Langit di Balik Bukit

122 12 0
                                        



Bagian 1:

Sepasang Langkah di Jalan Tanah
Desa Tegal Mulyo, 1979. Matahari senja menggantung malas di langit jingga, sementara embusan angin sawah membawa aroma tanah basah dan rumput liar.

Di pinggir desa, di antara barisan pohon jati yang menguning, dua pasang kaki menyusuri jalan setapak yang becek. Yang satu bersandal jepit lusuh, yang satu lagi memakai sepatu sekolah yang solnya mulai lepas.


"Orang-orang desa bakal makin curiga kalau kita terus pulang bareng begini, Din," kata Raka, mematahkan batang ilalang dan memainkannya di antara jemarinya.

Dino hanya menunduk, wajahnya memerah tak karena matahari. "Mereka sudah curiga dari lama."

"Karena kamu nggak pernah suka sama Lela, padahal ibu kamu udah terang-terangan nyuruh kamu deketin dia," tambah Raka, setengah mengejek.

Dino tertawa kecil. Tapi tawa itu tidak menghapus kegelisahan yang menggumpal dalam dadanya.



Raka adalah anak semata wayang Pak Lurah, sosok yang dihormati sekaligus ditakuti. Ia pintar, cerdas, dan—yang membuat segalanya rumit—gagah dalam cara yang tidak bisa diabaikan Dino. Di mata orang-orang, Raka seharusnya jadi contoh bagi pemuda desa: kuat, berani, dan kelak meneruskan ayahnya.

Namun bagi Dino, Raka adalah sesuatu yang lebih... sesuatu yang tidak pernah diajarkan dalam khutbah Jumat atau buku-buku PPKn.







"Aku mimpi aneh tadi malam," kata Dino tiba-tiba.

"Jangan bilang kamu mimpiin aku lagi," jawab Raka, menyenggol bahunya.



Dino tidak menjawab, tapi diamnya sudah cukup menjadi pengakuan.

Mereka berhenti di ujung bukit kecil yang menghadap ke desa. Dari sana, atap-atap rumah warga terlihat seperti potongan mainan dari kayu. Lampu-lampu mulai menyala, satu per satu, menggantikan sinar matahari yang perlahan tenggelam.


"Aku benci ini," kata Raka akhirnya.

"Apa?" tanya Dino.

"Semua ini. Dunia yang menertawakan kita kalau mereka tahu."

Dino menelan ludah. Ia ingin bilang bahwa dia juga benci, tapi suaranya tercekat. Angin malam mulai turun, membawa dingin dan juga ketakutan: bahwa yang mereka punya ini, entah apa namanya, mungkin tak akan pernah diterima.

Namun mereka tetap berdiri berdampingan di sana, di ujung dunia kecil mereka. Meski hanya sebentar, dunia terasa tidak menghakimi.













Bagian 2:

Rahasia yang Tak Pernah Aman
Esoknya, suara kentongan subuh belum habis berdentang ketika ibu Dino sudah berdiri di depan pintu kamarnya, mengetuk keras sambil membawa termos air panas dan kopi tubruk.

“Bangun, Din. Ayahmu minta kamu bantu Pak RT masang umbul-umbul. Hari Kemerdekaan udah dekat,” katanya tegas.

Dino mengangguk malas. Di luar, suara ayam jantan dan mesin pompa air bersahutan. Hidup di desa tak pernah memberi ruang untuk tidur panjang.

Setelah menyiram wajah dengan air dingin sumur, Dino keluar. Tapi bukannya ke balai desa, ia menyelinap lewat jalan belakang, melewati kebun pisang dan semak jambu biji. Tempat mereka biasa bertemu—sebuah gubuk kecil yang sudah reyot di pinggir sawah, peninggalan zaman Jepang katanya.

Raka sudah di sana, duduk di balok kayu lapuk, mengenakan kaus putih dan celana komprang.

“Harusnya kamu lagi masang bendera,” ejek Dino sambil menjatuhkan diri di sampingnya.

hyunjin haremCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang