Hujan rintik turun malam itu, membuat trotoar kampus berkilau seperti kaca. Di bawah lampu kuning yang temaram, Jinnie berdiri sambil menarik napas pendek—seolah berusaha menelan gumpalan resah di tenggorokan.
Sudah seminggu ia menghindari seseorang.
Seseorang yang seharusnya tidak begitu memengaruhinya.
Seseorang bernama Lee Minho.
“Loh, lari lagi?”
Suara itu muncul dari belakang, tenang tapi menekan. Suara yang ia kenal terlalu baik.
Hyunjin menelan ludah dan memutar badan.
Minho berdiri bersandar pada tiang lampu, rambut basah sedikit menempel di dahi, hoodie hitamnya setengah basah. Mata kucingnya menatap Jinnie dalam, seperti bisa membaca isi hati tanpa izin.
“Gue… cuma mau pulang,” gumam Hyunjin.
“Tanpa nunggu gue?” Minho menyipitkan mata. “Padahal lo yang bilang minggu lalu, kalau lo gak mau sendirian lagi.”
Hyunjin terdiam. Dadanya mengencang. Ia membenci fakta bahwa Minho mengingat detail kecil yang bahkan ia sendiri ingin lupakan.
Langkah Minho mendekat.
Pelan. Mantap.
Sampai jarak mereka tinggal sejengkal.
“Kenapa menjauh?” bisik Minho. Suaranya dalam dan hangat, tapi ada tepi tajam di sana—khas Minho. “Ada yang berubah? Atau...” Minho menunduk sedikit, menatap bibir Jinnie. “Lo takut sama gue?”
Hyunjin memalingkan wajah cepat-cepat, tapi Minho menangkap pergelangan tangannya—tidak keras, tapi cukup membuat Hyunjin berhenti melangkah.
“Jawab, Jinnie.”
Hening mengalir di antara mereka, hanya suara hujan sebagai latar.
“…Gue nggak takut,” akhirnya Hyunjin berbisik lirih.
“Tapi lo bikin gue bingung.”
Minho tersenyum kecil—senyum yang terlalu berbahaya untuk seseorang seperti Jinnie.
“Bagus,” Minho mendekat sedikit lagi, napasnya hangat di telinga pria itu “Karena gue nggak pernah berhenti mikirin lo.”
Hyunjin tersentak kecil, telinganya memerah. Minho menahan tawa, tapi genggamannya tidak dilepaskan.
“Minggu ini,” lanjut Minho, “kita bicarain semuanya. Lo, gue… dan apa pun yang selama ini lo sembunyiin.”
Hyunjin terdiam.
Tidak setuju.
Tapi tidak menolak juga.
“Gue anter lo pulang.”
Minho menarik tudung hoodie Jinnie, memasangkannya dengan gerakan lembut.
Sesampainya di depan pintu kamar asrama, Jinnie buru-buru membuka pintu.
“Thanks udah nganter,” katanya cepat, jelas ingin menutup pintu sebelum Minho sempat bicara lagi.
Tapi Minho menahan pintu dengan tenang, satu tangan saja.
“Gue masuk bentar.”
“Minho…” Jinnie menatapnya dengan bingung, tapi Minho sudah masuk terlebih dulu, seperti seseorang yang memang punya tempat di sana.
Kamar itu gelap. Minho menyalakan lampu kecil di meja belajar—cukup untuk menerangi ruangan dengan cahaya hangat kekuningan. Jinnie memegangi dada yang tiba-tiba terasa sempit.
Minho menarik kakinya, duduk di tepi ranjang Jinnie.
“Nih,” katanya sambil menunjuk kursi. “Duduk. Kita ngomong.”
Jinnie menurut, tapi tidak menatap Minho.
“Gue liat lo tadi sama cowok dari kelas vokal,” kata Minho tiba-tiba. Suaranya datar… terlalu datar. “Dia deket banget sama lo.”
Jinnie tersentak. “Hah? Itu cuma—”
“Lo ketawa sama dia,” potong Minho pelan, dengan nada yang membuat tengkuk Jinnie merinding. “Gue udah jarang liat lo ketawa kayak gitu belakangan.”
Hyunjin menelan ludah. “Lo cemburu?”
Minho tidak menjawab. Ia hanya mencondongkan badan, mempersempit jarak mereka. Jarak wajahnya tinggal beberapa sentimeter.
“Gue cuma nggak suka,” gumam Minho, “kalau ada orang lain yang bikin lo nyaman selain gue.”
Hyunjin terdiam.
Hening tebal memenuhi kamar kecil itu.
“Tapi lo yang menjauh,” bisik Jinnie, suaranya pecah. “Lo yang bikin gue bingung…”
Minho menatapnya lama.
Lalu tanpa peringatan, ia meraih dagu Jinnie dengan dua jari. Sentuhan ringan… tapi cukup membuat Jinnie gemetar.
“Gue cemburu,” katanya akhirnya, jujur dan tanpa filter.
“Gue kesel. Gue takut lo makin jauh kalau ada orang lain.”
Hyunjin membeku.
“Dan…” Minho menarik Jinnie mendekat perlahan, napasnya menyentuh bibir Jinnie.
“…gue marah karena lo nggak ngeliat kalau gue cuma pengen lo deket sama gue.”
Jinnie menutup mata, telinganya panas.
“Lino!!… ini berlebihan.”
Minho tersenyum tipis. “Berlebihan cuma kalau lo nggak ngerasain hal yang sama.”
Jinnie membuka mata, hendak menyangkal, tapi Minho sudah menahan pergelangan tangannya, menariknya ke dada.
“Lo boleh ngomong apa pun,” bisik Minho, suaranya rendah menggoda. “Tapi badan lo—”
Minho mengusap ibu jarinya di pergelangan Jinnie yang berdenyut cepat.
“—nggak pernah bohong.”
Jinnie mengalihkan pandang, pipinya merah.
Minho tertawa kecil, nada puas.
“Besok,” kata Minho lembut tapi tegas, “lo nggak usah deket-deket sama cowok itu lagi.”
“Kenapa?”
“Karena gue belum selesai sama lo.”
KAMU SEDANG MEMBACA
hyunjin harem
Fan-Fictiontentang hyunjin dan para haremnya Konsumsi pribadi Klo ngak suka ya udh terserah Vote aja klo mau Maaf weeee sering ilang hehe Random ae Malas ngetik Update kalo udh ada 35 mata Dan klo udh 10 vote Update klo ide lancar Ak ngetik pakai AI Udh tau...
