alnata 11

1.4K 68 1
                                    

bnyk typo

🌹

****
Ruangan kantor berdiri megah di lantai teratas Gedung pencakar langit, dengan jendela kaca besar yang menyajikan pemandagan kota. Meja kerjanya yang luas berdiri kokoh di tengah, di Kelilingi sofa kulit yang nyaman untuk pertemuan informal seperti ini.

Brayan dan Daniel duduk di sofa itu, memperhatikan alvaro yang berdiri di dekat jendela, matanya memandang ke arah luar seolah Menyusun rencana besar

“gue tau lo nggak mungkin manggil kita ke sini cuman buat ngobrl biasa” kata brayan mengilangkan tangan di dada “butuh bantuan?” lanjut brayan bertanya

Daniel mengangguk kepalanya sambil menyandarkan tubuhnya “iya biasanya kalau lo ngajak ngobrol di sini berarti ada hal  gila yang harus gue sama brayan kerjakan”

Alvaro berbalik, berjalan ke arah mereka, lalu duduk di kursi berhadapan dengan kedua temannya. Ia menyatukan kedua tangan, ekspresinya serius

“gue mau minta bantuan lo berdua”

“iya tahu” jawab brayan dengan nada santai “pertanyaanya bantuan apa?”

“bantu bawa nata tinggal di apartemen bareng gue, hukuman yang rito kasih masih berlaku sampe sekarang” ujarnya langsung tanpa bas abasi

Daniel langsung memasang ekspresi serius “omny nata? Lo pikir gampang var?”

“iya, makanya gue butuh bantuan kalian” jawab alvaro “rito ngga bakal izinin gue bawa nata kecuali dia benar-benar butuh gue. Jadi rencananya, gue mau bikin dia bergantung sama kita.. dan itu berarti gue butuh lo berdua”

Brayan meletakan poselnya dan mencondongkan tubuh kedepan “maksud lo, kita bakal kerja buat dia?”

“bukan kerja, tapi bantu. Bray, lo ahli di bidang pemasaran digital. rito lagi keringgalan jauh di situ. Kalau lo bisa bikin bisnis dia naik di pasar, dia bakal mulai lihat lo sebagai asset penting”

Brayan mengangkat alis “dan gue harus ninggalin tanggung jawab gue di kantor ini buat ngurus bisnis orang lain?”

Daniel yang sedari tadi diam, ikut bersuara “sama, var. Gue terlalu banyak proyek yang harus gue urus di sini. Kalau gue fokus bantuin rito, kantor lo siapa yang jalani?”

Alvaro tersenyum tipis, mengantisipasi keberatan mereka “kantor ini gak bakal ada masalah. Perusahaan gue udah terlalu besar untuk goyah Cuma karena lo berdua fokus ke tempat lain sementara waktu”

Brayan menyenpitkan matanya “dan lo pikir siapa yang bakal nge-handle semua ini kalau kita nggak ada?”

Alvaro menatap mereka dengan ercaya diri “gue, bokap gue, dan orang-orang kepercayaan kita yang lain. Lo tahu kan, gue ngga sembarangan pilih orang buat ada di posisi penting di sini. Semua sudah di atur kalain fokus aja bantu rito”

Daniel mengangguk perlahan, mulai mempertimbangkan “lo yakin Perusahaan lo bakal tetap stabil?”

“gue lebih dari yaikn” jawab alvaro menetap “ini bukan tentang bisnis semata. Ini tentang nata, gue ngga mau dia terus-terusan hidup kayak gitu. Lo berdua tahu gue ngga bakal minta ini kalau gue ngga serius”

Daniel menghelah napas Panjang “gue juga, tapi gue mau akses penuh ke data rito biar gue bisa kerja maksimal”

“done” kata alvaro sambil berdiri

Brayan menyeringai, lalu melipat tangannya di dada sambil menggoda “ngeri bangat teman gue kalau udah jatuh cinta. Serius bangat usahanya”

Daniel ikut menimpali sambil tertawa kecil “gue penasaran si nata pake dukun yang mana sampai teman gue repot begini”

AlnataTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang