Lagi.
Lagi dan lagi ia gagal melindungi gadis nya. Nyata nya ia tidak bisa melindungi Gelora. Biru benci, Biru kecewa, Biru marah pada diri nya sendiri. Andai ia tidak membawa Gelora hari itu, andai ia bisa menjaga Gelora lebih baik lagi, andai ia tidak datang terlambat. Andai! andai! andai!
"Arghhh!" Biru menjambak rambut nya geram.
Bug
"Putri saya pernah menjadi korban pelecehan Biru."
Bug
"Lora mempunyai trauma."
Bug
"Untuk sementara waktu jangan datang dan temui putri saya."
Bug
"Saya kecewa padamu!"
"ARGHHHH BANGSATTT!" Biru memukul samsak tinju didepan nya dengan brutal. Setiap pukulan nya, wajah dan omongan Adelard kemarin selalu mengahantui nya.
Biru mengacak rambut nya frustasi. Cowok itu menatap dingin wajah nya di depan cermin.
Bug
Prang!
Cermin besar itu hancur dalam sekejap.
Biru jatuh terduduk, ia memukul dada nya berusaha menghilangkan rasa sesak yang semakin lama semakin terasa menyakitkan.
"Lo tolol Biru! lo bodoh, lo gak berguna. Semua nya karna lo!" rancau nya menyalahkan diri sendiri.
Ia memukul kepala nya. Memaki diri nya sendiri. Cowok itu sama sekali tidak perduli dengan tangan nya yang terluka.
Ting
Helena tersenyum ceria ketika membuka pintu kamar Biru. Ditangan wanita itu ada sarapan yang ia bawa. Putra nya itu belum ada makan sejak kemarin malam setelah kejadian itu. Namun sedetik kemudian senyum nya hilang di ganti dengan teriakan histeris.
Prang!
Helana berlari tergopoh-gopoh mendatangi Biru. Ia mengiraukan makanan yang ia bawa terjatuh begitu saja.
"BIRU!" Helena memeluk tubuh kekar namun rapuh putra nya.
"Sayang! hei! liat mama! kamu kenapa nak." kata Helene terisak. Wanita itu menatap wajah Biru yang terlihat kacau. Bukan hanya wajah namun penampilan nya yang sangat berantakan. "Hiks, Biru!" isak nya.
Biru menatap Helena. Mata nya kosong seperti tidak ada kehidupan didalam nya, "Biru gagal ma." lirih nya serak.
Helena menggeleng pelan, "Nggak nak! Biru gak gagal. Semua nya bukan salah Biru." ucap Helena menenangkan. Ia sudah tau kejadian yang menimpa putra dan calon menantu nya kemarin malam.
"Nggak! semua nya karna Biru! kalo Biru gak lemah, Lora gak akan kaya gitu ma. Biru tolol, Biru gak bisa ngelindungi orang yang Biru cintai." adu nya.
"Hiks! Biru gak berguna!"
Tanpa bisa dijegah air mata nya menetes. Ia tidak suka menangis bahkan sangat anti. Namun Gelora selalu bisa membuat nya mengeluarkan air mata. Biru tidak lemah, Biru hanya merasa gagal.
Helena memeluk Biru memenangkan, "No! semua yang terjadi bukan salah Biru. Mama tau! mama sangat tau kalo Biru sudah berusaha melindungi Lora. Tapi nak, semua yang terjadi sudah ada yang menentukan. Kita sebagai manusia setidak nya sudah berusaha sebaik mungkin, dan semua yang terjadi itu sudah takdir nya. Biru gak gagal sama sakali untuk ngelindungi Lora. Justru mama bangga! karna Biru sudah bertahan sekuat ini!" jelas Helena memberi wejangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Albiru
Teen FictionHanya kisah sederhana tentang Albiru Alterio Maximilian, yang sangat mencintai Gelora Steviona Megantara.
