39

4.6K 159 26
                                        


Biru, Reano dan Raga tiba di mansion Megantara. Ketiga pria tinggi itu masuk dengan terburu-buru dan nafas yang tidak beraturan.

Hera yang baru saja turun dari lift berkerut heran, "Tuan muda? mengapa terburu-buru?" tanya nya bingung.

"Gelora hilang."

"Hilang?" ulang Hera bingung. Sedetik kemudian ia terkekeh geli, "Nona di kamar tuan, baru saja tiba." sambung Hera tak abis pikir. Apa nya yang hilang, jika nona nya baru saja pulang.

"Lah dikamar?" tanya Reano bingung. Ia menggaruk kepala nya yang tak gatal.

Raga menghela nafas lega, "Syukur lah." ujar nya.

"Ya, tuan muda."

Biru tidak berkata apapun. Ia bergegas menuju kamar Gelora. Setiba nya di kamar, Biru menemukan gadis itu yang sedang duduk di depan cermin seraya menyisir rambut nya.

"Sayang!" panggil nya lalu memeluk gadis nya itu dengan erat.

"Kamu kemana? kenapa pulang gak bilang? kenapa gak pulang sama aku?" cecar nya penuh ke khawatiran.

Gelora mendongak, "Emm hehe, maaf Biru. Perut aku sakit, terus aku bad mood jadi aku pulang duluan." ungkap nya seraya menyengir kecil.

Biru menghela nafas pelan, "Kamu buat aku khawatir sayang." keluh nya seraya mengelus pipi Gelora lembut.

Gelora menyengir, "Maaf Biru." kata nya.

Biru tersenyum tipis. Tapi senyum nya menghilang ketika menyadari sesuatu.

"Biru?" kening nya berkerut tidak suka. Apa-apaan panggilan itu.

"Kenapa?"

"Al! bukan Biru." cetus Biru tegas.

Gelora menepuk kening nya, "Astaga, iya-iya Al!" sahut nya tertawa geli.

Biru tersenyum tipis, "Lain kali bilang sama aku kalo ada apa-apa. Jangan buat aku khawatir sayang." ujar nya lembut.

Gelora terdiam cukup lama. Ia menatap wajah Biru dengan pipi yang sudah merah merona, "Iya maaf Al." ucap Gelora lembut. Gadis itu memeluk Biru erat.

"It's okay." Biru tersenyum.

•°•°•°

Hera menatap Gelora yang sedang memakai sepatu, "Nona tidak ingin sarapan dahulu?" tanya nya.

Gelora tidak langsung menjawab. Ia menyelesaikan kegiatan nya terlebih dahulu.

"Nggak." sahut nya setelah selesai.

Hera mengangguk mengerti, "Tuan Adelard sudah pergi keluar negeri kembali nona, tadi tuan ingin pamit kepada nona. Tetapi nona masih tertidur, seperti nya tuan tidak tega membangunkan nona." jelas Hera.

Gelora terdiam sebentar, ia menatap sepatu nya lama. Seolah sedang mengingat sesuatu. Tak lama kemudian ia mengangguk mengerti.

"Saya hanya tidak mau nona bersedih karna tuan tidak pamit kepada nona." timpal Hera tersenyum lembut.

"Yah, gak masalah kok." ujar nya ringan.

"Aku ngerti." lanjut Gelora. Ia mengambil ponsel nya, mengecek apakah Biru ada mengirimi nya pesan.

Ting

Al
• aku di bawah sayang

Gelora tersenyum senang, ia segera menyimpan ponsel nya. Gadis itu segera memasuki lift, meninggal kan Hera yang menatap nya dengan pandangan penuh arti.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 20, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

AlbiruTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang