IPARKU KEKASIHKU (2)

796 3 0
                                        

This work belongs to Ry-Santi (Ry-santi)

VOTE DAN KOMEN YANG BANYAK!

🔥🔥🔥

Dewa's POV

"Sayang!"

Suaraku memenuhi ruang tamu selagi menenteng kantong berisi ayam bakar kesukaan Lita. Apalagi dia sempat mengabari pulang lebih cepat dari biasanya serta mengirim foto lingerie merah nan menggiurkan. Tentu saja kode yang diberi Lita tidak boleh kusia-siakan begitu saja. Sudah lama pula kami berdua tidak menghabiskan waktu sepanjang malam layaknya pasangan dimadu asmara.

Ekspektasi disambut Lita nyatanya pecah manakala Rara muncul sambil memeluk wadah stainless steel di tangan kiri dan tangan kanan mengaduk adonan. Wajah manis adik iparku itu agak belepotan akibat percikan campuran bahan kue yang sedang diolahnya sekarang. Mata bulat Rara membeliak kaget sekaligus kikuk menerima kehadiranku.

"Eh, Mas," sapanya. "Mbak belum datang."

"Oh." Aku menyengguk, menempatkan bingkisanku di atas meja ruang tamu lantas mendudukkan diri tuk melepas sepatu. "Gimana perasaan kamu?"

"Ehm ... masih sedih sih tapi seenggaknya kalau berkutat sama kue gini sedihnya jadi agak hilang," jawab Rara sesekali bermuram durja. "Ya ... namanya juga istri, maunya disayang terus."

"Ye ... masa istri doang, suami tuh juga maunya disayang kali, Ra," protesku supaya Rara tidak menyamaratakan pria seperti suaminya. "Kadang cewek juga sering nolak cowok kok," ungkapku bila mengingat beberapa kali Lita menolak bercinta. "Tergantung suasana hati aja sebenarnya."

Rara manggut-manggut sambil menggumam tak jelas, tangannya masih terus mengaduk adonan sementara pikirannya mungkin melayang ke antah berantah akibat ucapanku.

Aku beranjak, mencolek puncak hidung mancungnya yang terkena adonan kue. "Kalau ngocok adonan nggak usah barbar. Wajah kamu jadi jelek gini," godaku.

"Ih, apaan sih!" sembur Rara kesal. "Aku ngocoknya juga nggak kasar-kasar amat," imbuhnya berjalan ke dapur. "Mas udah makan?" Suara Rara agak meninggi ketika aku menanggalkan pakaian di kamar.

"Belum," jawabku. "Mas bawain ayam bakar kesukaan Mbak-mu, nanti kita makan bareng."

Tak berapa lama ponselku berdering menunjukkan panggilan dari istriku. Sejenak aku berpikir apakah dia terjebak macet mengingat area pusat kota Surabaya selalu dipadati kendaraan di jam-jam sore seperti ini. Ketika aku menekan ikon hijau, suara Lita dan suara-suara lain yang agak berisik langsung menusuk telinga.

"Loh, kamu masih di kantor?" tanyaku terdengar kecewa. "Katanya pulang lebih awal, Sayang?"

"Aku putar balik, Mas. Ada panggilan mendadak dari atasan tentang kasus yang lagi kami kerjakan," lapor Lita. "Timku nemuin barang bukti baru jadi malam ini kami mau menggerebek lokasinya. Beberapa ada yang sudah berangkat buat nyamar."

"Ya ampun..." Kepalaku rasanya mau pecah mengetahui lagi-lagi rencana kami tuk bermesraan gagal. "Mas udah beliin ayam bakar kesukaan kamu loh."

"Iya, aku paham. Tapi, gimana lagi. Ini kasus gede, Sayang. Maaf ya... nanti kalau selesai aku langsung balik. Kamu makan aja dulu sama si Rara."

"Ya aku beliinnya buat kamu kok malah makan berdua sama Rara, gimana sih!" Aku masih mencerocos tak terima bila hari yang kunanti malah berakhir mimpi belaka. Bayang-bayang Lita dibalut lingerie berenda merah pupus sudah.

"Maaf ... urusan negara, Sayang ..."

Kupejamkan mata supaya kemarahan yang sudah menjalar ke ubun-ubun ini reda. Urusan negara memang penting, tapi posisiku sebagai suaminya tak lagi berarti bila terus-menerus menuruti pekerjaan yang tiada habis. Kadang ingin sekali aku menyuruh Lita pensiun dini agar lebih memfokuskan diri sebagai istri. Toh gajiku sebagai perwira juga lebih dari cukup menghidupi kami berdua juga calon anak kami di masa depan. Lantas apa yang diinginkannya lagi?

THE WWG HOLIDAY PROJECTCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang