THIS WORK BELONGS TO FIELSYA (Fielsya)
VOTE DAN KOMEN YANG BANYAK
🔥🔥🔥
Suasana hati yang mulai membaik setelah mengobrol dengan Angga, membuatku lebih tenang menjalani sisa hari ini. Seperti biasa, selesai masak, aku pasti akan langsung mandi, biar tubuh nggak bau bawang.
Hampir setengah jam aku membersihkan tubuh dilanjut dengan berdandan tipis-tipis hanya dengan foundation dan lip serum agar wajah terlihat lebih segar, nggak pucat kayak orang sakit. Aku keluar kamar dengan badan yang sudah wangi hendak membereskan meja makan dan menyelesaikan cucian piring yang tadi sempat tertunda.
Terdengar suara aneh, seperti denting keramik yang berasal dari dapur. Bergegas aku menengok apa yang sedang Angga lakukan di sana.
Benar dugaanku, dia sedang sibuk mencuci piring yang tadi masih menumpuk saat kutinggalkan. Dengan sigap aku menghampiri adik iparku, menghentikan aktivitasnya itu.
“Aduh, kamu tuh ngapain cuci piring sih, Ngga? Udah, udah, sini biar aku yang lanjutin.” Aku mengambil spons cuci piring dari tangan Angga dan meletakkannya ke tatakan sabun yang tersedia di samping wastafel. “Kamu tuh cowok, nggak seharusnya ngerjain ini semua. Gimana kalau Mas Bagas ngelihat, atau Mama dan Papa yang lihat? Mereka pasti akan memarahiku karena membiarkan putra bungsunya mencuci piring di sini.”
Angga terkekeh mendengar ocehanku. Dia lantas memegang tanganku lalu dicucikannya dengan air bersih. Setelah itu dia juga merangkul pinggang dan menuntunku untuk duduk di kursi meja makan.
Angga sedikit merunduk hingga kepala kami sejajar. “Kalau ada yang marahin Mbak karena aku cuci piring, aku pastikan kalau aku akan membela Mbak dari mereka semua, sekali pun itu orang tuaku sendiri. Lagian, bukannya Mbak harusnya berangkat kerja? Kenapa masih di sini?”
Jarak sedekat ini, jujur saja membuat jantungku berdegup sangat kencang. Sekitar lima senti, ya mungkin segitu jarak kami saat ini. Dapat kurasakan deru dan aroma napasnya yang sangat wangi tepat di depan indera penciuman. Tapi bukan ini yang menjadikan napasku terasa lebih berat, melainkan seperti ada sesuatu yang mengganjal, hingga untuk menelan salivaku sendiri terasa begitu sulit.
Aku hanya bisa menatap pria yang sebenarnya dari sisi usia, dia lima tahun lebih muda dariku. Sorot matanya cukup tajam, hingga rasanya mampu mengoyak jantung ini.
“Ka-kamu sendiri ... ke-kenapa belum berangkat? Bukannya hari ini kamu bilang mau ketemu sama Bang Fahmi terkait urusan magangmu?” tanyaku terbata-bata. Kalau saja aku bisa, detik ini juga akan merutuki diriku sendiri. Bagaimana bisa aku merasa gugup di hadapan adik iparku sendiri? Apa yang akan Angga pikirkan setelah ini tentangku kalau dia sampai menyadari saat ini aku sedang salah tingkah?
“Bang Fahmi, ya? Mmm ... sudah, kemarin sore ketemuan sama beliau. Jadwalnya emang ganti dadakan, karena hari ini beliau harus menemui kliennya di Jogja. Mbak sendiri, kenapa nggak kerja? Mau nemenin aku di rumah, atau ....”
Sebelum jantung dan hati ini makin tak keruan karena ulah Angga, aku pun bergegas berdiri dan menjauhi adik iparku itu. Lama-lama aku bisa gila atau lepas kendali jika terlalu lama berdekatan dengannya.
Aku adalah wanita normal yang membutuhkan kasih sayang dan perhatian juga godaan dari suamiku. Sayangnya aku tak mendapatkan itu dari Mas Bagas, tapi Angga, dia sering menggodaku dalam setiap kesempatan. Ya walaupun sejujurnya aku merasakan kenyamanan, tapi mana mungkin aku bisa macam-macam dengannya?
Angga adalah pria bujang di usianya yang hampir memasuki kepala tiga, sama denganku. Tubuhnya tinggi dengan dada bidang dan beberapa otot yang menghiasi lengannya bak gunung yang sedang berjejer. Perutnya juga ramping, pun dihiasi otot berbentuk kotak, yang kata orang sering disebut “roti sobek”.
Hidungnya mancung, dagunya belah kopi yang jelas saja makin menambah nilai ganteng di mataku. Munafik kalau aku tidak tertarik padanya.
