Biru mengelus rambut Gelora dengan penuh kasih sayang, membiarkan gadis nya menenggelamkan wajah nya di dada kekar milik nya.
Gadis itu mulai sedikit tenang setelah Biru memenangkan nya tadi.
"Al."
"Ya sayang?" Biru menunduk, "Kenapa hm?" tanya nya tersenyum lembut.
Gelora mendongak menatap wajah tampan Biru, "Makasi." bisik nya pelan seraya mengelus rahang milik Biru.
Biru memejamkan mata nya. Menikmati elusan lembut Gelora, "Makasih untuk?" ujar nya membuka mata seraya mengerutkan kening nya tak mengerti.
"Makasih karna kamu tetep sama aku meskipun aku udah kotor. Makasih kamu selalu ada dan lindungi aku. Makasih buat semua nya, aku gak--"
Biru meletakkan telunjuk nya dibibir Gelora, "Sttt." cowok itu menatap Gelora tulus, "Mau berapa kali aku jelasin hm? kamu gak kotor sayang. Kamu tidak kotor dan tidak akan pernah kotor."
"Dan kamu gak perlu bilang makasih. Karna itu memang sudah kewajiban aku sayang. Sudah seharus nya aku melindungi orang yang aku cintai dan aku sayangi." lanjut nya panjang.
"Tapi mereka udah nyentuh aku Al." Gelora menatap Biru sendu, "Aku jijik sama diri aku!" sambung nya dengan mata berkaca-kaca.
"Mereka baru nyentuh lo Ra. Mereka belum ngelakuin hal lebih. Lo tentu tau 'kan?" dari arah pintu UKS Alexia dan Agatha datang.
"Bener! dan semua nya belum terlambat."
sambung Agatha memberi pengertian.
"Gue tau! tapi rasa nya tetap menjijikan! mereka nyentuh tubuh gue! dan bahkan sampe sekarang rasa nya masih ada, gu-gue gak tau hiks harus pake cara apalagi biar rasa itu hilang!" Gelora kembali terisak kecil dipelukan Biru. Bagaimana bisa ia baik-baik saja dan melupakan kejadian itu jika rasa itu seperti mengahantui nya? harus dengan cara apalagi agar bekas sentuhan menjijikan itu hilang.
"Ak-aku gak tau harus gimana lagi Al! aku gak tau hiks! rasa nya sentuhan mereka masih ada, aku jijik hiks!" adu nya kepada Biru.
Dari jendela UKS Amora tampak memperhatikan ke-empat remaja itu. Perasaan bersalah mulai menyelimuti hati nya setelah melihat kondisi Gelora. Harus nya ia tidak mengatakan hal menjijikan itu tadi.
"Apa gue keterlaluan?" gumam nya memandang Gelora sendu.
"Lo gak keterlaluan kok!"
"Lo siapa?"
Gadis itu tersenyum kecil, "Menurut gue ya, apa yang lo lakuin tadi itu hal wajar. Lagian itu cewek emang lebay 'kan?" ucap nya santai.
"Jaga ucapan lo ya!" Amora memandang tak suka gadis didepan nya.
"Kenapa? emang iyakan! lo liat dia!" gadis itu menunjuk Gelora yang saat ini sedang di peluk oleh Biru.
Amora ikut melihat, "Lo liat! lebay banget 'kan? nangis sana sini biar dikasihani orang. Padahal yang dialami dia itu cuma pelecehan. Gara-gara dia, sahabat lo pada benci dan ngejauh dari lo Amora. Dan mungkin bentar lagi satu sekolah bakal benci sama lo. Dan yah semua nya gara-gara cewek itu, Gelora!" lanjut nya menatap Gelora dan Amora bergantian.
Amora terdiam lama. Ia menatap Gelora lalu menunduk menatap sepatu nya.
"Gue udah muak banget liat drama dia. Baru pelecehan udah kaya disakitin satu dunia."
Gadis itu menepuk pundak Amora, "Jadi lo gak usah ngerasa bersalah gitu." kata nya tersenyum manis namun licik, setelah nya pergi meninggalkan Amora yang sibuk dengan isi pikiran nya.
•°•°•°•°•
Alexia mendengus dingin, "Kenapa setiap gue ketemu sama lo, gue selalu kena sial?" ucap nya dingin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Albiru
Teen FictionHanya kisah sederhana tentang Albiru Alterio Maximilian, yang sangat mencintai Gelora Steviona Megantara.
