□pertemuan pertama & Ending

210 11 0
                                        

Sinar matahari pagi menerpa wajah Hyunjin dan teman-temannya saat mereka tiba di Panti Asuhan "Rumah Harapan".  Mereka membawa kardus-kardus berisi buku cerita anak, mainan edukatif, dan pakaian layak pakai. 

Hyunjin, dengan senyum ceria, memimpin timnya membagikan donasi kepada anak-anak panti.  Suasana ramai dan penuh keceriaan, tawa anak-anak bercampur dengan obrolan para relawan.

Di sudut lain ruangan, San dan kelompoknya, yang terdiri dari seniman muda[ biarpun kek preman, klo di luar geng mereka ini berbakat loh ],
sedang sibuk menyiapkan perlengkapan melukis.  Mereka berencana untuk mengadakan sesi melukis bersama anak-anak.  San, dengan sabar dan penuh semangat, membimbing anak-anak kecil yang antusias dengan kuas dan cat warna-warni.

Pertemuan mereka terjadi secara tak terduga di tengah kesibukan.  Hyunjin, yang sedang membantu seorang anak kecil memilih buku cerita, tanpa sengaja bertabrakan dengan San yang membawa ember berisi cat.  Seketika, tawa pecah di antara mereka.  Cat sedikit tumpah, tetapi semua orang tertawa, termasuk anak-anak panti.

"Maaf," kata San, sambil membersihkan cat yang tumpah.  "Aku San."

"Hyunjin," jawab Hyunjin, sambil tersenyum.  "Tidak apa-apa, kok."

Dari situ, percakapan mereka mengalir dengan lancar.  Ternyata, mereka memiliki banyak kesamaan, termasuk rasa suka terhadap anak-anak dan kepedulian terhadap sesama.  Setelah kegiatan berbagi selesai, mereka bertukar nomor telepon.

Beberapa minggu kemudian, mereka bertemu lagi, bukan di panti asuhan, tetapi di sebuah kafe.  Mereka merasa ada kecocokan di antara mereka, namun tak ada percikan romantis yang berarti.

Mereka menghabiskan waktu dengan kegiatan yang bisa dibilang…gabut.  Bermain game online, menonton video-video lucu di internet, dan bercerita tentang kegiatan sehari-hari mereka yang biasa saja.

Namun, di tengah kebersamaan yang sederhana dan agak membosankan itu, sesuatu mulai tumbuh.  Kedekatan mereka semakin erat, tawa mereka semakin lepas, dan tanpa mereka sadari, rasa nyaman dan ketertarikan mulai muncul. 

Dari rasa gabut yang tak terduga, mereka menemukan sebuah hubungan yang tak terduga pula. 
Dan akhirnya, di sebuah sore yang hujan, di sebuah kafe yang sama, mereka resmi berpacaran, sebuah kisah cinta yang bermula dari kegiatan berbagi dan diakhiri dengan… ya, sedikit rasa gabut yang tak terduga.

||Skip||

Hari-hari awal pacaran Hyunjin dan San dipenuhi oleh kebosanan yang tak terduga.  Bukannya romantis bak drama Korea, mereka justru lebih sering menghabiskan waktu dengan kegiatan yang… ya, sebut saja gabut tingkat dewa.

Mulai dari maraton menonton drama Korea—yang seringkali berakhir dengan pertengkaran kecil karena perbedaan selera—sampai perang bantal yang berujung pada tumpukan bantal dan selimut di lantai.

Mereka juga menghabiskan waktu berjam-jam bermain game online, saling mengejek ketika salah satu dari mereka kalah, dan berteriak-teriak ketika menang.

Suatu sore yang cerah, mereka memutuskan untuk membuat kue.  Hasilnya?  Kue yang bentuknya agak aneh dan rasanya… ya, bisa dibilang eksperimental. 
Mereka tertawa terbahak-bahak melihat hasil karya mereka yang gagal total, lalu berakhir dengan makan es krim sambil menonton video-video lucu di internet.

Ada juga sesi karaoke dadakan di kamar Hyunjin, dengan suara mereka yang fals dan sumbang, namun dipenuhi oleh tawa lepas.  Mereka bernyanyi dengan penuh semangat, tanpa peduli dengan kualitas suara mereka.  Yang penting, mereka bersenang-senang bersama.

Mereka juga sering menghabiskan waktu hanya dengan duduk berdampingan, tanpa melakukan apa pun. 

Hanya diam, saling menatap, sesekali bertukar senyum atau bercanda kecil.  Keheningan di antara mereka bukanlah keheningan yang canggung, melainkan keheningan yang nyaman, penuh dengan kenyamanan dan kehangatan.

hyunjin haremCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang