alnata 23

1K 62 4
                                    

bnyk typo

🌹

****
Alvaro melangkah masuk ke dalam rumahnya yang megah, suasana terasa tenang namun penuh formalitas. Para maid menyambutnya dengan sopan, memberikan sedikit anggukan.

“dimana papa?” tanya alvaro, saat ia berpapasan dengan kepala maid di salah satu koridor panjang rumahnya.

"Tuan besar ada di ruang kerja, Tuan Muda. Tapi beberapa menit lagi beliau akan pergi," jawab kepala maid dengan sopan.

Alvaro hanya mengangguk kecil sebelum melangkah pergi. Kepala maid menunduk hormat saat ia berlalu
Sesampainya di depan ruang kerja ayahnya, Alvaro mengetuk pintu dengan pelan, lalu masuk tanpa menunggu lama.

"Papa," panggil Alvaro dengan nada tegas, berdiri tegap di ambang pintu.
Arsenio ayah Alvaro, duduk di kursi kerjanya yang besar dengan aura wibawa yang sulit diabaikan. Ia menutup dokumen di tangannya dan menatap putranya sambil tersenyum tipis.

"Gimana kabar kamu, Alvaro? Setelah pergi dengan nata, kamu hampir tidak pernah menginjakkan kaki di rumah ini lagi," ucapnya tenang, namun sarat dengan nada sindiran.

"Kabar aku baik," jawab Alvaro, Ia melangkah mendekat. "ada yang ingin varo tanyakan di papa"

Arsenio mengisyaratkan Alvaro untuk duduk di depan mejanya. "Duduk dulu"

Alvaro duduk di depan papanya “papakan yang nyuruh kevin?” tanya Alvaro to the point

Pak Arsenio menyandarkan tubuhnya ke kursi, melipat tangannya di depan dada. "Itu hanya sedikit permainan untukmu, Alvaro," jawabnya santai, seolah tindakannya tidak berarti apa-apa.

Alvaro mengepalkan tangannya, menahan emosi. "Papa, kalau Papa ingin bermain sama varo, jangan libatkan Nata. Apa pun itu, cukup aku yang Papa hadapi."

Arsenio terkekeh kecil, menatap putranya seperti seorang anak kecil yang keras kepala. "Kenapa? Kamu takut ?"

"Ini bukan soal takut atau tidak. varo memperingatkan Papa, sekali lagi, jangan pernah melibatkan Nata dalam masalah apapun," ucap Alvaro dengan nada tajam, menatap papanya tanpa gentar.

Arsenio bangkit dari kursinya, berjalan ke arah jendela besar di ruang kerjanya Ia tertawa kecil. "Saya tidak melibatkan siapapun. Saya hanya ingin melihat seberapa jauh kamu akan melanggar aturan."

"Aturan apa maksud Papa?" tanya Alvaro, alisnya berkerut.

Arsenio berbalik, menatap Alvaro dengan tatapan tegas. "Saya lihat kamu semakin dekat dengan dia. Jangan lupa siapa kamu, Alvaro Adijaya. Kamu memiliki tanggung jawab, nama besar keluarga yang harus kamu jaga."
Belum sempat Alvaro membalas, Arsenio melanjutkan dengan nada tajam, "Bukankah sudah saya katakan untuk tidak tinggal satu kamar dengan dia? Tapi apa yang kamu lakukan? Tetap saja sekamar, seperti tidak ada aturan di rumah ini."

Alvaro menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. "Papa, aku tinggal dengan Nata hanya karena aku butuh teman. Tidak lebih. Jadi, aku mohon, berhenti melakukan hal-hal aneh yang bisa menyulitkan dia," ucapnya serius, mencoba mengendalikan situasi.

Arsenio menyipitkan mata, mengamati putranya. "Kalau kamu butuh teman, kenapa tidak pulang saja ke rumah ini? Tinggal di sini, bukannya menghabiskan waktu dengan dia."

Alvaro terdiam, tak langsung menjawab. Ia tahu percuma memperdebatkan hal ini dengan ayahnya.

Arsenio melanjutkan dengan nada lebih ringan, namun tetap berwibawa, "Nanti malam datang ke rumah. Kita makan malam bersama. Ada beberapa teman Papa yang ingin bertemu denganmu."

Alvaro menatap ayahnya sejenak, lalu berkata, "Laporan perkembangan perusahaan sudah varo kirim ke email Papa. Kalau waktunya makan malam nanti sudah pasti, Papa bisa DM varo. Varo akan datang. Tapi satu hal lagi, tolong jangan pernah lagi melibatkan Nata dalam urusan kita."

AlnataTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang