Entah bagaimana awalnya, Lio bisa mabuk. Ia hanya ingin minum karena makanan yang ia makan terlalu pedas, sampai tak menyadari jika yang dia minum adalah minuman keras yang Elard simpan dalam lemari es. Salahkan saja lelaki itu, mengapa menyimpan minuman itu dalam botol yang biasa ia gunakan untuk minum?! Apakah dia sengaja?
"Lu beneran mabuk? Kenapa lu ga cium atau lihat dulu apa yang lu minum, bego!" Ucap Elard mendorong dahi Lio
Lio tak menjawab. Hanya sekedar berdiri tegak saja rasanya tak mampu. Kepalanya terasa pusing. Di tambah omelan Elard yang tiada henti.
"Cupu banget lu minum segitu udah kobam."
"Mmm" Lio hanya bergumang dan berusaha agar tak terjatuh di dinginnya lantai. Tangannya meraba dinding untuk membantunya berjalan.
"Mau gua bantu?" Tanya Elard merasa kasihan melihat Lio yang beberapa kali ingin terjatuh.
"Panas" gumang Lio
Elard menghela nafasnya kasar. Ia memiliki alasan mengapa menaruh minuman itu dalam botol minum. Ya karena agar tak ketahuan oleh orang tuanya jika mereka tiba-tiba datang tanpa memberi tahunya. Tapi memang salahnya ia lupa mengembalikan botol itu di tempat biasanya.
Ia sudah terbiasa hidup sendiri jadi ia lupa jika sekarang sudah ada dua orang lagi dalam rumahnya.
"Sini gua bantu. " Elard menarik tangan Lio pelan. Namun karena Lio tak sanggup menyeimbangkan tubuhnya jadi ia limbung ke arah Elard.
"Berat juga lu." Ucap Elard yang hanya di balas gumangan dari Lio
Elard membawa Lio ke kamar mandi.
"Diem bentar anjir." Ucap Elard karena Lio terlalu banyak bergerak. Ia mendekatkan wajah Lio pada wastefel agar memudahkan membasuh wajah lelaki itu setelah sempat muntah. "Sini cuci dulu muka lu."
"Dingin" gumang Lio
"Sadar bego! Cupu banget."
Dengan susah payah akhirnya Elard berhasil membawa Lio dalam kamarnya. Sebenarnya ia bisa saja mengangkat tubuh lelaki itu, hanya saja Lio terlalu banyak gerak membuatnya kesusahan.
Ia membaringkan tubuh Lio pada ranjangnya. "Tunggu disini. Gua ambil air buat bersihin tubuh lu."
Elard kembali ke dapur. Ia mengambil baskom yang telah ia isi air dan sebuah handuk. Hal ini sudah ia sering lakukan karena setiap temannya mabuk ia akan mengurusnya. Begitu pun sebaliknya.
Kembali ke kamar, ia di buat bengong oleh tingkah lelaki yang tengah berbaring di ranjangnya. Sialan, mengapa lelaki itu berbuat hal semacam itu. Lebih parahnya ia ketahui.
"Um huh." Suara berat terdengar di malam sepi itu. "Ga mau keluar. Panas." Lanjutnya dengan nada rengekan
Sudah berapa kali Elard mengumpat dalam hatinya. Mana tahan dia melihat secara jelas apa yang di lakukan Lio.
Elard membuang nafasnya kasar. Jika ia berada dalam satu ruangan dengan Lio semakin di buat gila dirinya. Niat hati ingin segera keluar dari kamar itu, namun suara nafas berat dan desahan itu membuatnya panas dingin.
"Huh mana gua tahan kalau gini. Jangan salahin gua ya Yo." Elard mendekat ke arah ranjang dan menaruh baskom sedikit kasar hingga air nya tumpah ke lantai.
Satu kakinya berada di ranjang. Menatap dalam ke arah Lio. "Mau gua bantuin?" Pertanyaan bodoh itu keluar dari mulutnya
Karena terpengaruh minuman, Lio hnya mengangguk dengan tatapan polos dan sayunya. Ia tak tahan.
"Tapi ada syaratnya." Ucap Elard
"Em apa?"
"Jangan salahin gua."
KAMU SEDANG MEMBACA
HEAD Over HEELS [BL]
Ficção AdolescenteAdelio itu cowok yang pekerja keras. Sangking bekerja kerasnya dia sampai di kejar-kejar rentenir. Bukan dia yang utang tapi kedua orang tuanya. Akibatnya, dia harus menanggung semua hutang kedua orang tuanya yang telah meninggal. Sekolah-kerja-pul...
![HEAD Over HEELS [BL]](https://img.wattpad.com/cover/342704312-64-k128190.jpg)