alnata 32

530 62 9
                                    

bnyk typo

🌹

****

Nata menatap kedua sahabatnya dengan mata yang memerah, air mata tak henti-hentinya mengalir di pipinya. Dengan suara bergetar, dia kembali mengulang, "Gue gak mau hamil. Ayo temani gue gugurin anak ini."

Gilang terdiam sejenak, lalu menatapnya tajam. "Jangan gila lo, Winata!" suaranya meninggi, mencoba menyadarkan Nata dari kepanikan yang menguasainya.

Nata menggigit bibir, tubuhnya gemetar. "Gue masih kuliah, Lang. Gue udah gak punya siapa-siapa. Alvaro gak mungkin balik sekarang, dia baru aja pergi. Ayo temani gue. Gue mohon, sebelum perut gue mulai keliatan." Dengan putus asa, ia menggenggam tangan Gilang dan Riyan bergantian, berharap mereka akan membantunya.

Namun, bukannya membantu, Gilang justru menepis tangannya. "Ada gue sama Riyan. Lo sadar gak sih sama apa yang lo omongin?!"

Nata mengangguk cepat, "Sadar! Gue tau ini gila, tapi gue gak bisa, Lang. Gue gak bisa!" Dia berbalik, melangkah menuju kamar. "Tunggu, gue ambil HP sama dompet dulu. Kita pergi sekarang juga."

Namun, sebelum ia sempat mengambil barangnya, tangan Gilang sudah lebih dulu menahan pergelangan tangannya dengan kuat. "WINATA!!" suaranya terdengar penuh emosi. "Anak itu hadir karena kesalahan lo sama Alvaro! Kalau lo gak siap, kenapa lo berani berbuat? Sekarang lo tega bunuh anak lo sendiri?!"

Nata terdiam, tubuhnya melemas. Dia ingin menyangkal, tapi kata-kata Gilang menusuk hatinya. Riyan yang sejak tadi diam, langsung mengambil ponselnya. "Gue coba telepon Alvaro sekarang. Dia harus tahu soal ini."

"Lang." suara Nata lirih.

"Apa?!! Kalau lo gak mau rawat dia, setidaknya kasih tahu Alvaro! Alvaro wajib tahu, Nata! Lo gak bisa ambil keputusan sendiri kayak gini!"

Nata menggeleng cepat. "Bukan itu! Nomor Alvaro gak aktif dari semalam."

Gilang dan Riyan saling berpandangan. "Maksud lo?" tanya Riyan dengan alis berkerut.

"Gue udah coba telepon dia semalam, tapi gak aktif. Semua sosial medianya juga gak bisa dihubungi. Gue udah coba berkali-kali. Gue gak bisa tidur, tiba-tiba kangen banget, pengen dengar suara dia. Tapi sampe sekarang gak ada kabar sama sekali." suara Nata terdengar semakin lemah.

Gilang menarik napas dalam. "Lo tau rumah orang tuanya dia?"

Nata mengangguk pelan. "Tau. Kenapa?"

"Gue temani lo ke sana. Kita suruh mereka hubungi Alvaro."

Tapi Nata justru menggeleng cepat. "Jangan, Lang."

"Lo kenapa sih, Nat?! Lo masih mau bunuh anak lo sendiri?!" nada suara Gilang terdengar semakin frustasi.

"Lo bisa gak sih gak usah bentak-bentak gue?!!" balas Nata, mulai emosi.

Riyan yang sejak tadi mencoba meredam suasana, menarik tangan Gilang agar lebih tenang. "Kita ke rumah Alvaro aja ya, Nat? Kasihan anak lo. Jangan ambil keputusan kayak gini, nanti lo nyesel." suaranya lembut, penuh ketulusan.

Nata menunduk, bahunya naik turun karena menangis. "Maaf, Yan. Tadi gue panik, makanya bilang gitu. Maaf."

"Gak apa-apa. Wajar kalau lo panik. Jadi sekarang lo mau ke rumah Alvaro?" tanya Riyan lagi

Nata menggeleng pelan. "Gak mau. Papanya Alvaro jahat. Nanti dia apa-apain anak gue."

"Lo udah pernah ketemu bokapnya Alvaro?" tanya gilang

"Udah. Dia juga yang paksa Alvaro buat pergi."

Gilang mendengus kesal. "Terus sekarang gimana? Nomor Alvaro masih gak bisa dihubungi."

AlnataTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang