Jejak Pertama

81 8 0
                                        

Pertemuan itu berakhir dengan kesepakatan sederhana: kontrak akan diperpanjang, detailnya dibicarakan oleh agensi. Tidak ada hal mencurigakan. Setidaknya… bagi siapapun yang melihat dari luar.

Hyunjin bangkit, membungkuk sopan.
“Terima kasih atas waktunya, CEO-nim. Saya akan menunggu kabar dari pihak perusahaan.”

Samuel ikut berdiri, menatapnya dengan tatapan yang membuat Hyunjin merasa seperti ditahan meski kakinya sudah melangkah.
“Senang akhirnya bisa bertemu langsung denganmu, Hyunjin-ssi. Kuharap ini bukan pertemuan terakhir.”

Hyunjin tersenyum tipis. Profesional.
“Tentu. Sampai jumpa lagi.”

---

Begitu pintu tertutup, Samuel menarik napas dalam-dalam. Tangannya mengepal pelan di saku celana. Senyum yang tadi ia tahan kini muncul jelas di wajahnya.

> “Akhirnya… setelah bertahun-tahun hanya menatapmu dari layar.”

Ia melangkah ke meja kerjanya, mengambil berkas kontrak yang sebenarnya hanya dalih. Di balik kertas itu, terselip sebuah foto majalah lama—Hyunjin saat pertama kali menjadi model untuk brand miliknya tiga tahun lalu. Foto yang diam-diam Samuel simpan.

Samuel menyentuh permukaan foto itu dengan ujung jarinya.
“Ini baru awal, Jinnie. Aku tidak akan berhenti di sini.”

---

Di sisi lain, Hyunjin duduk di mobil van bersama asistennya. Pandangannya menatap kosong ke luar jendela. Ia seharusnya fokus pada jadwal berikutnya, tapi kata-kata Samuel tadi terus terngiang.

> “Aku ingin menjadi orang yang bisa melihat sisi itu darimu.”

Hyunjin menggenggam erat botol minum di tangannya. Ada sesuatu yang aneh—perasaan tidak nyaman bercampur dengan rasa penasaran.

“Asa… gwenchana, Hyunjin-ah?” tanya asistennya, menoleh dengan cemas.

Hyunjin tersenyum kecil, menutup rapat pikirannya.
“Ah, iya. Aku hanya sedikit lelah.”

Namun dalam hati, ia tahu… tatapan Samuel tadi bukan sekadar tatapan CEO biasa.

---

Malam itu, di apartemen mewahnya, Hyunjin berdiri di depan cermin besar. Ia melepaskan jasnya, hanya tersisa kemeja putih yang sedikit longgar. Rambut panjangnya jatuh menutupi sebagian wajah.

Ia menatap dirinya sendiri. Wajah sempurna, tubuh sempurna. Idol yang dicintai jutaan orang. Tapi kenapa, setelah bertemu Samuel, ia merasa… topeng itu seakan mulai retak?

Senyum samar muncul di bibirnya, senyum yang jarang ia biarkan terlihat.
“Mengapa… aku penasaran padamu, CEO-nim?”

---




















Studio pemotretan siang itu penuh dengan kesibukan. Lampu sorot menyala terang, kamera bergantian mengambil gambar, dan tim stylist sibuk memperbaiki detail pakaian Hyunjin.

“Hyunjin-ssi, sedikit miring ke kiri… bagus… tahan pose itu!” fotografer berteriak bersemangat.

Hyunjin bergerak luwes. Setiap sudut wajahnya seakan diciptakan untuk kamera. Dengan kemeja satin berwarna gelap dan kalung tipis melingkar di leher jenjangnya, ia terlihat seperti lukisan hidup. Semua orang di ruangan terpukau.

Namun, ketika Hyunjin mengganti pose, matanya sekilas menangkap sosok asing di sudut ruangan. Tubuh tinggi dengan jas biru tua, berdiri dengan tenang sambil memperhatikan…

Samuel.

---

Hyunjin menahan napas sejenak, lalu segera kembali fokus pada kamera. Tapi sulit baginya mengabaikan tatapan tajam dari sudut ruangan itu.

hyunjin haremCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang