Gedung kaca menjulang tinggi itu berdiri megah di tengah kota Seoul. Langkah Hyunjin terdengar mantap saat ia melewati lobi utama. Semua mata menoleh ke arahnya—wajar saja, seorang idol papan atas seperti dirinya jarang sekali terlihat tanpa jadwal resmi.
Dengan jas hitam yang membalut tubuh tinggi semampainya, Hyunjin terlihat seperti model yang keluar dari majalah fashion. Senyum tipis terlukis di bibirnya, senyum profesional yang sudah ia latih bertahun-tahun. Namun di balik itu, hatinya sedikit berdebar.
> “Kenapa aku dipanggil langsung oleh CEO? Biasanya urusan kontrak cukup dengan manajer atau direktur brand,” gumamnya dalam hati.
Hyunjin masuk ke dalam lift pribadi, ditemani asistennya. Angka menuju lantai teratas menyala satu per satu. Semakin tinggi, semakin terasa tekanan aneh di dadanya.
---
Di sisi lain ruangan, Samuel duduk di balik meja kerjanya yang elegan. Jas abu-abu tua melekat sempurna di tubuh tegapnya. Tatapannya dingin, namun tangan yang tersembunyi di bawah meja sedikit bergetar.
Seorang CEO muda, berkuasa, dan dihormati—tak ada yang tahu bahwa Samuel adalah fanboy Hwang Hyunjin sejak lama. Koleksi album, foto, bahkan merchandise tersembunyi rapi di kediamannya di Paris. Dan sekarang… orang yang selama ini hanya bisa ia lihat di layar akan segera berdiri tepat di hadapannya.
> “Tenang, Sam. Kau CEO, bukan remaja belasan. Tapi... ini Hyunjin.”
---
Pintu ruangannya terbuka.
Hyunjin melangkah masuk, menundukkan kepala dengan sopan.
“Annyeonghaseyo. Hwang Hyunjin imnida,” ucapnya ramah.
Mata Samuel langsung menatap tajam ke arahnya. Sejenak ruangan itu terasa terlalu sempit untuk dua orang.
Samuel berdiri, mengulurkan tangan. “Selamat datang, Hyunjin-ssi. Aku Samuel Rothschild, CEO dari perusahaan ini. Senang akhirnya bisa bertemu langsung.”
Hyunjin menjabat tangannya. Hangat. Tegas. Tapi ada sesuatu di genggaman itu—seolah Samuel menyalurkan rasa kagum yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
“Terima kasih sudah meluangkan waktu. Kuharap tidak merepotkan Anda.”
Samuel tersenyum tipis. “Sama sekali tidak. Justru aku yang merasa terhormat.”
---
Hyunjin duduk, sementara Samuel menatapnya tanpa berkedip. Idol itu begitu nyata, jauh lebih memukau daripada yang ia lihat di layar. Wajah sempurna, sorot mata tajam, dan aura yang memikat.
Hyunjin berdeham pelan, merasa agak canggung dengan tatapan sang CEO. “Jadi, tentang perpanjangan kontrak kerja sama brand ini… apa ada detail baru yang harus saya pelajari?”
Samuel bersandar ke kursinya, menautkan jari-jarinya. Bibirnya melengkung pelan.
“Detail memang ada… tapi alasan utamanya aku ingin bertemu denganmu, Hyunjin-ssi.”
Hyunjin terdiam. Alisnya sedikit terangkat. “Maksud Anda?”
Tatapan Samuel dalam, seolah menembus lapisan luar yang selama ini Hyunjin pertahankan.
“Aku ingin mengenalmu lebih jauh. Bukan hanya sebagai brand ambassador. Tapi… sebagai dirimu sendiri.”
---
Hyunjin merasakan detak jantungnya melonjak.
Ucapan itu sederhana, tapi nadanya berat dan sarat makna. Untuk pertama kalinya, ia merasa seorang CEO besar memperlakukannya bukan hanya sebagai produk atau wajah iklan—tapi sebagai seseorang yang benar-benar ia inginkan.
Namun… entah kenapa, ada sisi gelap dalam dirinya yang ikut bergetar.
