Hujan turun sejak sore, menabrak jendela kamar Arthur dengan suara monoton yang menenangkan — bagi sebagian orang.
Tapi bagi Arthur, malam ini bukan tentang tenang.
Matanya menatap layar laptop yang menampilkan satu sosok yang sudah terlalu ia kenal: Sam.
Senyum Sam di layar terasa seperti duri di dada.
Terlalu lembut. Terlalu polos.
Dan terlalu jauh dari jangkauannya.
Arthur tidak pernah tahu kapan tepatnya perasaan itu berubah — dari sekadar rasa ingin tahu menjadi sesuatu yang lebih dalam, lebih berat, lebih gelap.
Ia mulai mengikuti Sam tanpa sadar. Awalnya hanya ingin memastikan Sam aman, katanya pada diri sendiri.
Tapi lama-lama… ia butuh melihatnya setiap hari.
Butuh tahu ke mana Sam pergi, dengan siapa dia bicara, bahkan apa yang membuatnya tersenyum.
Setiap malam, Arthur menulis nama Sam di buku catatannya:
“Jam 7: keluar dari kelas.”
“Jam 7.10: membeli kopi tanpa gula.”
“Jam 7.15: tersenyum pada barista.”
Ia tahu itu tidak normal, tapi ia tidak peduli. Karena dalam pikirannya, hanya ia yang benar-benar mengenal Sam.
Hanya ia yang bisa menjaganya.
Lampu kamar redup. Arthur menatap bayangannya di cermin — mata gelap, senyum samar.
“Sam…” bisiknya pelan. “Kau tidak tahu betapa aku ingin memelukmu.”
Dan di luar sana, di bawah hujan, seseorang berjalan pulang sendirian dengan payung hitam.
Tidak sadar, ada sepasang mata yang mengikuti langkahnya di kejauhan.
Cahaya merah dari lampu jalan menyinari wajah Arthur sebentar — refleksi itu seperti simbol: larangan, bahaya… tapi juga panggilan.
Dan dia sudah terlalu dalam untuk berhenti sekarang.
---
Sudah tiga malam Arthur tidak tidur.
Bayangan Sam terus berputar di kepalanya, berulang tanpa jeda seperti rekaman rusak.
Langkah kaki Sam di lorong kampus, suara tawanya yang ringan, rambutnya yang jatuh menutupi mata… semuanya menempel di ingatan Arthur terlalu dalam untuk dihapus.
Ia tahu Sam mulai merasa aneh.
Beberapa kali Sam menoleh tiba-tiba di koridor. Pernah juga ia berhenti di depan kaca, seolah ingin memastikan ada seseorang di belakangnya.
Arthur hanya berdiri di kejauhan, pura-pura sibuk menatap ponsel. Tapi matanya tak pernah lepas darinya.
.........
Suatu sore, hujan lagi.
Arthur duduk di bangku taman yang sepi, memandangi Sam yang meneduh di bawah atap halte.
Wajah Sam tampak lelah, matanya sayu. Dan entah kenapa, Arthur merasa sakit melihat itu. Sakit… tapi juga bahagia, karena Sam begitu nyata di depannya.
Dia ingin menghampiri. Ingin bicara. Tapi setiap kali bayangan itu hampir menjadi kenyataan, sesuatu di dalam dirinya menahan — ketakutan, mungkin. Atau justru kenikmatan karena menyimpan semuanya sendiri.
Namun hari itu berbeda.
Sam tiba-tiba menatap lurus ke arahnya.
Menatap — bukan sekadar melihat. Tatapan itu seperti cahaya yang menembus dinding rahasianya selama ini.
Arthur membeku.
Jantungnya berdetak cepat.
Hujan makin deras, tapi suara itu — lembut, bergetar — sampai juga padanya.
“Arthur…?”
Nama itu keluar dari bibir Sam dengan nada bingung.
Arthur tersenyum samar, setengah lega, setengah gila.
Akhirnya, pikirnya. Akhirnya kau tahu aku ada.
---
Sejak hari itu, sesuatu berubah.
Arthur mencoba menjauh, tapi rasa ingin tahu itu makin kuat.
Sam kini sering menatap ke arahnya — bukan dengan takut, melainkan dengan ekspresi yang tak bisa ia baca.
Seolah Sam tahu semuanya… dan membiarkannya.
Sampai malam itu tiba.
Malam yang sunyi, terlalu sunyi.
Langkah kaki Arthur terdengar jelas menembus udara dingin di gang sempit. Payungnya meneteskan air, tapi matanya tak pernah lepas dari sosok di depan sana — Sam.
Gerak Sam terlalu tenang, senyumnya terlalu lembut. Tapi ada sesuatu di balik matanya — sesuatu yang membuat darah Arthur berdesir aneh.
Arthur tidak tahu kenapa, tapi ia tidak bisa berhenti mengikuti.
Tiba-tiba Sam berhenti.
Ia berdiri di bawah cahaya merah dari papan toko, lalu menoleh perlahan.
Arthur terhenti.
Tatapan Sam bertemu dengan matanya.
Bukan tatapan terkejut — melainkan tatapan yang sudah tahu sejak lama.
Senyum tipis muncul di wajah Sam.
“Sudah lama, ya… kau mengikutiku?” suaranya pelan, datar, tapi ada sesuatu di baliknya — dingin, tajam, seperti pisau halus yang menyentuh kulit tanpa terasa.
Arthur terpaku. “Kau tahu?”
Sam melangkah mendekat, satu langkah… dua langkah… sampai jarak mereka hanya sehelai napas.
“Kalau kau ingin tahu lebih banyak tentangku,” bisik Sam sambil menatap lurus ke mata Arthur, “kenapa tidak masuk saja?”
Ia berbalik, berjalan tenang ke arah apartemennya. Tidak menunggu jawaban.
Dan entah kenapa, Arthur malah mengikutinya — seperti terhipnotis oleh cahaya merah itu.
Cahaya yang menandakan bahaya… tapi juga memanggil.
---
KAMU SEDANG MEMBACA
hyunjin harem
Fanfictiontentang hyunjin dan para haremnya Random ae Malas ngetik Update kalo udh ada 35 mata Dan klo udh 10 vote Update klo ide lancar Ak ngetik pakai AI Udh tau kan gimana hasilnya nnti Klo ngk nyambung salah AI nya hehe🤭🤭😋🙏🙏🙏
