BWS

202 8 1
                                        

Lampu studio redup, hanya menyisakan satu sorot putih yang jatuh tepat di tengah ruangan.
Hyunjin berdiri di sana—tenang, bahunya rileks, napasnya mengikuti irama musik yang perlahan naik.

Gerakannya sederhana.
Langkah kaki yang ringan, putaran kecil, seolah tubuhnya berbicara lebih dulu sebelum pikirannya sempat menyusun kata. Ada keanggunan alami dalam caranya bergerak—bukan untuk pamer, hanya jujur pada musik.

Di balik kamera, Byeon Woo-seok menyandarkan bahu ke dinding.
Tatapannya tidak lepas.

Bukan karena tariannya sempurna.
Tapi karena Hyunjin terlihat… bebas.

Saat musik berhenti, Hyunjin tersenyum kecil—senyum yang tidak dibuat-buat. Ia meraih pinggang celananya yang sedikit longgar, membenarkannya sambil terkekeh pelan, seolah baru sadar ia sedang direkam.

“Maaf,” katanya singkat.
Nada suaranya ringan, hampir malu.

Woo-seok melangkah mendekat.
“Kenapa minta maaf?” tanyanya. “Kamu kelihatan menikmati itu.”

Hyunjin menunduk sebentar, lalu mengangkat bahu.
“Aku jadi lupa kalau ada orang lain.”

Woo-seok tersenyum. Bukan senyum lebar—tapi yang hangat, stabil.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “nggak apa-apa. Kamu boleh lupa. Aku nggak keberatan jadi satu-satunya yang lihat.”

Hyunjin mendongak.
Tatapan mereka bertemu.

...







...



























Hyunjin jarang keluar malam kalau bukan karena satu orang.

“Cepet,” katanya sambil menarik topi lebih dalam. “Nanti ada yang kenal.”

Byeon Woo-seok terkekeh pelan. “Kamu ini idol, hyun. Dari cara jalan aja udah kelihatan.”

Mereka berjalan berdampingan di trotoar yang setengah sepi. Lampu kota memantul di aspal basah, udara malam dingin tapi nyaman. Tidak ada manajer. Tidak ada kamera—setidaknya, itu yang mereka kira.

Hyunjin masih pakai hoodie hitam kebesaran. Tangannya sesekali menyentuh lengan Woo-seok tanpa sadar, kebiasaan kecil yang selalu terjadi kalau mereka berdua.

“Aku capek hari ini,” gumam Hyunjin.
Woo-seok melambatkan langkah. “Makanya aku ajak keluar. Biar kamu nggak mikir.”

Mereka beli minuman hangat di kedai kecil yang buka sampai larut. Duduk di bangku luar, bahu mereka saling bersentuhan. Tidak ada percakapan berat—hanya cerita acak, tawa kecil, dan keheningan yang terasa aman.

“Orang-orang selalu mikir kita ketemu karena kerja,” kata Hyunjin tiba-tiba.
Woo-seok mengangkat alis. “Padahal?”

“Padahal ya… aku nyaman aja sama kamu.”

Woo-seok tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum, lalu menyodorkan minuman ke Hyunjin. “Minum dulu.”

Malam makin larut. Mereka berjalan lagi, tanpa tujuan. Kadang berhenti cuma buat lihat etalase toko yang sudah tutup. Kadang tertawa karena hal sepele.

Lalu—
klik.

Hyunjin refleks berhenti. “Barusan… kamu dengar itu?”

Woo-seok menoleh. Di seberang jalan, ada bayangan yang cepat bersembunyi. Terlalu familiar untuk diabaikan.

“Sepertinya… iya,” jawab Woo-seok tenang.

Hyunjin menelan ludah. “Kalau besok berita—”

“Tenang,” potong Woo-seok lembut. “Kita kan teman. Itu fakta.”

hyunjin haremTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang