34

4.6K 105 5
                                        

Beberapa murid yang berada di bawah dan menyaksikan jatuh nya Amora berteriak histeris.

Separuh dari mereka berlari menuju rooftfop. Dan menemukan Gelora dalam keadaan berantakan seraya menangis.

"Heh lo 'kan yang dorong Amora!" salah satu gadis mendatangi Gelora. Gadis itu memandang Gelora tak suka.

"Gila ya lo! temen sendiri di dorong!"

"Dimana otak lo!"

"Jahat banget anjir."

"Otak nya gak ada!"

"Jijik banget ih liat nya."

Mereka berseru heboh menyudutkan Gelora. Gelora diam, tidak bisa mengeluarkan suara nya untuk membela. Ia masih shock melihat kondisi Amora tadi.

Dari arah belakang Alexia dan Agatha datang. Agatha langsung memeluk Gelora yang masih terisak.

"DIAM BANGSAT!" teriak Alexia menggelegar. Beberapa dari murid tersentak kaget dan menutup mulut mereka. Tapi ada juga yang masih berbisik-bisik.

"Lo tenang Ra." ujar Alexia lalu memberi kode pada Agatha untuk segera pergi dari rooftfop.

Mereka bertiga pergi meninggalkan sorakan murid yang semakin berseru heboh.

"HUUUUUUUUU!"

•°•°•°•

Dikarenakan peristiwa yang terjadi hari ini. Pihak sekolah memutus kan untuk memulangkan seluruh murid dengan cepat.

Amora sudah dibawa kerumah sakit untuk di tangani. Kondisi gadis itu sangat parah dan juga kritis. Hanya tuhan yang tau gadis itu masih bisa bertahan hidup atau tidak.

Sekolah mulai sepi. Seluruh murid sudah berpulangan. Menyisakan Gelora dan kedua sahabat nya yang saat ini masih berada di kelas.

"Gu-gue gak dorong Amora." Gelora memandang Alexia dan Agatha.

"Lo berdua percaya 'kan sama gue?"

Agatha dan Alexia saling pandang. Kedua nya menghela nafas berat, "Lo tenang ya Ra, kita masih bingung." ucap nya dengan wajah datar.

"Tapi gue beneran gak dorong Amora. Gue gak dorong dia!"

"Gue ngerti. Tapi saat ini sulit buat orang-orang percaya, termasuk kita. Gak mungkin 'kan Amora sengaja menjatuhkan diri?"

"Kalo memang bukan lo pelaku nya. Lo harus bisa buktiin Ra."

Agatha mengambil tas nya lalu menyandang nya, "Ayo Ale!" ajak nya menarik tangan Alexia keluar kelas.

Kedua gadis itu berlalu pergi, meninggal kan Gelora yang terisak kecil melihat kepergian kedua nya.

Sakit.

Hati nya sakit, kenapa kedua sahabat nya tidak mempercayai nya? Gelora semakin terisak, ia memang lemah. Sangat lemah. Seharus nya tadi ia bisa menjelas kan pada semua orang, tapi ia hanya bisa menangis. Membiarkan orang-orang menghakimi nya.

Tapi posisi nya saat ini sangat berat. Gadis itu masih dalam keadaan shock. Dan sulit menjelaskan pada semua orang bahwa ia bukan pelaku nya.

Gelora berdiri dari duduk nya, dengan langkah pelan ia berjalan meninggalkan kelas. Kaki nya melangkah tanpa tau arah, sampai membawa nya ke halte.

Ia duduk di halte tersebut. Memandang datar langit yang mulai gelap, menunjukkan sebentar lagi hujan akan turun membasahi bumi.

"Hiks." Gelora terisak. Ia menunduk, menyembunyikan wajah nya di lipatan lutut nya. Membiarkan rambut panjang nya menutupi wajah nya.

AlbiruTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang