Amora meninggal.
Kabar itu mengguncang seluruh Maximilian International school.
Seluruh murid masih tidak menyangka bahwa gadis itu akan meninggal dengan cara tragis. Banyak dari mereka yang mempertanyakan penyebab meninggal nya Amora. Sebagian dari mereka tidak setuju dan tidak percaya kalau Gelora yang mendorong gadis itu, tapi kebanyakan setuju dan percaya jika Amora di dorong oleh Gelora.
Lorong, kelas, dan seluruh tempat berisik dengan obrolan para murid yang sibuk membahas berita meninggal nya Amora.
"Gue percaya kalo yang dorong si Amora itu Gelora!"
"Gila si pembunuh tuh cewek."
"Tapi mereka 'kan sahabat masa tega si?"
"Jahat banget anjir!"
"Ga nyangka Amora temenan sama orang kaya gitu."
"Najis!"
Dan masih banyak lagi obrolan mereka.
Sedangkan yang dibicarakan saat ini baru tiba di parkiran.
Biru menatap Gelora lama, "Kamu yakin?" tanya nya.
Gelora menghapus air mata nya, "Aku yakin Al! aku bisa ngadepin semua ini. Aku bakal buktiin kalo aku gak salah." ujar nya dengan mata sembab. Gadis itu juga shock berat mendengar kabar bahwa Amora meninggal. Sungguh ia tidak baik-baik saja.
"Aku gak mau kamu kenapa-kenapa sayang." bisik nya seraya memeluk erat gadis nya.
"Aku gak papa. Kalo aku sembunyi mereka semakin nuduh aku Al."
"Tapi say-"
"Sttt." Gelora meletakkan jari telunjuk nya di bibir Biru, "Aku yakin Al, aku bisa ngadepin mereka." lanjut Gelora.
Biru berdecak kesal, "Aku izinin. Tapi kalo ada yang nyelakain kamu, jangan larang aku buat balas mereka." kata nya dengan wajah datar.
Gelora tidak menjawab. Gadis itu membuang wajah nya asal seraya menghela nafas berat.
Klik
Biru membuka safety belt Gelora. Cowok itu menggenggam tangan Gelora lalu mengecup nya dengan sayang.
"Ayo."
Gelora mengangguk kecil. Gadis itu membiarkan Biru keluar dari mobil dan membuka kan pintu mobil.
Gelora turun. Dan Biru langsung menyambut nya, cowok itu memeluk pinggang nya posesif. Baru beberapa langkah Gelora sudah mendengar bisikan murid yang menggunjing nya.
"Gila! masi punya muka dia anjir!"
"Ih gak malu tuh cewek!"
"Kok dia santai banget si, setelah bunuh temen nya!"
"Minimal malu anjing!"
"Dia kok gak di tahan polisi sih."
Biru mengepalkan kan tangan nya, cowok itu ingin melepaskan tangan nya dari pinggang Gelora dan membalas omongan mereka. Namun Gelora mendongak dan menggeleng pelan.
Ia berdecak geram, jika Gelora tidak melarang nya. Entah kejadian malang apa yang menimpa sekumpulan murid tersebut.
Kedua nya terus berjalan hingga di koridor. Di sepanjang jalan bisik-bisik semakin terdengar.
"Ih kok Biru masih mau sama pembunuh?"
"Kalo gue jadi Gelora malu si."
"Gelora=hama!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Albiru
Ficțiune adolescențiHanya kisah sederhana tentang Albiru Alterio Maximilian, yang sangat mencintai Gelora Steviona Megantara.
