nct

261 6 0
                                        

Hyunjin melangkah pelan melewati lorong Rosenvale. Rambut pirangnya basah, seragamnya menempel di tubuh, dan matanya yang jernih tampak lelah. Ia baru pindah dua minggu lalu, dan sejak hari pertama… sesuatu terasa salah.

Terlalu banyak mata mengikuti setiap geraknya.
Terlalu banyak pintu yang terkunci sendiri ketika ia lewat.
Terlalu banyak bisikan.

Seperti sekolah itu memilihnya—bukan sebagai murid… tetapi sebagai persembahan.

Ketika Hyunjin hendak membuka loker, sebuah tangan kuat menutup pintu logam itu lebih cepat dari yang ia sempat sadari.

Hyunjin terlonjak.
Bibir seorang pria tinggi beberapa sentimeter dari wajahnya.

“Sendirian lagi?”
Suara Lee Jeno, kapten tim atletik. Santai.

Sebelum Hyunjin menjawab, seseorang menarik kerah bajunya dari belakang.

“Aku duluan.”
Mark Lee—dingin, bermata tajam.

Lalu dua tangan lain meraih pinggang Hyunjin.
“Tidak, dia ikut denganku.”
Jaemin tersenyum miring.

Hyunjin tersedak napas. Itu baru tiga.

Di ujung lorong, enam pria lainnya berjalan pelan, seolah lorong itu hanyalah panggung panjang menuju mangsanya:

Haechan dengan tatapan nakal,
Jaehyun yang selalu taat akan aturan kecuali saat menyentuh Hyunjin,
Kun yang tenang tapi mematikan,
Xiaojun dengan aura gelap yang terlalu tenang,
Yangyang yang selalu tersenyum seolah tahu semuanya,
Dan Hendery… yang tidak pernah berhenti memandangi leher Hyunjin seakan ingin menggigitnya.

Sembilan pria.
Sembilan tatapan.
Semua mengarah pada satu orang.

Hyunjin.

“Jangan— jangan sentuh aku…” suara Hyunjin bergetar.

Mark tertawa pelan.
“Hyunjin, kami sudah memilihmu sejak hari kau masuk. Ini bukan tentang mau atau tidak…”

Jeno memiringkan kepala, menatapnya seperti seorang pemilik melihat barang yang sudah ia bayar.
“…ini tentang siapa yang lebih cepat mencium duluan.”

Sebelum Hyunjin bisa mundur, Jeno meraih rahangnya dan mencium bibirnya keras, brutal, menahan tubuh Hyunjin agar tak dapat bergerak. Ciumannya cepat, panas, penuh penaklukan.

Hyunjin mendorong, tapi Mark menarik pinggangnya dan mencium sisi lehernya dengan gigitan dalam yang membuat Hyunjin terengah.
Sementara itu Jaemin mencengkeram dagunya dan mencuri ciuman kedua di tengah kekacauan itu.

Bibir Hyunjin basah, bengkak, dan ia bahkan tidak bisa membedakan ciuman siapa yang paling sakit.

“Stop… tolong…” napas Hyunjin terputus-putus.

Tapi Haechan hanya tersenyum gelap.
“Apa gunanya minta tolong kalau sembilan orang di sini semua ingin hal yang sama?”

Jaehyun mendekat, menelusuri garis leher Hyunjin dengan jarinya.
“Aku duluan nanti malam.”

“Malam?” Hyunjin menatapnya dengan mata membesar.

Kun menjawab pelan, seolah memberi hukuman.
“Tentu. Kau tinggal di apartemen yang sama dengan kami nanti. Hyunjin… kau pikir kami akan membiarkanmu pulang sendirian?”

Yangyang meraih dagu Hyunjin, menahan wajahnya.
“Setiap kamar akan bergantian memanggilmu.”

Hendery mencondongkan tubuh.
“Dan kami semua suka yang… brutal.”

Hyunjin membeku.
Seluruh tubuhnya bergetar.

Di sekitar mereka, lorong sekolah sepi.
Tapi ciuman—ciumannya tidak berhenti.
Satu di bibir, satu di leher, satu di bahu, satu di pelipis.
Brutal, berlapis, membuat Hyunjin kehilangan arah.






hyunjin haremTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang