bnyk typo
🌹
⚠warning ⚠
****
Vana keluar dari kamar dengan langkah kecilnya, matanya masih sedikit mengantuk. "Dadda, Kakak mau mandi" teriaknya ceria, mencari daddanya.
Namun, langkahnya terhenti saat melihat Alvaro masih duduk di ruang tamu bersama Nata. Elvano tertidur pulas di pangkuan nata, terlihat begitu nyaman.
"Om Al belum pulang?" tanya Vana, matanya berkedip beberapa kali.
Alvaro tersenyum kecil. "Belum, Kakak tidurnya nyenyak nggak?" tanyanya lembut.
Vana mengangguk cepat. "Emm, nyenyak" jawabnya polos. "Ayo, Dadda, Kaka mau mandi" serunya lagi, menarik tangan daddanya.
Nata tersenyum, mengusap kepala putrinya sebelum melirik Elvano yang masih terlelap. "Sabar ya, Sayang" ucapnya lembut, lalu menoleh ke Alvaro. "Al, kamu boleh gendong Vano dulu?" tanyanya pelan.
Alvaro menatap bocah itu ragu. "Vano nggak bakal marah kalau kaget terus aku yang gendong dia?" tanyanya hati-hati.
"Enggak. Tapi jangan taruh dia di kasur, nanti makin marah" ujar Nata sambil menyerahkan Elvano dengan hati-hati ke Alvaro.
Alvaro menerima tubuh kecil itu dengan lembut, memastikan Elvano tetap nyaman dalam pelukannya. Tatapannya melembut saat menatap wajah tidur putranya, lalu tanpa sadar ia mengecup pelan kepala bocah itu.
Sementara itu, Nata menggandeng tangan Vana dan membawanya ke kamar mandi. "Ayo, Dadda mandiin" ucapnya lembut, diikuti tawa kecil Vana yang bersemangat.
Selang beberapa menit, Nata dan Vana keluar dari kamar mandi. Kini Vana terlihat lebih segar dengan rambutnya yang basah dan wangi sabun yang samar tercium.
Alvaro yang masih menggendong Elvano menoleh. "Nat, aku bawa Vano ke kamar aja ya? Kasihan, nanti badannya sakit kalau kelamaan digendong" ujarnya.
Nata menghela napas pelan, lalu mengusap rambut Vana yang masih basah. "Vano jarang mau digendong, tapi sekalinya mau, bahkan ketiduran pun tetap harus digendong" ujarnya sedikit kesal. "Capek? Baru sebentar gendong Vano. Apa kabar sama aku yang harus gantian gendong dua-duanya?" tambahnya sambil melirik Alvaro.
Alvaro tersenyum kecil, berusaha meredakan suasana. "Maaf, aku nggak capek kok. Aku cuma takut badannya pegal kalau kelamaan digendong" ujarnya pelan.
Nata hanya bergeming, tidak menanggapi. Suasana hening sesaat, dan Alvaro menyadari kalau mood Nata sepertinya sedang tidak baik.
Ia mencoba mencairkan suasana. "Kamu mau makan apa? Biar aku pesanin" tawarnya.
"Enggak usah. Aku mau masuk," jawab Nata singkat. "Kamu diam di situ aja, nanti Vano kebangun," lanjutnya sebelum menoleh ke Vana. "Kakak tunggu di sini ya? Dadda mau masak dulu."
"Iyaaa, Dadda!" jawab Vana riang.
Alvaro masih memperhatikan Nata yang berjalan ke dapur. "Kamu nggak capek, Nat?" tanyanya lagi.
"Enggak," jawabnya singkat, tanpa menoleh.
"Ya udah... kalau kamu mau masak..." Alvaro terdiam sejenak sebelum melanjutkan, "Maaf, aku nggak bisa bantu."
Tanpa menjawab, Nata langsung masuk ke dapur.
Alvaro hanya bisa duduk diam, memikirkan apa dia barusan melakukan kesalahan.
Setelah selesai memasak, Nata berjalan menuju ruang tamu, tempat ketiga orang yang begitu berarti baginya tengah berada. Matanya menangkap Vana yang asik bermain dengan boneka Barbienya, sementara Elvano duduk diam dengan ekspresi datarnya, dan Alvaro yang tampak sibuk dengan ponselnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alnata
Fiksi UmumAlvaro yang dingin pada semua orang di temukan dengan nata yang mampu merubah dirinya, dimana mereka berdua bertemu di suatu club malam. LAPAK BXB HOMOPOBIC MINGGIR❗ **** cerita fiksi bnyk typo
