bnyk typo
🌹
****
"Alvaro, udah!" suara Riyan terdengar lebih keras "Lo pikir dengan lo ngelakuin ini, Nata bakal maafin lo?"
Alvaro hanya melirik Riyan sekilas, lalu tanpa ragu kembali menggoreskan belati di tangan pria malang itu.
Riyan mengepalkan tangannya, frustasi melihat alvaro tenggelam dalam amarah. "Nata benci orang jahat, Alvaro!" ucap riyan, mencoba menyadarkan Alvaro. "Lo pikir kalau dia tahu semua ini, dia masih mau nerima lo? Lo nggak takut kalau setelah ini nata malah makin menjauh?"
Alvaro mendadak terhenti. Tangan yang memegang belati perlahan melemah, napasnya berat.
Sejenak, hanya keheningan yang terdengar di ruangan itu.
kesadarannya kembali, Alvaro bangkit berdiri. Dengan sekali tendangan keras ke perut pria yang terkapar di lantai, dia melepaskan seluruh sisa amarahnya.
"Arghhh!" pria itu mengerang kesakitan.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Alvaro melempar belati di tangannya hingga berbunyi nyaring saat menghantam lantai.
"Bawa dia ke rumah sakit. Sekarang!" suaranya tegas, dingin, tanpa emosi.
Beberapa anak buah Arsenio yang sejak tadi hanya diam, langsung bergerak, mengangkat pria yang terluka dan membawanya keluar secepat mungkin.
Alvaro melangkah meninggalkan ruang tengah tanpa sepatah kata pun. Sorot matanya tetap tajam, tapi ada amarah yang masih membara di sana. Semua orang di ruangan hanya bisa menatap punggungnya yang menghilang.
Begitu sampai di kamarnya, Alvaro membanting pintu dengan keras hingga gagangnya bergetar. Napasnya masih memburu, pikirannya kacau. Dia menjatuhkan tubuhnya ke sofa, menyandarkan kepala ke belakang sambil menutup mata, mencoba menenangkan diri.
Dengan gerakan cepat, Alvaro meraih ponselnya dan menekan kontak yang sudah dia hafal di luar kepala.
"Halo, Pak..." suara Devin terdengar di ujung telepon, terdengar ragu.
"Devin, tolong cari tahu tentang Nata. Cek rekaman CCTV di bandara lima tahun lalu, lacak semua pergerakannya, dan cari tahu identitas yang dia pakai sekarang." Suara Alvaro tegas, tak terbantahkan.
"Pak..." Devin terdengar ragu, seolah ingin menolak.
"Berapa pun bayaran yang lo mau, gue bakal kasih," potong Alvaro cepat, tak ingin mendengar penolakan.
"Bukan itu masalahnya, Pak. Tapi kalau mau melacak seseorang yang sudah menghilang dan mengganti identitas selama lima tahun, itu tidak mudah. Saya nggak bisa janji bakal dapat hasil dalam waktu singkat," jelas Devin, suaranya terdengar hati-hati.
Alvaro mengusap wajahnya dengan kasar, frustrasi. "Satu minggu bisa?" tanyanya, hampir seperti perintah.
"Maaf, Pak… Saya nggak bisa janji."
Alvaro menggigit rahangnya. "Dua minggu. Gue juga ikut cari."
Devin terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Baik, Pak. Saya akan berusaha. Tapi tetap nggak bisa janji dalam dua minggu semuanya akan beres."
"Oke. Gue tunggu perkembangannya."
"Baik, Pak."
Panggilan berakhir, tapi amarah di dada Alvaro belum reda. Dia melempar ponselnya ke meja, lalu menatap kosong ke langit-langit.
Sudah empat hari sejak Devin mulai mencari jejak Nata, tapi hasilnya masih nihil. Alvaro tahu ini tidak akan mudah, tapi tidak menyangka akan sesulit ini.
Dia duduk di depan laptopnya, matanya nyaris tak berkedip menatap layar. Rekaman CCTV bandara lima tahun lalu terus diputar ulang, setiap detik ia perhatikan dengan saksama. Alvaro menggunakan segala koneksi yang dimilikinya untuk mendapatkan akses rekaman itu, dan akhirnya pihak bandara memberikannya. Sementara itu, Devin tetap fokus melacak identitas baru Nata.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alnata
Fiction généraleAlvaro yang dingin pada semua orang di temukan dengan nata yang mampu merubah dirinya, dimana mereka berdua bertemu di suatu club malam. LAPAK BXB HOMOPOBIC MINGGIR❗ **** cerita fiksi bnyk typo
