bnyk typo
🌹
****
10 TAHUN KEMUDIAN
Waktu berlalu begitu cepat. Alvaro dan Nata telah melewati banyak hal bersama. Tentu, ada saja masalah kecil yang datang, tapi syukur mereka selalu bisa melewatinya. Awal pernikahan mereka diwarnai dengan momen-momen indah, termasuk perjalanan ke Jepang, tepatnya ke Gunung Fuji, seperti yang dulu pernah diimpikan Nata sebelum mereka sempat berpisah. Kini, mereka berempat sering bepergian ke luar negeri jika jadwal mereka selaras.
Vana dan Vano telah beranjak remaja. Vana kini duduk di kelas 10 SMA, sementara Vano sudah kelas 11. Kehidupan mereka cukup harmonis, meski tetap dihiasi dengan dinamika khas keluarga, terutama karena sifat protektif Vano terhadap saudara kembarnya.
Malam itu, Nata sedang asik menonton drama kesukaannya di ruang keluarga, sementara Alvaro sibuk dengan laptopnya. Suasana rumah tenang sampai Vana muncul dari kamarnya dengan pakaian yang sudah rapi.
"Kakak mau ke mana?" suara Alvaro memecah keheningan, mengalihkan pandangannya dari layar ke arah putrinya.
Vana mendekat dan langsung duduk di samping Alvaro, memeluk pria itu dengan manja. "Daddy, kakak izin keluar sebentar ya" ujarnya dengan suara manis.
Alvaro melirik jam dinding. "Udah setengah delapan. Besok aja ya."
"Ihh, kakak udah siap cantik-cantik, masa nggak jadi keluar?" rengek Vana, mencoba membujuk.
Alvaro menghela napas. "Daddy nggak larang kakak keluar, tapi ini udah malam. Nanti kalau Vano tahu kakak baru keluar jam segini, dia pasti marah."
Vana melepas pelukannya, lalu berjalan menghampiri Nata dan memeluknya erat. "Dadda, kakak mau keluar, janji nggak lama. Dadda tolong suruh Daddy izinin, ya?"
Nata tersenyum kecil, membelai kepala putrinya. "Emang mau ke mana?" tanyanya.
"Nonton sama teman, boleh ya, Dadda? Please. Kakak udah capek dandan cantik-cantik, masa nggak boleh pergi?" ujar Vana, berusaha merayu.
Nata menoleh ke Alvaro. "Al, biarin aja. Tapi kakak harus pulang paling lambat jam sepuluh, ya?"
Mendengar itu, wajah Vana langsung cerah. "Siap, Dadda cantik!" katanya riang, lalu mengecup pipi Nata sebelum kembali ke Alvaro dan mencium pipi pria itu juga.
"Daddy belum bilang iya" tegur Alvaro.
"Nanti Dadda bujuk Daddy" jawab Vana cepat sebelum berlari menuju pintu keluar.
Namun, sebelum sempat membuka pintu, seseorang lebih dulu mendorongnya dari luar. Vano.
Vano berdiri di ambang pintu dengan tangan masih memegang gagang pintu. Tatapan matanya menyapu Vana dari atas ke bawah. "Mau ke mana?" tanyanya dengan nada datar.
Vana mendengus kesal. Seandainya saja dia bergegas keluar tadi, pasti sekarang sudah di perjalanan. Mendapatkan izin dari Daddy dan Dadda lebih mudah dibandingkan harus berhadapan dengan adiknya yang super protektif.
"Mau keluar bentar, Daddy dan Dadda udah izinin kok." Ujar vana
Vano menatap jam dinding. "Udah jam segini. Besok aja."
"Sebentar aja Vano sayang, kakak kamu cuman mau pergi nonton kok" ucap Vana berusaha tersenyum
"Sama siapa? Nonton di mana? Jam 19.40 pergi, terus pulang jam Sembilan bisa?" Vano bertanya dengan detail, seperti biasa.
"Sama teman. Iyaa, nanti jam sembilan pulang" Vana mencoba meyakinkan.
Vano menajamkan tatapannya. "Jawab yang jelas. Temannya siapa? Vano kenal nggak?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Alnata
General FictionAlvaro yang dingin pada semua orang di temukan dengan nata yang mampu merubah dirinya, dimana mereka berdua bertemu di suatu club malam. LAPAK BXB HOMOPOBIC MINGGIR❗ **** cerita fiksi bnyk typo
