat yang tidak membebankan Lio. Namun, ada satu poin yang membuat tak mampu berkata.
KAMU SEDANG MEMBACA
HEAD Over HEELS [BL]
Teen FictionAdelio itu cowok yang pekerja keras. Sangking bekerja kerasnya dia sampai di kejar-kejar rentenir. Bukan dia yang utang tapi kedua orang tuanya. Akibatnya, dia harus menanggung semua hutang kedua orang tuanya yang telah meninggal. Sekolah-kerja-pul...
![HEAD Over HEELS [BL]](https://img.wattpad.com/cover/342704312-64-k128190.jpg)