two

171 12 0
                                        

Hyunjin membanting kunci mobil di atas meja rias, tubuhnya terasa remuk.  Lampu studio masih berputar-putar di kepalanya, sisa-sisa riasan tebal terasa lengket di kulit. Pemotretan hari ini benar-benar melelahkan.  Ia merogoh ponselnya, berharap ada pesan dari manajernya tentang jadwal berikutnya.  Yang muncul justru panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenal.  Ia menghela napas, menekan tombol call back.

"Hyunjin-ssi? Ini dari SMA Sejong.  Adik Anda, Niki, terlibat perkelahian di lapangan sekolah.  Kami perlu Anda datang menjemputnya."

Hyunjin mengerutkan dahi.  Niki.  Adiknya yang urakan dan dingin itu.  Mereka sudah lama pisah rumah, hubungan mereka renggang dan dipenuhi ketegangan.  Ia sudah lama pasrah dengan sikap Niki yang selalu menantang dan membencinya.  Tapi, kabar ini tetap saja membuatnya was-was.

"Sekarang juga?" tanyanya, suaranya datar.

"Ya, sebaiknya segera.  Niki mengalami beberapa luka ringan, tapi kami khawatir akan kondisinya."

Hyunjin menggeram.  Ia mandi cepat, mengganti pakaiannya.  Pikirannya melayang pada sosok Niki,  bayangan wajahnya yang dingin dan penuh sinisme.  Ia tidak yakin apa yang akan ia lakukan jika harus menghadapi Niki dalam kondisi seperti ini.  Ia bahkan tidak yakin apakah ia peduli.

Di sekolah, ia menemukan Niki duduk di ruang kepala sekolah, wajahnya lebam, bibirnya berdarah.  Niki tidak menatapnya, matanya kosong dan dingin.  Kepala sekolah menjelaskan singkat, perkelahian itu bermula dari pertengkaran sepele dengan siswa lain.  Niki, seperti biasanya, tidak mau berkompromi.

Hyunjin menghela napas.  Ia tidak bertanya, tidak mendekat.  Ia hanya diam-diam mengeluarkan beberapa lembar uang dan menyerahkannya kepada kepala sekolah untuk biaya pengobatan Niki.

"Saya akan membawanya pulang," katanya, suaranya dingin, menyamai sikap Niki.

Di dalam mobil, keheningan menyelimuti mereka.  Hyunjin menyetir dengan tenang, sesekali melirik Niki dari sudut matanya.  Niki tampak enggan untuk menatapnya.  Ia memeluk dirinya sendiri, seolah melindungi diri dari Hyunjin.

Sesampainya di apartemen Niki, Hyunjin hanya menunjuk ke kamar Niki.  "Bersihkan dirimu," katanya, lalu berbalik dan meninggalkan Niki sendirian.

Ia duduk di sofa, kelelahan dan kekecewaan bercampur aduk.  Ia tidak tahu bagaimana harus menghadapi Niki, bagaimana harus memperbaiki hubungan mereka yang sudah hancur.  Ia hanya bisa pasrah,  menunggu sampai Niki sendiri yang mau berubah.  Mungkin, suatu hari nanti.  Tapi untuk saat ini,  ia hanya ingin melupakan semuanya dan tidur.  Ia terlalu lelah untuk peduli.


(Ponsel Hyunjin berdering, menampilkan nama Jeongin. Ia menjawab dengan suara berat.)

Hyunjin:  Jeongin.

Jeongin: (Suara datar, tapi sedikit lebih hangat daripada suara Niki) Hyung.  Ada apa?  Kau sudah sampai rumah?

Hyunjin:  Ya.  Ada sedikit masalah.  Tentang Niki.

Jeongin: (Nada suaranya sedikit berubah, menunjukkan rasa was-was)  Niki?  Ada apa dengannya?

Hyunjin:  Dia bertengkar di sekolah.  Kelihatannya gara-gara masalah sepele, tapi…  dia sampai dipanggil ke ruang kepala sekolah.

Jeongin: (Diam sejenak)  Bertengkar?  Lagi?  Kali ini gara-gara apa?  Jangan bilang dia berkelahi lagi karena masalah uang jajan.

Hyunjin:  Bukan.  Kali ini…  katanya dia dituduh mencuri dompet seorang senior.  Jelas-jelas dia tidak melakukannya, tapi senior itu bersikeras.  Niki menolak minta maaf, jadi…  ya, bertengkarlah mereka.

Jeongin: (Menghela napas panjang)  Niki…  dia memang keras kepala.  Tapi kalau memang tidak bersalah, kenapa tidak menjelaskan saja dengan tenang?

Hyunjin:  Itulah masalahnya.  Dia tidak bisa menjelaskan dengan tenang.  Sifatnya memang begitu.  Aku sudah bicara dengan kepala sekolah, dan mereka sudah mengklarifikasi semuanya.  Untungnya ada CCTV yang merekam kejadian sebenarnya.  Niki tidak bersalah.

Jeongin:  Syukurlah.  Tapi Hyung…  aku tetap khawatir.  Dia selalu membuat masalah.  Meskipun kita tidak tinggal bersama, dia tetap adikku.

Hyunjin:  Aku mengerti.  Tapi kau harus fokus pada dirimu sendiri.  Kuliahmu penting.  Jangan sampai terganggu karena masalah Niki.  Aku akan mengurusnya.  Dan kali ini, aku akan memastikan dia belajar dari kesalahannya.

Jeongin: (Menghela napas)  Baiklah, Hyung.  Tapi…  hubungi aku jika ada perkembangan.

Hyunjin:  Tentu.  Aku akan memberitahumu jika ada sesuatu.  Sekarang istirahatlah.

Jeongin:  Ya.  Selamat malam, Hyung.

Hyunjin:  Selamat malam.  (Menutup telepon.  Ia menghela napas panjang.  Meskipun Jeongin juga dingin, setidaknya dia masih menunjukkan sedikit rasa peduli.  Tapi masalah Niki…  ini akan menjadi masalah yang panjang.)

hyunjin haremTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang