gue baru sadar ternyata di part sebelumnya, gue nggak nulis penjelasan kenapa Riyan bisa ada di rumahnya Alvaro😭.
(Riyan dan Gilang ada di rumahnya Alvaro itu karena mereka berdua ikut Brayan dan Daniel. Awalnya Brayan dan Daniel ke rumah Alvaro datang melihat teman tersayang mereka yang baru aja sampe. tapi pas tiba di rumah, mereka sudah tidak menemukan anak itu. Karena dia sudah semangat 86 pergi ke apartemen ketemu nata. jadi Brayan dan Daniel pun menyusul Alvaro ke sana. Setibanya di apartemen mereka hanya menemukan GilangRiyan di situlah. Mereka berempat sama-sama pergi ke rumah Alvaro. )
bnyk typo
🌹
****
Alvaro dan Nata duduk di sofa yang nggak terlalu empuk, menambah suasana canggung di antara mereka. Ruangan terasa penuh ketegangan, ada begitu banyak emosi yang nggak terucap.
Nata tetap diam, tatapannya kosong, sama sekali nggak mau melihat ke arah Alvaro.
“Nata…” panggil Alvaro pelan.
Tapi Nata masih tidak bereaksi.
Alvaro menarik napas dalam, berusaha mengumpulkan keberanian. “Aku tahu, kata maaf nggak bakal cukup buat nebus semua kesalahan aku. Aku sadar, aku udah nyakitin kamu. Udah ninggalin kamu di saat kamu butuh aku lebih dari siapa pun.”
Masih tidak ada respons.
Merasa putus asa, Alvaro menjatuhkan badannya ke lantai, berlutut tepat di depan Nata. Dia menggenggam tangan Nata dengan hati-hati.
“Aku nggak minta kamu buat langsung maafin aku," lanjutnya, suaranya terdengar lirih. "Tapi tolong kasih aku kesempatan buat jelasin semuanya. Kasih aku waktu buat berusaha dapetin maaf kamu... juga anak-anak."
Pelan-pelan, Nata akhirnya menatap Alvaro. Pipinya Kembali basah, air mata mengalir tanpa bisa dia tahan.
“Kamu pikir, penjelasan kamu bakal ngubah semuanya?" suaranya serak, penuh luka. "Kamu pikir aku bisa nerima kamu lagi setelah semua yang udah aku lewatin sendirian?”
Alvaro menunduk, tidak tahu harus berkata apa.
“Maaf, Nat…” hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya.
Nata tertawa kecil, tapi pahit. “Nggak ada kata lain selain 'maaf'?”
Alvaro menghela napas. “Aku nggak tahu. Kayaknya aku udah bikin terlalu banyak kesalahan sampai ngomong selain kata ‘maaf’ pun rasanya nggak pantes." Dia menatap Nata penuh harap.
"Maaf kalau aku egois, tapi kasih aku kesempatan buat perbaiki semuanya. Aku janji, aku nggak akan pergi lagi. Aku bakal tetap di sini, sampai kamu bisa maafin aku.”
Nata diam cukup lama sebelum akhirnya mengangguk pelan.
“Kamu punya waktu lima menit buat jelasin semuanya,” katanya tegas.
“Setelah itu, aku yang bakal mutusin, kamu masih layak ada di hidup aku dan anak-anak atau nggak. Dan apa pun keputusan aku nanti, kamu harus terima.”
Mendengar itu, Alvaro menatap Nata dengan sedikit harapan. Senyum kecil muncul di wajahnya.
Dia tahu, ini mungkin kesempatan terakhirnya. Dan dia nggak boleh menyia-nyiakannya.
Alvaro terdiam sejenak, menarik napas dalam sebelum mulai bercerita. "Beberapa hari setelah aku tiba di sana, Papa nyuruh aku buat berhenti menghubungi siapa pun yang ada di sini. Aku nolak, tapi dia bilang kalau aku nggak nurut, lihat saja apa yang bakal dia lakukan ke kamu dan Mama. Dia yakin aku bisa menyelesaikan semuanya di sana dalam satu tahun, lalu langsung kembali. Jadi menurut papa, apa susahnya buat nurutin keinginannya? Aku nggak tahu harus gimana selain mengikuti kemauan papa. Aku pernah menolak ancaman Papa sebelumnya, dan saat itu Mama yang jadi korban. Aku nggak mau itu terjadi lagi," suara Alvaro terdengar berat, penuh sesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alnata
General FictionAlvaro yang dingin pada semua orang di temukan dengan nata yang mampu merubah dirinya, dimana mereka berdua bertemu di suatu club malam. LAPAK BXB HOMOPOBIC MINGGIR❗ **** cerita fiksi bnyk typo
