Sinar matahari Tokyo menembus tirai hotel, membuat kamar perlahan terang. Hyunjin terbangun dengan kepala berat. Malam itu, tidurnya tak nyenyak—setiap kali ia terlelap, bayangan Samuel muncul lagi. Sentuhan ringan di pipi, tatapan mata yang seakan menelanjangi hatinya, dan kalimat terakhir sebelum pria itu pergi.
“Aku milikmu.”
Hyunjin mendesah, mengacak rambutnya sendiri. “Kenapa aku harus mengingatnya lagi…” gumamnya pelan. Tapi dada yang berdetak kencang justru mengkhianati kata-kata itu.
---
Setelah sarapan ringan yang dikirim staf, Hyunjin bergegas turun ke lobi. Ia harus menuju lokasi konser berikutnya untuk persiapan. Namun langkahnya terhenti begitu melihat sosok familiar berdiri tak jauh dari pintu masuk hotel.
Samuel.
Pria itu mengenakan setelan santai namun tetap berkelas, seperti biasa. Ia sedang berbicara dengan salah satu staf manajemen, ekspresinya tenang dan penuh wibawa. Tapi begitu matanya menangkap Hyunjin, ada kilatan berbeda di sana—hangat, intens, dan jelas-jelas hanya untuknya.
Hyunjin buru-buru menunduk, menarik masker ke wajahnya. Tapi Samuel sudah melangkah mendekat.
---
“Pagi,” sapa Samuel datar, tapi suaranya terdengar lebih lembut daripada biasanya.
Staf yang mendampingi Hyunjin sempat bingung, tapi Samuel dengan mudah menyamarkan semuanya. “Aku kebetulan ada urusan bisnis di Tokyo, jadi mampir sebentar.”
Ucapan ringan itu terdengar masuk akal bagi orang luar. Namun Hyunjin tahu—ini bukan kebetulan.
---
Ketika staf berjalan lebih dulu, Samuel sempat menahan langkah Hyunjin dengan suara rendah yang hanya bisa didengar mereka berdua.
“Kau tidur nyenyak?”
Hyunjin menoleh cepat, wajahnya memanas di balik masker. “Itu bukan urusanmu.”
Samuel tersenyum tipis, jelas puas dengan respon canggung itu. “Kalau begitu… bagus. Karena malam ini, aku ingin melihatmu lebih baik lagi.”
Hyunjin hampir kehilangan kata. Untungnya staf memanggil, menyelamatkannya dari jawaban yang mungkin akan mempermalukannya.
---
Dalam perjalanan menuju mobil, Hyunjin terus merasa tatapan Samuel menempel padanya. Meski tidak ada kontak langsung, setiap langkah terasa seperti diperhatikan.
Dan anehnya, alih-alih terganggu, ada bagian dalam dirinya yang… nyaman.
Hyunjin menggenggam erat ponselnya, jantungnya masih berdegup cepat. “Samuel… apa yang sebenarnya kau lakukan padaku?”
---
Sorak-sorai penonton memenuhi arena konser malam itu. Lampu-lampu menyorot panggung, sorakan fans memenuhi udara, dan suara musik menggetarkan dinding venue.
Hyunjin berdiri di panggung bersama member lain, tubuhnya bergerak otomatis mengikuti koreografi yang sudah diulang ribuan kali. Senyumnya tampil sempurna, wajahnya tampak bersinar di bawah cahaya lampu. Namun jauh di dalam, hatinya tidak fokus sepenuhnya.
Matanya mencari.
Dan di antara ribuan penonton, ia menemukannya.
Samuel.
Pria itu duduk di area VIP, barisan depan, dengan aura yang sama sekali tidak bisa disamarkan. Meski sederhana dengan jas hitam tanpa banyak aksesoris, kehadirannya mencuri perhatian. Tidak perlu berteriak, tidak perlu berdiri—hanya dengan duduk diam, Samuel membuat Hyunjin merasa seluruh konser ini… untuknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
hyunjin harem
Fanfictiontentang hyunjin dan para haremnya VOTE WOIIII😋😋😋😋🙏🙏🙏🙏🙏🏻😀😀😀🫣🫣🍑🍑🥰😍😍😭😭😭😭 Maaf weeee sering ilang hehe Random ae Malas ngetik Update kalo udh ada 35 mata Dan klo udh 10 vote Update klo ide lancar Ak ngetik pakai AI Udh tau kan g...