---
Hening beberapa detik setelah kalimat Samuel membuat Hyunjin sedikit menggeser duduknya. Ia terbiasa menghadapi orang-orang berkuasa, tapi tatapan CEO di depannya ini berbeda. Ada sesuatu yang sulit ia jelaskan… seperti ada ketertarikan, tapi terselubung di balik wajah tenang.
Hyunjin menarik napas pendek, lalu tersenyum ramah seperti biasanya.
“Ne… saya mengerti. Tapi saya pikir, detail kontrak tetap lebih baik dibicarakan langsung dengan agensi saya.”
Samuel hanya mencondongkan tubuh ke depan, dagunya bertumpu pada jari.
“Tentu. Semua urusan resmi akan tetap lewat jalur profesional. Tapi izinkan aku berbicara langsung… tentang bagaimana kau melihat peranmu di brand ini. Bukan sekadar angka, bukan sekadar nama besar. Tapi tentang apa yang kau inginkan.”
Kata-kata itu membuat Hyunjin diam. Jarang sekali seorang CEO peduli dengan ‘apa yang diinginkan’ seorang idol. Biasanya, mereka hanya bicara soal strategi marketing, campaign, atau jadwal promosi.
> “Orang ini… berbeda,” batin Hyunjin.
---
Samuel tersenyum samar, lalu bangkit dari kursinya. Ia berjalan ke arah meja kecil di samping ruangan, menuangkan kopi ke dalam dua cangkir.
“Hitam? Atau dengan gula?” tanyanya tanpa menoleh.
Hyunjin sedikit terkejut. “Oh… hitam saja. Gamsahamnida.”
Samuel kembali, menyerahkan cangkir itu langsung ke tangan Hyunjin. Jari mereka sempat bersentuhan. Hangat.
Hyunjin buru-buru menunduk, menyembunyikan ekspresi wajahnya.
“Terima kasih,” ucapnya pelan.
---
Beberapa menit mereka berbicara ringan. Tentang mode, tentang visi brand, bahkan tentang bagaimana Hyunjin menyeimbangkan dunia idol dengan dunia modeling. Hyunjin tetap menjaga sikap profesional, meski sesekali ia menangkap sorot mata Samuel yang terlalu dalam… seolah sedang membaca dirinya.
Sampai akhirnya Samuel berkata, dengan nada tenang namun penuh tekanan:
“Hyunjin-ssi… kau pernah merasa dunia ini menuntutmu untuk selalu sempurna?”
Pertanyaan itu membuat Hyunjin menoleh. Matanya membulat tipis.
Bagaimana bisa seorang CEO yang baru ditemuinya membaca hal yang bahkan jarang ia ungkap?
Senyum tipis terbentuk di wajah Samuel. “Aku bisa melihatnya. Kau selalu tampak sempurna di luar. Tapi aku percaya… ada sesuatu yang lain di balik itu.”
Hyunjin tercekat. Hatinya berdebar.
Entah kenapa, kata-kata Samuel terasa menusuk langsung ke dalam.
---
Hyunjin mencoba menutupi perasaan itu dengan senyum sopan.
“Setiap orang punya sisi yang tidak diperlihatkan ke publik. Itu wajar, kan?”
Samuel mengangguk pelan, menatapnya dengan intens.
“Benar. Dan aku… ingin menjadi orang yang bisa melihat sisi itu darimu.”
---
Ucapan itu membuat ruangan seolah berputar sesaat. Hyunjin terdiam, tak tahu harus merespon apa. Ia hanya bisa menatap cangkir kopi di tangannya, berusaha menjaga ekspresi tetap tenang.
Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu: pertarungan antara dirinya dan Samuel baru saja dimulai.
---
KAMU SEDANG MEMBACA
hyunjin harem
Fanfictiontentang hyunjin dan para haremnya Konsumsi pribadi Klo ngak suka ya udh terserah Vote aja klo mau Maaf weeee sering ilang hehe Random ae Malas ngetik Update kalo udh ada 35 mata Dan klo udh 10 vote Update klo ide lancar Ak ngetik pakai AI Udh tau...
