36

3.6K 139 6
                                        

Gelora bilang pada Biru ia sudah pulang dijemput oleh mang Ujang. Tapi sebenar nya ia berbohong.

Gadis dengan rambut basah yang di gerai itu berjalan dengan sedikit pinjang. Seragam sekolah nya di tutupi oleh hoodie berwarna hitam kebesaran milik Biru. Sengaja ia pakai agar seragam nya yang sudah rusak dan kotor tidak terlihat.

Gelora berjalan tanpa arah. Mungkin sudah ada bermenit-menit ia berjalan tanpa tujuan.

Orang-orang yang melewati nya melirik nya aneh. Cantik tapi tidak pantai merawat diri, mungkin itu yang mereka pikirkan setelah melihat kondisi Gelora.

Tin tin

Suara klakson motor terdengar, tapi Gelora tetap berjalan dengan wajah datar. Hingga sebuah motor berhenti di samping nya. Lebih tepat nya mengikuti nya dengan pelan.

"Hai!"

Gelora menoleh, mata kosong nya menemukan seorang pria yang pernah ia temui. Gelora ingat! dia Leon.

"Sendiri aja?" Gelora berhenti, dan Leon ikut berhenti.

"Menurut lo." saut nya datar.

Leon terkekeh kecil, "Sendiri sih, mau gue anter?" tawar nya.

"Gak."

"Lo lagi berantakan gini masih aja nolak. Ayo gue anter, atau mau gue bawa ke dokter dulu?" Leon melirik Gelora dari atas hingga bawah. Kaki gadis itu seperti nya terluka hingga ia kesusahan berjalan.

"Gak perlu." jawab Gelora.

"Gue maksa, kalo lo gak mau ke dokter. Ayo gue anter pulang."

Gelora menatap Leon lama. Gadis itu membuang wajah nya ke samping. Memperhatikan ramai nya lalu lintas sore ini.

"Ayo!" paksa Leon.

Gelora menghela nafas pelan. Ini sudah sore, tidak mungkin ia terus berjalan tanpa arah seperti ini.

"Oke." Leon tersenyum puas, "Naik, atau mau gue gendong?" goda nya seraya tersenyum jail.

Gelora tidak menjawab. Dengan sedikit kesusahan ia naik ke motor Leon.

"Pegangan." perintah Leon tapi hanya di anggap angin lalu oleh Gelora.

Leon berdecak. Lalu segera menjalan kan motor nya, menerobos ramai nya kota di sore hari ini.

•°•°•°

Sesampai di mansion Megantara hanya kesunyian yang menyambut Gelora. Gelora bersyukur karna mansion sedang sepi. Dengan pelan ia menaiki lift, hingga tiba di kamar nya.

Sesampai di kamar, ia meletakan tas nya di kasur. Lalu berdiri didepan cermin. Hoodie nya ia lepas, begitu juga seragam nya. Hingga menyisakan tank top.

Gadis itu melirik datar bekas kemerahan bercampur kebiruan yang berada di leher nya. Lalu turun ke bagian dada nya yang memerah juga. Bekas itu ulah dari perbuatan Katrina dkk.

Mata nya memperhatikan kaki nya yang juga memerah. Lalu tangan nya memegang rambut panjang nya yang rontok beberapa helai. Ini juga karna Katrina.

Ingatan nya menerawang ke kejadian 3 jam yang lalu. Setelah puas membully nya, Katrina dkk pergi seraya tertawa senang. Sekelompok jalang, yah jalang itu menertawai nya dan puas melihat nya seperti ini. Sakit, rasa nya tubuh Gelora seperti di remuk paksa.

Gelora menghela nafas, "Aku-" ia menatap cermin.

"Aku gak tau lagi." bisik nya pada diri sendiri.

"Kenapa?"

AlbiruTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang