29

4.3K 114 0
                                        

Adelard dan Biru.

Kedua pria tampan berbeda usia itu berjalan memasuki sebuah ruangan dengan ekspresi dingin.

Kedua nya dilanda keheningan, hingga sampai di depan sebuah pintu yang menjulang tinggi. Kedua nya di sambut oleh dua orang bodyguard yang dengan setia berjaga di depan pintu tersebut.

Kedua bodyguard berperawakan besar itu menunduk melihat kedatangan tuan mereka, "Selamat malam tuan." sapa mereka formal. Mereka tentu tau maksud dan tujuan Adelard datang kesini. Ah seperti nya malam ini mereka akan bergadang lagi.

Adelard hanya memandang datar tanpa niat menjawab, "Buka." perintah nya.

Kedua bodyguard itu mengangguk patuh. Salah satu dari mereka mengeluarkan sebuah kunci dari saku mereka. Setelah nya membuka pintu tersebut.

Gelap, bau, dan sunyi.

Tiga kata itu langsung mendeskripsikan keadaan ruangan ini.

Ekspresi wajah Biru dan Adelard semakin mendingin ketika melihat pemandangan didepan nya.

"Siap bermain?" Adelard berujar dingin seraya menggulung lengan kemeja putih nya. Sengaja ia mengenakan kemeja berwarna putih.

Biru tersenyum miring, "Tentu." Yah! ini akan sangat menyenangkan. Dan Biru semakin tidak sabar.

Ke empat remaja itu tampak sangat mengenaskan, dengan keadaan tubuh yang sudah di penuhi darah bahkan ada yang kehilangan salah satu anggota tubuh nya.

"Tolong! ampuni kita Biru!"

"Kami menyesal hiks."

"Bebaskan kami! kami minta maaf."

"Hiks sakit!"

Biru menatap mereka dingin, "Menyesal?" lirih nya.

"Lepasin gue Biru! gue nyesel, gue minta maaf! gue bakal ngelakuin ap--"

Tus

Pisau di tangan Biru menembus jantung pria itu dengan tepat. Setelah nya ia mencabut pisau nya, lalu menusuk nya kembali dibagian wajah, dan bagian tubuh lain nya.

"Berisik." Biru mendengus dingin.

Ke tiga pria yang tersisa menangis ketakutan. Mereka bahkan sudah bergetar hebat melihat teman nya dibunuh dengan santai didepan mereka.

Dari belakang Adelard berjalan mendekati Biru dan berdiri di samping nya.

Biru mengelus pisau di tangan nya sembari tersenyum menyeramkan, "Hm, ingin pergi dengan cara apa?" kata nya pelan.

Tus

"ARGHHHH!"

Tus

"ARGHHHH!"

Pisau milik Biru menembus mata Theo dengan tepat.

Kedua bola mata milik pria itu keluar dengan terpaksa diikuti dengan darah milik nya. Dan diinjak oleh Adelard dengan santai.

"Huekk!" kedua pria yang tersisa memuntahkan isi perut mereka.

"Mata ini bukan yang melihat tubuh putri ku hm?"

"Hiks! cepat bunuh gue. Ini sakit arghhh." Theo terisak keras.

Biru menjambak rambut Theo, "Bunuh? ah rupa nya dia sudah tidak sabar." Biru melirik Adelard dan menyerah kan pisau ditangan nya pada Adelard.

Adelard menerima nya dengan senang hati. Lalu menggores wajah Theo dengan asal. Setelah wajah nya rusak, Adelard menusuk lehar Theo.

"ARGHHHH!"

AlbiruTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang