bnyk typo
🌹
bnyk di skip² juga
****
Masih pagi Karin dan Dio sudah berada di rumah nata, Karin menatap Nata yang tengah duduk santai di ruang tamu. "Nat, siap-siap gih, biar Dio anter cek kandungan."
Nata menggeleng pelan. "Nggak usah, gue bisa pergi sendiri kok. Lagian, Dio juga mau pergi kerja," jawabnya santai.
Namun, Karin langsung mengangkat tangan, menolak alasan itu. "No, no, no. Lo kalau cek kandungan pasti bakal ditanya dokter, ‘Mana suaminya?’ Ini lah, itu lah. Jadi, bawa aja Dio, biar kalo ditanya lo tinggal jawab dia suami lo," ujar Karin dengan nada yakin.
Mendengar itu, Nata langsung menatap Karin dengan ekspresi terkejut. "Rin? Lo serius bilang gitu? Lo nggak cemburu?" tanyanya heran.
Karin tertawa kecil, lalu menyilangkan tangannya di dada. "Cemburu kenapa? Emang kalian berdua berani sama gue? Berani main belakang?" tantangnya dengan mata menyipit.
Dio, yang sejak tadi hanya mendengarkan, langsung angkat tangan tanda menyerah. "Nggak sayang, nggak ada yang berani sama kamu," katanya dengan nada meyakinkan.
"Tuh, dengar Nat. Jadi gapapa, sana siap-siap, biar Dio temenin lo," ujar Karin lagi, mendorong Nata agar segera bersiap.
Nata akhirnya mengalah. "Tunggu bentar ya. Makasih banyak, Rin," katanya sebelum beranjak ke kamarnya.
Karin mendecak. "Apasih, Nat? Lo dari kemarin makasih-makasih mulu," protesnya.
Nata hanya terkekeh kecil sebelum masuk ke kamar untuk bersiap.
Di ruang pemeriksaan, dokter tersenyum saat melihat hasil USG Nata. "Kandungannya sehat, bayinya ada dua," ucapnya santai.
Nata tertegun. "Hah? Anak gue kembar? Ada dua?" tanyanya memastikan, matanya membulat karena terkejut.
Dokter mengangguk. "Kamu belum tahu?" tanyanya.
Nata menggeleng pelan, masih sulit percaya. "Belum, Dok," jawabnya sambil tertawa kecil.
Dokter tersenyum, lalu menambahkan, "Astaga. Nanti sering-sering cek ya. Untuk bapaknya, jangan malas-malas temani dan ajak ngobrol bayinya," pesannya.
Dio yang dari tadi diam, langsung mengangguk patuh. "Iya, Dok," jawabnya singkat.
Dokter kemudian menyerahkan sebuah resep. "Ini vitamin untuk orang hamil, kamu bisa minum secara rutin," katanya.
Nata menerimanya dengan senyum tipis. "Makasih, Dok," ucapnya.
Dio ikut menambahkan, "Kalau gitu, kami permisi, Dok."
Mereka pun keluar dari ruang pemeriksaan dengan perasaan campur aduk, terutama Nata, yang masih sulit percaya bahwa dirinya mengandung bayi kembar.
~
Sembilan bulan telah berlalu, dan kini Nata semakin mendekati hari kelahirannya. Ia sudah izin dari pekerjaannya untuk beristirahat dan mempersiapkan diri menghadapi persalinan. Namun, hari-hari terakhir kehamilannya terasa semakin berat. Perutnya sering terasa nyeri, dan ia merasa tubuhnya lebih cepat lelah.
Siangnya, Nata sedang memasak di dapur ketika tiba-tiba rasa sakit yang luar biasa menyerangnya. Ia terhuyung, memegangi perutnya yang sudah begitu besar. Napasnya memburu, dan keringat dingin mulai bercucuran."Akhh.. sakit banget," erang Nata, tubuhnya gemetar menahan nyeri yang semakin kuat.
Dengan susah payah, ia mematikan kompor dan meraih ponselnya di atas meja. Jari-jarinya yang lemah mencoba menekan nomor Karin. Satu kali panggilan, tak diangkat.
Nata mencoba lagi. Kali ini, panggilan tersambung.

KAMU SEDANG MEMBACA
Alnata
General FictionAlvaro yang dingin pada semua orang di temukan dengan nata yang mampu merubah dirinya, dimana mereka berdua bertemu di suatu club malam. LAPAK BXB HOMOPOBIC MINGGIR❗ **** cerita fiksi bnyk typo