bnyk typo
🌹
****
Alvaro melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, meninggalkan rumah dengan emosi yang masih membara. Jalanan malam yang seharusnya terasa tenang justru dipenuhi deru mesin mobilnya yang melaju agresif.Nata duduk di kursi penumpang, tangannya mencengkeram pegangan di atas pintu dengan erat. Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena kecepatan mobil, tetapi juga karena ia bisa merasakan kemarahan yang masih menguar dari Alvaro.
"Al..." ujar nata dengan suara lembut "Bawanya pelan-pelan aja."
Alvaro melirik sekilas ke arahnya. Dalam cahaya redup kabin mobil, ia bisa melihat wajah Nata yang sedikit tegang, matanya menatap jalanan dengan cemas. Hanya butuh satu tatapan itu untuk membuatnya sadar.
Sial, dia keterlaluan.Dengan cepat, Alvaro melonggarkan tekanan di pedal gas dan mengurangi kecepatan. Suara mesin yang tadinya meraung kini kembali normal, lebih tenang.
"Maaf," ucapnya, kali ini dengan nada yang lebih lembut.
Nata menghela napas lega ketika mobil mulai melaju dengan lebih wajar. Ia melonggarkan cengkeraman tangannya, tapi tidak langsung melepaskannya.
sampai di apartemen, suasana masih terasa sedikit tegang. Alvaro duduk menyandarkan kepalanya di sofa, sementara Nata duduk di sampingnya, menatapnya dengan khawatir.
"Maaf... tadi di mobil kamu takut?" suara Alvaro terdengar lebih tenang sekarang.
Nata mengangguk kecil. "Iya, dikit. Soalnya aku belum pernah lihat kamu marah"
Alvaro menatapnya sebentar, lalu mengusap tangan Nata dengan lembut, seolah ingin menenangkan dirinya sendiri juga. "Maaf... aku beneran nggak nyangka Papa bakal ngebahas hal kayak gini. Kalau aku tahu dari awal, aku nggak akan izinin kamu ikut."
Nata tersenyum tipis, berusaha meyakinkannya. "Nggak apa-apa, aku ngerti. Tapi kamu harus bicara baik-baik sama Papa kamu, ya? Jangan bawa emosi, nanti masalahnya nggak bakal selesai kalau semuanya cuma adu argumen."
Alvaro menghela napas panjang, kepalanya bersandar ke bantal. "Iya... tapi nggak sekarang. Aku masih takut kelepasan kayak tadi."
Belum sempat Nata menjawab, HP Alvaro tiba-tiba bergetar. Nama "Papa" muncul di layar. Alvaro hanya
meliriknya sekilas sebelum langsung mematikan layar HP-nya, tidak berniat mengangkat panggilan itu.
"Papa kamu?" tanya Nata pelan.
"Hmm," gumam Alvaro, malas menanggapinya.
"Angkat dulu, Al. Siapa tahu—"
"Ssst... diam, Nata" potong Alvaro cepat, suaranya rendah
Nata terdiam, memilih untuk tidak memaksa. Ia hanya mengusap kepala Alvaro pelan, mencoba
menenangkannya dengan sentuhan.
Namun, HP Alvaro kembali bergetar. Kali ini bukan dari Papanya, tapi dari Mamanya. Alvaro menatap layar itu sesaat sebelum akhirnya menarik napas dalam-dalam dan menggeser tombol hijau."Varo, sayang, kamu di mana?" suara lembut Ruka terdengar di seberang.
"Di luar," jawab Alvaro singkat.
"Nak, pulang ya? Bicara baik-baik sama Papa," bujuk Ruka, suaranya terdengar lelah.
Alvaro menutup matanya sejenak. Ia tahu Mamanya pasti berada di tengah-tengah pertengkaran ini, mencoba menenangkan kedua belah pihak.
"Nanti, Ma," jawabnya akhirnya, suaranya lebih lunak.
"Varo..." panggilan Mamanya terdengar semakin lirih, seolah menahan sesuatu. Alvaro langsung tersadar. Nada suara itu....

KAMU SEDANG MEMBACA
Alnata
General FictionAlvaro yang dingin pada semua orang di temukan dengan nata yang mampu merubah dirinya, dimana mereka berdua bertemu di suatu club malam. LAPAK BXB HOMOPOBIC MINGGIR❗ **** cerita fiksi bnyk typo