THIS WORK BELONGS TO LOVELLY (LoVelly09)
VOTE DAN KOMEN YANG BANYAK.
🔥🔥🔥
Hanum's POV
Aku menatap diriku di cermin kecil dalam kamar. Wajahku terlihat lelah, tetapi ada sesuatu yang berbeda di mataku—seperti percikan api yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Aku tahu apa yang membuatku merasa seperti ini. Dia. Mas Devan.
Mas Devan, sebuah nama yang seharusnya membuatku merasa segan, bahkan takut, tetapi entah bagaimana, justru membawa sensasi yang tidak dapat kutolak. Semua ini berawal dari pertemuan-pertemuan singkat, percakapan ringan, dan perhatian kecil yang sepertinya selalu diarahkan padaku.
"Aunty, ini dari Papa." Suara kecil Raja yang berusaha mendorong pintu kamar, membuatku bergegas membantunya.
"Apa ini?" tanyaku sambil menerima bungkusan dari Raja.
"Cokelat," jawab Raja singkat.
Aku tersenyum lalu menerima cokelat itu. "Terima kasih ya, Sayang."
"Sama-sama. Dah! Aku pergi dulu!" Dengan langkah kecilnya, Raja berlari menjauh.
Dering pengingat pesan membuatku beranjak dari posisi jongkok. Buru-buru aku membukanya setelah tahu itu dari Mas Devan. senyumku seketika mengembang.
[Mas Devan: Cokelat buat kamu, biar tambah semangat. Dari tadi aku lihat kamu lesu. Lagi capek ya?]
Aku segera menggulirkan jemariku di layar ponsel dan membalas pesan Mas Devan. Bagi anak perempuan yang sama sekali tidak pernah merasakan kasih sayang seorang Ayah, perhatian kecil dari Mas Devan terasa sangat berarti.
Buru-buru aku menghentakkan jemari di layar ponsel untuk membalasnya.
[To : Mas Devan
Nggak capek tapi kesel sama Mas Devan. Kemarin baru tinggi-tingginya malah mati videonya. Habis itu nggak bisa dihubungi lagi.]
Aku mendengus kesal. Kemarin saat kami vcs, Mas Devan tiba-tiba menghentikannya. Padahal aku sedang menikmati imajinasi liar.
[Mas Devan: Maaf, Dek. Kemarin Mbakmu minta bantuan Mas. Gimana nih cara Mas buat menebus kesalahan kemarin.]
Aku memilih mendiamkan Mas Devan agar dia mengejarku. Biar saja sementara dia merasa aku abaikan.
***
Hari ini adalah pembukaan toko baju Mbak Ajeng di Solo. Toko itu berdiri di atas tanah keluarga kami, sebuah mimpi yang akhirnya terwujud. Semua orang terlihat sibuk. Mbak Ajeng dengan senyum lebarnya, ibu yang terus mengatur segala hal, dan aku yang lebih sering menghilang untuk menghindari keramaian.
Aku sedang berdiri di sudut halaman ketika suara berat yang sangat kukenal memanggilku.
“Dek, ngapain di sini sendirian?”
Aku menoleh dan melihat Mas Devan mendekat, senyum hangatnya seolah menyapu dinginnya sore itu.
“Cuma cari udara segar, Mas,” jawabku singkat, berusaha terlihat biasa saja meski detak jantungku memacu cepat.
Dia tertawa kecil dan berdiri di sampingku, pandangannya menatap ke arah toko. “Kamu nggak bangga sama Mbak Ajeng? Dia berhasil, loh.”
Aku mengangguk pelan. “Banggalah, Mas. Tapi... aku nggak terlalu suka keramaian.”
“Pantesan dari tadi aku nggak lihat kamu di dalam.” Mas Devan mengelus puncak kepalaku. "Kamu cantik pakai outer ini."
"Ini salah satu koleksi di toko Mbak Ajeng," jawabku.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE WWG HOLIDAY PROJECT
Short StoryThe WWG datang lagi membawa project baru bertema THE WWG HOLIDAY PROJECT. Terdiri dari kumpulan cerita adult romance. Dalam kumpulan cerita ini, kamu akan dibawa ke dalam kisah-kisah romansa yang muncul tanpa rencana, di mana setiap tatapan, setiap...
