28

5K 133 6
                                        

Amora membuka pintu kamar nya dan meletakkan tas nya di tempat tidur. Membuka sepatu lalu merebahkan tubuh nya di tempat tidur.

"Huhh cape banget!" keluh nya.

Ia menguap pelan. Melihat jam dinding dikamar nya yang menunjukkan pukul 7 malam.

Ia baru saja pulang di antar oleh Reano. Tadi nya ia dan Reano. Ah Reano, mengingat cowok itu membuat Amora tersenyum malu tanpa sadar.

"Ihhh apasih! stop salting Amora!" kata nya pada diri sendiri seraya memeluk erat guling di sebelah nya.

"Tapi itu cowok baik banget, ya walaupun nyebelin sih." lanjut nya bergumam.

"Masa gue naksir sama dia sih?" Amora mendengus tak yakin lalu terkekeh geli.

Dringgggg

Suara ponsel di saku rok nya membuyarkan pikiran Amora tentang Reano. Dengan malas ia meraba ponsel nya.

"Ternyata dari mama." gumam nya melihat nama penelpon.

"Halo ma-"

"Benar dengan nona Amora?"

Suara seorang pria di sebrang sana membuat nya mengeryit. Amora melihat nama yang tertera dilayar ponsel nya.

"Nomor mama kok." batin nya.

Jika itu sang papa, tapi suara pria itu juga bukan suara papa nya. Entah mengapa perasaan Amora tiba-tiba menjadi tidak enak.

"Ya benar. Dengan saya Amora."

"Begini. Kami dari pihak kepolisian ingin mengabarkan jika pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan. Dan sekarang berada di rumah sakit xxx."

Prang!

Ponsel di tangan Amora jatuh dan retak begitu saja. Ia menggeleng tak percaya. Tangan nya bergetar diikuti air mata yang menetes deras.

"Gak! gak mungkin. Tadi mama sama papa masih baik-baik aja. Tenang Amora!" kata nya menenangkan diri. Tidak mungkin! tadi kedua orang tua nya baru saja menelpon nya.

"Hiks-hiks!"

Amora terisak keras. Gadis itu berdiri dari tempat tidur dan bergegas keluar dari kamar.

"PAKK! PAK ILHAM!" teriak nya menggelegar.

Pak Ilham datang dengan terburu-buru, "Ya ada apa non?" kata nya.

"Anterin Amora ke rumah sakit sekarang pak!"

****

Biru memasuki mansion Megantara dengan wajah datar. Wajah nya datar tapi berbeda dengan suasana hati nya yang sedang bahagia.

Entah lah Biru tidak tau setan apa yang merasuki Adelard. Sampai-sampai ia diperbolehkan menemui Gelora.

Langkah Biru memelan ketika suara Adelard tiba-tiba lewat di pikiran nya.

"Gelora takut melihat laki-laki."

"Saya terpaksa memberi Lora obat penenang."

"Putri saya sangat kacau Biru."

Biru mengepalkan tangan nya. Tidak-tidak! ia tidak boleh menyerah.

Cowok tampan itu melangkah memasuki lift. Sesampai di dalam kamar gadis gadis nya. Biru menemukan Gelora yang sedang duduk nyaman di tempat tidur. Pandangan nya mengarah ke luar jendela. Entah apa yang di pikir kan gadis itu.

Biru memalingkan wajah nya sebentar. Tak sanggup melihat gadis nya. Keadaan gadis nya tampak tidak baik-baik saja. Dan itu semakin menyakiti hati nya.

Biru tersenyum lembut, "Sayang?" panggil nya pelan.

AlbiruTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang