Gelora berdiri di depan cermin. Gadis itu tampak sibuk menyisir rambut panjang nya.
"Kamu beneran mau sekolah?" tanya Biru memandang Gelora khawatir.
Gelora berbalik. Gadis itu berdecak, "Astaga Al! aku beneran mau sekolah." jawab nya mulai merasa kesal, karna sedari tadi Biru sudah menanyakan hal sama berulang kali.
Biru berdiri dari duduk nya. Cowok itu berjalan mendekati Gelora lalu memeluk nya dari belakang.
Ia mendusel di ceruk leher gadis nya, "Aku khawatir sayang." bisik nya serak.
"Aku gak papa Al!" bohong. Semua orang juga tau jika hal yang diucapkan Gelora adalah sebuah kebohongan.
"Sayang, libur ya?" bujuk nya dengan wajah memelas.
"Nggak! pokok nya aku mau sekolah!" tolak Gelora tegas seraya melepaskan pelukan Biru.
Biru menghela nafas berat, "Oke kamu sekolah. Tapi kalo ada apa-apa langsung telpon aku!" kata nya panjang lebar.
Gelora tersenyum manis, "Iya sayang." kata nya.
Biru mematung sejenak. Semburat merah menjalar di telinga dan seluruh wajah nya, "Ekhem." ia berdehem. Lalu kembali memeluk Gelora, menyembunyikan wajah nya di leher gadis nya.
"Sayang! aku malu." rengek nya.
Pecah sudah tawa Gelora di pagi hari ini. Melihat Biru seperti ini sangat tidak cocok dengan tubuh nya yang kekar dan kepribadian nya yang dingin.
"Lucu banget pacar aku!" puji Gelora mengelus rambut Biru dengan lembut.
Biru berdehem. Segera ia melepas pelukan nya, lalu mengubah ekspresi wajah nya kembali datar.
"Ayo!" ajak nya.
"Bentar!" Gelora berbalik. Ia merapikan rambut nya yang sedikit berantakan, lalu mengambil sebuah lipbalm dan memoles kan nya di bibir nya.
Dari belakang wajah Biru berubah kesal ketika melihat gadis nya semakin terlihat cantik. Sial! Biru tidak suka melihat Gelora semakin cantik. Bagaimana jika nanti banyak lalat yang melihat kecantikan nya? bagaimana jika lalat itu mendekati Gelora dan merebut nya? berbagai pikiran lebay menghantui isi kepala Biru.
Tapi, cowok itu segera menepis isi pikiran nya. Kenapa Gelora harus berpaling? sedang kan gantengan juga diri nya? kaya? sudah jelas! pintar? jangan di tanya lagi! jadi mana mungkin Gelora-nya berpaling. Lagipula jika gadis nya berpaling ia akan mengejar dan memaksa nya untuk menjadi milik nya kembali. Diam-diam Biru tersenyum puas, bangga dengan isi pikiran nya.
Gelora yang sudah siap berbalik. Gadis itu berkerut heran melihat Biru yang tersenyum manis pada nya. Bukan apa, tapi malah terkesan horor.
"Ayo baby!" Biru menggenggam tangan mungil Gelora. Lalu merengkuh pinggang ramping nya.
Kedua nya berjalan meninggalkan kamar Gelora. Pagi ini mansion kembali sepi, karna Adelard sedang pergi ke Australia. Mengurus perusahaan nya yang berada disana. Diam-diam Gelora bersyukur, karna sang daddy sedang tidak ada disini. Gelora hanya tidak ingin jika Adelard mengatahui hal yang menimpa nya. Dan membalas nya pada Amora. Meskipun Gelora tau jika Adelard memiliki banyak mata-mata yang selalu mengawasi. Ya semoga Adelard belum membalas perlakuan Amora.
•°•°•°•°
Gelora dan Biru sampai di sekolah.
Setiba nya mereka di sekolah, kedua nya langsung menjadi bahan perhatian. Beberapa murid ingin menggunjing Gelora, namun tidak berani ketika melihat Biru yang berdiri disamping gadis itu dengan wajah dingin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Albiru
أدب المراهقينHanya kisah sederhana tentang Albiru Alterio Maximilian, yang sangat mencintai Gelora Steviona Megantara.
