33

4.1K 88 2
                                        

Gelora merebahkan tubuh nya di kasur kesayangan nya. Ia merentangkan kedua tangan nya menikmati kelembutan dari kasur nya.

Pikiran nya melayang pada kejadian yang menimpa nya di sekolah tadi. Gelora tidak mengerti, kenapa banyak sekali orang yang tidak menyukai dan menganggu hidup nya.

Gelora bahkan tidak pernah menganggu dan mengusik kehidupan orang lain. Ia selalu melakukan yang terbaik agar orang-orang disekitar nya tidak membenci diri nya.

Tapi mengapa? mengapa mereka mengusik hidup nya. Gelora hanya ingin hidup tenang, bahagia bersama orang-orang yang di sayangi nya. Kenapa se sulit itu?

Gelora bahkan belum baik-baik saja sampai sekarang. Ia masih terpuruk, tapi masalah baru kembali menghampiri diri nya. Sesuka itu kah pada Gelora?

Amora.

Nama gadis itu terlintas di pikiran Gelora.
Sampai sekarang Gelora tidak mengerti, tidak mengerti kenapa sahabat nya itu tiba-tiba membenci nya. Apa selama ini Gelora egois karna merebut semua perhatian semua orang? tapi Gelora tidak mempunyai maksud seperti itu. Ia juga tidak ingin sakit dan mengalami hal menjijikan seperti ini. Gelora tidak ingin!

Rasa nya sangat menyakitkan melihat orang yang selalu mendukung, bersama dan menyayangi nya tiba-tiba membenci nya. Rasa nya sangat sakit, Gelora bahkan tidak bisa menjelas kan nya.

Tes

Setetes air mata nya jatuh tanpa bisa dicegah. Jauh di lubuk hati nya ia ingin hubungan nya dan Amora membaik. Ia ingin kembali seperti dulu. Apa Gelora memang sejahat itu?

Sampai sekarang Gelora masih menganggap Amora sahabat nya. Ia tidak munafik, tapi ia benar-benar tidak membenci gadis cantik itu. Gelora tidak ingin Amora terluka, terluka karna Biru dan Adelard. Gelora takut, takut jika kejadian itu sampai di telinga Adelard.

"Gue harus bicara sama Amora." gumam nya pada diri sendiri.

Tok tok tok

Suara ketukan dari pintu kamar nya membuat Gelora menoleh. Gadis itu bangun dari tempat tidur, lalu berjalan membuka pintu.

"Selamat malam nona." suara hangat dan senyum lembut Hera menyambut indra pendengaran dan penglihatan Gelora.

"Malam bi." sapa nya balik seraya tersenyum.

"Mengapa nona belum turun untuk makan malam? saya hanya khawatir jika nona jatuh sakit." Hera menjelaskan tujuan nya mendatangi Gelora.

Gelora tersenyum kecil. Bersyukur karna dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangi dan memperhatikan nya.

"Iya bi. Ini Lora mau turun." jawab nya. Lalu segera berlalu untuk turun kebawah dan melakukan makan malam.

•°•°•°•°

12.45

Reano melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan nya. Cowok itu menyugar rambut nya asal. Di tangan nya ada nikotin yang sudah mulai habis karna sudah ia hisap sedari tadi.

Reano membuang nikotin tersebut. Ia merogoh saku celana nya, mengeluarkan ponsel nya.

Tangan cowok itu berselancar di media sosial. Menghilangkan kebosanan yang melanda nya.

Beberapa menit kemudian Reano kembali menyimpan ponsel nya. Ia berdiri dari bangku yang diduduki nya. Lalu meletakkan uang di meja.

"MANG UCOK! INI DUIT NYA!" teriak nya.

"TARUH DISITU SAJA DEN. SAYA LAGI BOKER!" jawab mang Ucok.

Reano menggeleng tak abis pikir, "Jadi pengen boker juga." ucap nya pada diri sendiri. Setelah meletakan uang nya tadi, ia berjalan mendekati motor nya. Menyalakan mesin dan berlalu meninggalkan warung langganan nya.

AlbiruTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang