THIS WORK BELONGS TO LOVELLY (LoVelly09)
VOTE DAN KOMEN YANG BANYAK
🔥🔥🔥
Devan's POV
Aku kembali ke Solo setelah seminggu di Semarang. Kehidupan seolah kembali normal, meski aku tahu dalam hati, segala sesuatunya sudah tidak sama lagi. Aku duduk di ruang tamu rumah kami, melihat anakku yang baru berusia tiga tahun, Raja, sedang berlarian dengan penuh tawa ceria. Ada perasaan aneh yang mengalir dalam diriku, sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya. Aku tidak tahu apakah itu rasa bersalah atau hanya kekosongan yang masih mengganjal.
Ajeng, sedang sibuk di dapur. Suara alat dapur yang bersentuhan, menggema dalam ruangan. Dia selalu begitu, ceria dan penuh perhatian terhadap setiap detail yang ada. Rumah kami masih terasa sama, selalu rapi dan tertata. Meski semua itu harus membuatku menerima penampilan Ajeng yang lusuh dan tidak semenarik dulu. Aku sudah memintanya membayar pembantu, tetapi Ajeng selalu menolak dan berdalih hemat. Padahal pendapatanku juga tidak sedikit. Aku hanya ingin Ajeng fokus kepadaku selama aku di rumah. Namun, semakin aku melarang, Ajeng hanya akan marah dan pulang ke rumah ibunya.
"Hah!" Aku mengembuskan napas kasar sambil mengelus kepala Raja, berusaha tidak memikirkan apapun selain kebahagiaan anakku.
Aku merasa biasa saja. Aku tahu aku telah mengkhianati kepercayaan Ajeng dengan berhubungan dengan Hanum, adiknya sendiri. Tetapi, anehnya, aku tidak merasakan penyesalan yang dalam. Kenikmatan yang kurasakan saat itu, meski tercela, memberikan sensasi yang sulit untuk kujelaskan. Hanum seolah berhasil memenuhi fantasiku dan memuaskan hasratku. Aku memilih bersikap seperti biasa.
Ajeng memanggilku dari dapur, suaranya terdengar riang. "Mas, tolong bantu aku sebentar, ya? Kita masih punya banyak persiapan untuk toko baru."
Aku mengangguk, berdiri dan berjalan menuju dapur. Aku mencium aroma masakan favorit Raja yang sedang dipersiapkan. Ajeng memanggilku dengan lembut, memberikan senyuman yang selalu membuatku merasa hangat. Namun, di balik senyuman itu, ada jarak yang sulit kutemukan. Aku sudah tahu, meskipun dia tidak mengatakannya, dia pasti merasakan ada yang berbeda.
"Aku udah siapkan bahan-bahan untuk toko. Minta tolong tata semuanya dengan rapi ya, Mas," ujarnya sambil melipat pakaian yang baru dicuci.
Aku mengangguk dan ikut membantunya menata barang-barang. Namun, di saat yang sama, aku diam-diam memeriksa pesan-pesan di ponselku. Ada pesan dari Hanum, yang tidak pernah aku bayangkan bisa menjadi bagian dari kehidupan gelapku. Aku menyembunyikan layar ponselku dengan cepat saat Ajeng mendekat, seolah tidak ada yang terjadi.
Hanum mengirim pesan singkat yang kutunggu.
[Hanum: Aku kangen, Mas Devan. Pengen maem tapi mager.]
Aku membalas pesan itu tanpa ragu, memesankan makanan yang biasa kami nikmati bersama. Aku tahu dia menginginkannya. Tanpa sadar, aku kembali terjebak dalam lingkaran yang sulit kutinggalkan.
[Hanum: Kapan balik Semarang?]
Mataku melotot saat membuka foto yang dikirimkan Hanum. Tubuh montok Hanum hanya ditutupi kostum kelinci yang kurang bahan, seperti baju renang. Dadanya yang padat terlihat seperti tumpah. Ditambah pose nakal Hanum yang membuka pahanya lebar-lebar dengan ekspresi menggigit bibir. Ah, aku Ingin melumat bibir tebal Hanum yang kenyal.
Tiba-tiba, Ajeng mendekat dan duduk di sebelahku. "Mas, aku ingin bicara, soal Hanum."
Aku menatapnya dengan kebingungan. Apa yang ingin dia katakan tentang Hanum?
KAMU SEDANG MEMBACA
THE WWG HOLIDAY PROJECT
Short StoryThe WWG datang lagi membawa project baru bertema THE WWG HOLIDAY PROJECT. Terdiri dari kumpulan cerita adult romance. Dalam kumpulan cerita ini, kamu akan dibawa ke dalam kisah-kisah romansa yang muncul tanpa rencana, di mana setiap tatapan, setiap...