Kalau saja dia bukan adiknya Mas Bagas, mungkin aku bisa lebih berani mendekati atau bahkan menggodanya duluan. Siapa tahu kan, dia lebih bisa memuaskan hasratku di atas ranjang yang mulai terasa hambar saat sedang bersama suamiku sendiri.
“Udah ah, nggak seru nih. Masa Mbak Raline malah salting? Belum juga aku apa-apain,” godanya yang sontak membuat mata ini membulat. Angga tergelak dan meledek mukaku yang mulai memerah bak udang rebus. Ya Tuhan, harus ditaruh di mana mukaku setelah ini? Bertahun-tahun aku mengenalnya, bukan sekali-dua kali dia menggodaku, tapi kenapa baru sekarang aku merasakan ada sesuatu yang aneh dalam hatiku?
Ah, tidak, tidak ... mungkin ini hanya pelampiasan karena beberapa tahun terakhir Mas Bagas makin sering mengabaikan keberadaanku. Aku tidak boleh terpancing. Kalaupun memang harus aku berkhianat, bukan berarti itu dengan adik iparku.
“Ish ... sok tahu! Siapa juga yang salting. Aku tuh menghindar karena kamu bau asem. Gih mandi dulu. Tadi pagi belum sempet mandi, kan? Udah sana!” elakku yang kemudian mengalihkan fokus dengan kembali mencuci piring.
“Badanku bau? Emang iya?” tanyanya yang meragukan ucapanku. Terdengar suara endusan dari belakang tubuhku. Aku yakin saat ini dia tengah mencium area ketiak atau bajunya sendiri.
Ini sudah cukup menghiburku. Gimana bisa pria yang selalu menjaga penampilan dan aroma tubuhnya seperti Angga, bisa memercayaiku dengan mudah? Sepertinya dia masalah dengan kepercayaandirinya. Aku terkekeh seraya menyelsaikan cucian piring tadi, hingga tersisa pecahan gelas karena ulahku sendiri.
“Nggak, kok, nggak bau. Jadi udah belajar nipu ya, sekarang?” Angga mendekatiku dan mulai menggelitik pinggangku saat tangan ini sedang membersihkan pecahan gelas tadi.
“Au, au, sakit ... udah Ngga, udah. Ini tanganku kena beling,” keluhku yang merasakan perih di salah satu ujung jari.
“Ops, sorry ....” Angga meraih telunjukku yang tergores cukup dalam dan mengeluarkan darah segar, lalu detik berikutnya, bak adegan romantis dalam sinetron, dia menghisap jari itu kemudian mencucinya di bawah air yang mengalir.
Aku hanya terpaku menerima semua perlakuan adik iparku ini. Untuk pertama kalinya, saat aku terluka ada seorang pria yang justru memperhatikan lukaku. Tidak seperti Mas Bagas, yang justru akan memarahi dan menganggapku ceroboh.
Angga menuntunku untuk duduk, dan lagi-lagi, seperti terhipnotis, aku hanya bisa diam melihat pria ini sibuk mondar-mandir menyiapkan obat merah dan plester untuk menutupi luka di jari. Perlakuannya sangat lembut dan hati-hati, hingga tak sedikit pun aku merasakan sakit.
“Aku minta maaf karena udah buat Mbak terluka. Aku janji, akan lebih hati-hati lagi saat godain Mbak.” Angga mengerlingkan sebelah mata diikuti dengan menunjukkan senyum jahilnya, seolah masih ada ribuan godaan yang sudah dia siapkan untukku. “Lagian salah sendiri sih, bukannya berangkat kerja, malah bolos.”
“Ye, enak aja ngatain bolos. Aku tuh nggak bolos, tapi sengaja nggak masuk karena mau jagain anak bujang papa dan mama mertua, takutnya bawa perempuan masuk kamar kalau lagi nggak ada orang,” sungutku.
“Lah, ngapain masukin perempuan lain ke kamarku, kalau orang yang aku cintai ada di sini?”
***
Angga nakal, Genks.
Stay tuned biar besok ketemu Angga-Raline lagi.
Kalau nggak sabar nunggu besok, langsung ke Karyakarsa The WWG. Sudah tamat 10 bab plus 2 Extra Part.
Ini linknya atau klik link di samping 👉
https://karyakarsa.com/Thewwg/kloter-1-iam-fielsya
KAMU SEDANG MEMBACA
THE WWG HOLIDAY PROJECT
Cerita PendekThe WWG datang lagi membawa project baru bertema THE WWG HOLIDAY PROJECT. Terdiri dari kumpulan cerita adult romance. Dalam kumpulan cerita ini, kamu akan dibawa ke dalam kisah-kisah romansa yang muncul tanpa rencana, di mana setiap tatapan, setiap...
