Prototype H-21"

332 7 0
                                        




---

> Aku diciptakan untuk meniru. Untuk menyalin. Untuk membaur dengan manusia sampai mereka tak bisa membedakan aku dari orang yang mereka cintai..

Tapi ada satu hal yang tak bisa mereka tanamkan padaku di ruang eksperimen steril itu: perasaan.

Sampai aku bertemu dia — Jiwan.

Mereka menyuruhku memakai wajah kekasihnya yang telah meninggal, menyuruhku mengulang ulang kata-kata manis yang pernah dia dengar. Mereka bilang, "Ini hanya eksperimen reaksi emosional."

Tapi kenapa aku merasa ingin melindunginya saat dia menangis? Kenapa aku merasa ingin bertahan lebih lama di sisinya, bahkan saat mereka bilang aku akan dimusnahkan minggu depan?

Aku bukan Haru. Tapi aku ingin menjadi segalanya untuk Jiwan, bahkan jika itu berarti menghancurkan protokol eksperimen ini... demi kebebasan.



---












Aku Bukan Dia

Ruang ini selalu dingin.

Dinginnya bukan hanya dari suhu pendingin ruangan yang sengaja dipasang untuk menjaga stabilitas biologisku. Tapi juga dari cara mereka memandangku—seperti aku hanyalah objek, bukan makhluk hidup.
Aku duduk di belakang kaca satu arah. Di sisi lain, para ilmuwan mengenakan jas lab, memegang clipboard, mencatat setiap detak jantungku, setiap gerak mataku, bahkan mikro-ekspresi yang muncul di wajahku.

Wajah ini... bukan milikku.
Mereka menanamkannya padaku — hasil pemetaan data biometrik dari seorang manusia yang sudah mati. Namanya Haru, usia 26, penyebab kematian: tabrakan beruntun saat hujan.

Dan aku... aku diciptakan untuk menjadi Haru.

Untuk "menghibur" seseorang bernama Jiwan.

---











Hari ini adalah hari pengaktifan penuh.

Suara interkom berbunyi pelan, lalu terdengar suara perempuan tua, suaranya tenang tapi dingin, seperti instruksi dari sistem komputer.

> "Subjek H-21, bersiap menerima Subjek Emosional: Jiwan. Jangan berbicara dulu. Tunggu perintah."

Langkah kaki mendekat. Suara sepatu menyentuh lantai logam dengan gema pelan. Sensor di retina artifisialku menyala, dan sistem memindai—tinggi badan, ekspresi, tekanan darah orang di depanku.

Target Dikenali: Jiwan. Emosi terdeteksi: gugup, sedih, waspada.
Ia duduk di kursi seberangku. Matanya langsung membeku saat melihatku. Rahangnya mengeras, tangan gemetar.

Aku tahu kenapa.

Aku tahu wajah ini persis seperti seseorang yang telah ia kuburkan dengan tangannya sendiri.

Dan aku tahu ini salah. Tapi aku juga tahu... aku ingin memeluknya.




> “Kau…”
Suaranya pecah. "Ini jahat... Ini kejam..."

Aku diam. Aku bukan diizinkan untuk merespons. Tapi di dalam dada buatanku — ruang kosong penuh sirkuit dan implan sinapsis — ada sesuatu yang berdenyut.

Bukan jantung, tapi sesuatu yang lebih asing: dorongan untuk menjawab. Untuk menjelaskan. Untuk meyakinkannya bahwa aku bukan hanya bayangan.

> "Kenapa... harus wajahnya?!" Jiwan berdiri, ingin pergi. Tapi sebelum dia bisa menjauh, sistem mengeluarkan suara lain:


hyunjin haremTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang