Kakak Perempuan
Ogen kembali ke tempat pembagian makanan.
“Aku ingin makanan yang diberikan kepada pengawal,” ucap Ogen.
“Baiklah, tunggu sebentar!” jawab orang tersebut.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya orang itu menyerahkan makanan kepada Ogen.
“Terima kasih,” kata Ogen sambil segera kembali ke Adri dan Reiga.
Adri dan Reiga hanya diam dan mulai makan bersama dengan Ogen.
Setelah pesta selesai dan para tamu undangan pulang, Reiga dan Ogen berjalan bersama menuju gerbang keluar. Sesampainya di gerbang, mereka berpisah karena jalan pulang mereka berbeda arah.
Reiga melangkah melewati jalur yang dipenuhi pepohonan. Angin malam berembus kencang, menambah dinginnya suasana.
Saat sedang berjalan, Reiga mendengar suara pertarungan. Tanpa ragu, ia mengikuti suara tersebut dan tiba di lokasi pertarungan. Ia bersembunyi di balik pohon, memperhatikan dengan saksama. Di depannya, seorang wanita dikelilingi oleh sepuluh perampok.
Para perampok menyerang wanita itu bergantian dan kadang bersamaan. Reiga melihat wanita tersebut mulai terluka akibat beberapa serangan senjata tajam. Ketika salah satu perampok menyerang dari titik buta, Reiga segera berlari dan menendangnya hingga terjatuh.
Tanpa menunggu lama, Reiga mulai melawan para perampok itu. Dengan kecepatan dan keahliannya, ia mampu mengalahkan mereka tanpa kesulitan berarti. Hanya dalam beberapa detik, seluruh perampok telah dikalahkan.
Reiga segera memeriksa keadaan dan menemukan seseorang terluka parah. Kepalanya tertusuk anak panah, tergeletak di atas kereta kencana.
“Apakah kamu baik-baik saja?” tanya Reiga kepada wanita tersebut, matanya terfokus pada luka-lukanya.
“Iya, terima kasih,” jawab wanita itu.
“Siapa dia?” tanya Reiga sambil menunjuk pria yang tergeletak dengan kepala tertusuk.
“Dia pengawalku,” jawab wanita tersebut.
“Kamu terluka. Apa ada sesuatu di keretamu yang bisa digunakan untuk mengobati lukamu?”
Wanita itu mengangguk. “Ada beberapa kain.”
“Boleh aku mengambilnya?”
“Silakan.”
Reiga mengambil kain tersebut dan mulai membungkus luka-luka wanita itu dengan cermat.
“Kalau boleh tahu, siapa namamu?” tanya wanita tersebut.
“Aku Juya,” jawab Reiga sambil terus membalut luka.
“Aku Kariza. Salam kenal,” ucap wanita itu, tersenyum.
“Iya,” jawab Reiga singkat.
Kariza menatap Reiga, terpukau oleh keahliannya, dan tanpa sadar terpesona oleh ketampanannya.
“Selesai,” kata Reiga.
“Kak Kariza!” panggil Reiga ketika Kariza tampak melamun.
“Eh? Iya, ada apa?”
“Kak Kariza melamun. Memangnya kenapa?”
“Tidak apa-apa, Juya.”
“Kalau begitu, Kakak dari wilayah kerajaan mana?”
“Aku dari wilayah utara.”
“Tidak jauh dari sini. Aku akan membantu Kakak.”
“Benarkah? Terima kasih.”
“Aku akan memasukkan jenazah pengawalmu ke kereta. Apa Kakak keberatan?”
“Tidak, tapi aku akan duduk di mana?”
“Itu terserah Kakak.”
“Kalau begitu, aku akan duduk di depan bersamamu.”
“Baiklah.”
Reiga memasukkan jenazah ke dalam kereta, lalu duduk di depan bersama Kariza. Ia mulai mengendarai kereta yang ditarik kuda. Namun tanpa sadar, Kariza terus mendekat, meskipun Reiga sudah menjaga jarak.
Setelah perjalanan singkat, mereka tiba di gerbang kerajaan utara. Seorang wanita bernama Tisya bersama para pengawal sudah menunggu di sana.
Kariza segera memberi perintah kepada para pengawal. Mereka membawa jenazah masuk.
“Apa yang terjadi?” tanya Tisya penasaran.
“Ceritanya panjang,” jawab Kariza singkat.
“Bagaimana Kakak bisa bersama Juya?”
“Dia menyelamatkanku.”
Mendengar itu, Reiga hanya terdiam.
Tisya memandang Reiga, lalu berbisik dalam hati, Mungkin mereka saudara.
Kemudian, Kariza menawari Reiga, “Maukah kamu menjadi pengawalku?”
Semua terkejut, terutama Tisya.
“Kakak?!” seru Tisya.
“Maaf, aku tidak bisa,” jawab Reiga tegas.
“Kenapa?”
“Aku bukan pengawal tetap. Aku hanya bekerja kalau butuh.”
“Kalau begitu, jika butuh sesuatu, kabari aku!”
“Iya. Permisi.”
“Hati-hati di jalan.”
Kariza masih tersenyum, sementara Tisya menatap penuh rasa penasaran yang bercampur cemburu.
Di sekolah Fuso keesokan harinya, berita kembalinya Kariza, mantan Ketua OSIS yang juga kakak Tisya, menjadi pembicaraan hangat. Kariza berjalan-jalan di sekolah, menarik perhatian banyak murid. Ketika sampai di tempat biasa Ogen, Adri, dan Reiga berkumpul, ia memilih duduk dan beristirahat di sana.
Beberapa saat kemudian, mereka bertiga datang.
“Ogen!” sapa Kariza.
“Kak Kariza, ya?”
“Bagaimana kabarmu?”
“Baik. Sepertinya Kakak sedang ceria.”
“Benar. Kurasa aku jatuh cinta.”
“Begitu ya.”
“Aku bertemu dengannya di perjalanan.”
Ogen mengangguk, sementara Adri dan Reiga tetap diam.
“Namanya Juya.”
“Hm?!” Ogen dan Adri sontak terkejut, sementara Reiga hanya menoleh dengan ekspresi bingung.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Modest Knight
AcciónIni adalah kisah tentang upaya individu berumur 16 tahun bernama Reiga yang mempertanyakan struktur hierarki sosial. Di dunia yang terbagi dalam tiga tingkatan status: Prota yang berada di atas, Conta yang berada di tengah, dan Figu yang berada di b...
