bnyk typo
🌹
****
Di luar rumah, seorang bocah laki-laki berjalan pulang dengan membawa sebotol air mineral di tangannya. Saat ia sampai di depan pintu, langkahnya terhenti sejenak ketika mendengar suara kakaknya berbicara dengan seseorang di dalam rumah.
"Iya om, dadda keja. Kadang pulang malem. Makanya kalo Vana sakit, Vano yang nemanin," suara gadis kecil itu terdengar polos
"Maaf, kalau om boleh tahu, daddy kalian ke mana?" suara orang asing terdengar bertanya.
"Vana nda tau. Tapi kata dadda, daddy kelja di tempat yang jauh" jawab Vana.
"Daddy kamu nggak pernah pulang?" tanya suara laki-laki itu lagi.
Vano mendengar hening sebentar sebelum kakaknya menjawab dengan suara kecil, "Ndda... Padahal Vana mau liat daddy... Tapi daddy nggak pernah pulang."
Mata Vano sedikit menyipit. Siapa orang itu?
Tanpa ragu, Vano langsung membuka pintu dengan cepat.
"Kakak!" serunya.
Di dalam, ia melihat kakaknya duduk di lantai bersama seorang pria asing. Lelaki itu menoleh ke arahnya dengan ekspresi sedikit terkejut.
Vana langsung menoleh ke Vano dan tersenyum. "Vano Sini, ada om-om cali kamu" kata Vana dengan wajah polosnya.
Tatapan Vano langsung berubah tajam. Ia menatap pria asing itu dengan penuh kewaspadaan.
"Kenapa kakak biarin orang lain masuk?" tanyanya datar, tanpa ekspresi.
Vana menoleh ke pria itu, lalu kembali menatap Vano. "Om ini bukan olang jahat. Iya kan, om? Tadi om bilang om teman nya dadda, kan?" Vana menatap pria itu dengan penuh keyakinan.
Alvaro sempat terdiam sesaat. Otaknya berputar cepat, mencoba mencari jawaban yang tepat.
"Ehh, iya. Om temannya dadda kalian. Anu... itu... a- om juga mau ketemu Vano," jawabnya terbata-bata. Ia tidak menyangka bahwa berbicara dengan anak kecil ternyata bisa membuatnya gugup seperti ini.
Vano masih menatapnya dengan penuh selidik, sebelum akhirnya menyerahkan botol air ke Vana.
"Ini minumannya. Kakak pergi masuk kamar terus istirahat," kata Vano tegas.
"Tapi kakak masih mau bicala sama om," Vana merajuk.
Vano menghela napas. "Masuk, kakak" ucapnya, kali ini dengan nada lebih tegas.
Vana mengembungkan pipinya, lalu menoleh ke Alvaro dengan ekspresi sedikit menyesal. "Om, Vana masuk dulu ya. Takut di malahin Vano, heheh," katanya pelan sebelum berlari kecil menuju kamarnya.
Alvaro memperhatikan interaksi keduanya dalam diam. Ia merasa semakin yakin bahwa bocah laki-laki di depannya bukan anak biasa.
"Kenapa?" tanya Vano datar, menatapnya dengan mata tajam seperti sedang meneliti niat Alvaro.
Alvaro hampir tertawa dalam hati. "Buset, ucapannya udah kayak orang dewasa," pikirnya. Bocah ini terlalu tenang untuk seusianya.
Alvaro duduk di sofa kecil kontrakan itu, berusaha menjaga ekspresinya tetap tenang meskipun dalam hatinya ada begitu banyak pertanyaan yang ingin dia lontarkan. Di hadapannya, Vano ikut duduk di depan alvaro menatapnya dengan tatapan tajam yang sama sekali tidak terlihat seperti anak kecil seusianya.
"Om bisa ngobrol sama kamu sebentar?" tanya Alvaro, mencoba membuka pembicaraan.
Vano mengangkat sebelah alisnya. "Ngobrol soal apa?" tanyanya tanpa basa-basi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alnata
Narrativa generaleAlvaro yang dingin pada semua orang di temukan dengan nata yang mampu merubah dirinya, dimana mereka berdua bertemu di suatu club malam. LAPAK BXB HOMOPOBIC MINGGIR❗ **** cerita fiksi bnyk typo
