alnata 41

1.8K 98 8
                                        

bnyk typo

🌹

**** 
Bulan pertama pernikahan mereka telah berlalu. Kini, Alvaro dan Nata sudah kembali ke kota tempat mereka akan memulai kehidupan baru bersama. Dio dan Karin, setelah berbagai bujukan atau lebih tepatnya paksaan dari Nata, akhirnya setuju untuk ikut pindah. Namun, untuk sementara mereka masih harus menyelesaikan beberapa urusan sebelum benar-benar menyusul.
Malam ini, Alvaro duduk sendirian di balkon kamar mereka. Udara malam yang sejuk berhembus pelan, sementara di tangannya, sebatang rokok menyala, asapnya membumbung ke udara. Mata Alvaro menerawang ke kejauhan, menikmati momen sunyi yang jarang ia dapatkan.

Dari dalam kamar mandi, suara gemericik air mulai mereda. Tak lama kemudian, Nata keluar dengan hanya mengenakan baju mandi. Rambutnya masih sedikit basah, meneteskan sisa air ke bahunya yang telanjang.

Alvaro melirik sekilas ke arahnya sebelum mengisap rokok sekali lagi, kali ini lebih dalam, lalu mematikan bara di ujungnya. Saat Nata berjalan mendekat, ia otomatis menggeser posisi duduknya, memberi ruang agar suaminya bisa bergabung dengannya di balkon.
"Sejak kapan kamu ngerokok?" tanya Nata tiba-tiba, matanya menatap tajam ke arah Alvaro.

Pria itu tersenyum tipis. "Udah lama. Sini." Tangannya terangkat, mengusap lembut kepala Nata yang kini sudah duduk di sampingnya.

Nata mengernyit, masih belum puas dengan jawabannya. "Lamanya itu sejak kapan? Sejak kamu di London atau sebelum kamu ke sana?"

"Sebelum aku ke sana," jawab Alvaro santai, menatap langit malam dengan ekspresi datar.

Mata Nata membulat, ekspresi terkejutnya jelas terlihat. "Kok aku nggak tahu?" serunya heran.

Alvaro tertawa kecil. "Karena dulu aku nggak pernah ngerokok di depan kamu," katanya, menoleh ke arah Nata yang masih menatapnya dengan pandangan penuh selidik. "Dulu aku masih bisa tahan satu sampai dua hari tanpa sentuh rokok. Tapi sejak di London, aku udah nggak bisa. Tiap hari harus minimal satu bungkus. Kalau lagi stres, bahkan lebih."

Nata menghela napas dalam, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Sebanyak itu, Alvaro? Astaga... bisa-bisa rusak paru-paru kamu!" katanya khawatir, menatap pria itu dengan sorot mata yang penuh kecemasan.

Alvaro hanya mengangkat bahu. "Gapapa," ujarnya ringan.

Kata itu langsung membuat Nata semakin kesal. "Gapapa gimana?! Kamu mau mati duluan dan biarkan aku sendiri lagi?" suaranya sedikit meninggi, menunjukkan betapa seriusnya ia dengan ucapannya.

Alvaro terkekeh pelan, menikmati reaksi istrinya. "Nggak, sayang" katanya lembut, mencoba meredakan amarah Nata.
Namun, Nata tak mudah dibujuk. Matanya melirik sebungkus rokok yang tergeletak di samping Alvaro, lalu dengan cepat ia mengulurkan tangan. "Pokoknya, mulai dari sekarang nggak ada lagi rokok. Siniin rokoknya" perintahnya tegas.

Tanpa banyak pilihan, Alvaro menyerahkan rokoknya. "Susah, Nat, kalau langsung lepas gitu..." katanya, mencoba mencari celah untuk bernegosiasi.

Nata memandangi rokok di tangannya sebentar sebelum berbicara lagi. "Oke, satu hari dua batang. Siang sama malam. Pagi nggak ada rokok. Berani lebihin, lihat aja!" nada suaranya penuh ancaman.

Alvaro mendesah, tidak puas dengan kesepakatan itu. "Sayang? Apa rasanya kalau cuma segitu?" rengeknya, mencoba meluluhkan hati Nata.

Nata mendelik. "Mau dua atau satu?" tanyanya tegas.

Alvaro berpikir sejenak sebelum mencoba tawar-menawar lagi. "Setengah bungkus satu hari?" tanyanya dengan penuh harapan.

Namun, bukannya luluh, Nata justru menatapnya dengan tatapan lebih tajam. "Kebanyakan itu!" serunya. "Dengerin, ya. Kalau ketahuan lebih dari dua batang sehari, nggak ada cium, nggak ada peluk, masak sendiri, tidur sendiri."

AlnataTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang