247 14 0
                                        

Ruangan itu dipenuhi dengan ketegangan. Keluarga Jisung, sederhana namun berwibawa, duduk berhadapan dengan keluarga Hyunjin, yang memancarkan aura kekayaan dan kekuasaan. Di tengah-tengah mereka, Jisung dan Hyunjin duduk dengan tegang, seperti dua pion dalam permainan catur yang menegangkan.

Bapak Kim, kepala keluarga Hyunjin, memulai dengan suara dingin dan berwibawa.

"Pernikahan ini adalah kesepakatan bisnis. Jangan sampai ada yang mengacaukannya." Matanya tajam menatap Jisung.

Hyunjin meremas tangannya di bawah meja, kuku-kukunya menancap ke telapak tangannya.  Wajahnya pucat pasi, namun ia berusaha untuk tetap tenang. 

Jisung, di sampingnya, merasakan tangan Hyunjin menegang.  Ia diam-diam menggenggam tangan Hyunjin, memberikan sedikit dukungan.

Ayah Jisung, seorang pria sederhana namun teguh, membalas dengan suara yang tak kalah tegas.

"Pernikahan ini bukan hanya bisnis, Tuan Kim. Anak  saya juga memiliki perasaan."  Jisung merasakan sedikit rasa bangga pada ayahnya, namun juga takut akan konsekuensi dari keberanian ayahnya.  Ia melirik Hyunjin, yang mengangguk pelan sebagai tanda terima kasih.

"Perasaan bukanlah sesuatu yang penting dalam bisnis, Tuan Park," Bapak Kim menyela dengan dingin.

"Hyunjin harus menjaga nama baik keluarga Kim. Dan itu berarti, ia harus menjaga pernikahan ini." Ancaman tersirat dalam setiap kata-katanya.  Hyunjin menunduk, air matanya hampir jatuh.  Ia merasa tercekik oleh tekanan yang luar biasa.  Jisung semakin erat menggenggam tangannya, memberikan dukungan diam-diam.

Ibu Hyunjin, dengan senyum yang dibuat-buat, menambahkan, "Jangan sampai Jisung membuat Hyunjin menderita, Tuan dan Nyonya Park. Kita semua tahu konsekuensinya." Senyumnya terasa dingin dan mengancam.  Hyunjin merasakan tubuhnya menegang.  Ia takut akan konsekuensi yang dimaksudkan Ibu Hyunjin.  Jisung menepuk tangan Hyunjin pelan, mencoba memberikan kekuatan.

Ibu Jisung, seorang wanita yang lembut namun berhati baja, membalas dengan nada yang lebih lembut namun tak kalah tajam. "Begitupun sebaliknya, Nyonya Kim. Jangan sampai keluarga Kim melupakan bahwa Jisung juga memiliki keluarga yang akan melindunginya."  Jisung merasakan sedikit rasa lega.  Ia tahu ibunya akan selalu melindunginya.

Suasana semakin tegang. Jisung dan Hyunjin saling berpandangan, mata mereka menunjukkan kecemasan dan ketakutan. Mereka terjebak di antara dua keluarga yang berkuasa, yang menggunakan pernikahan mereka sebagai alat untuk mencapai tujuan mereka sendiri.  Hyunjin merasakan air mata mengalir di pipinya, namun ia berusaha untuk menghapusnya dengan cepat.  Jisung merasakan tangannya semakin erat digenggam Hyunjin.

Tiba-tiba, Hyunjin bersuara, suaranya gemetar. "Aku... aku mencintai Aro," katanya, suaranya lirih namun tegas.  Jisung terkesiap.  Ia tidak menyangka Hyunjin akan mengatakan itu.  Hyunjin tampak siap menghadapi konsekuensinya.

Ayah Kim langsung membentak, "Jangan bodoh, Hyunjin! Kau harus fokus pada pernikahan ini!"  Hyunjin menunduk, menahan air mata yang kembali mengalir.

Jisung juga bersuara, suaranya penuh amarah yang tertekan. "Dan aku mencintai Seoyun! Pernikahan ini adalah kesalahan besar!"  Ia menatap ayahnya, mencari dukungan.  Ayahnya hanya mengangguk pelan, sebagai tanda dukungan diam-diam.

"Kalian berdua diam!" Ayah Kim membentak, wajahnya memerah menahan amarah.

"Ini bukan tempat untuk mengutarakan perasaan bodoh kalian! Kalian akan mengikuti aturan, atau kalian akan menghadapi konsekuensi yang sangat buruk!"  Hyunjin dan Jisung saling berpandangan, ketakutan dan keputusasaan tergambar jelas di mata mereka.  Namun, di balik ketakutan itu, ada juga tekad untuk bertahan, untuk saling melindungi, meskipun masa depan mereka tampak gelap dan penuh ancaman.

hyunjin haremTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang