Setelah rapat klarifikasi, langkah pertama dilakukan:
Agensi mengunggah pernyataan resmi bahwa Seojun dan Hyunjin adalah “teman lama saat trainee” dan pertemuan mereka hanyalah “kunjungan singkat tanpa maksud khusus”.
Tapi dunia tidak semudah itu percaya.
Hari itu, Seojun diwawancara oleh sebuah acara hiburan karena promosi dramanya. Segmen wawancara harusnya ringan—tentang karakter, syuting, dan rencana ke depan. Namun pertanyaan sensitif itu akhirnya muncul.
“Seojun-ssi, boleh komentar sedikit tentang foto Anda di sekitar dorm Stray Kids?”
Ruangan seolah menegang.
Manajernya memberi isyarat agar Seojun menjawab singkat saja. Tapi Seojun mengambil napas, lalu berbicara dengan nada yang… berbeda. Terlalu jujur. Terlalu lembut.
“Hyunjin itu… salah satu orang yang paling bekerja keras yang pernah aku kenal,” katanya pelan, seperti berbicara tentang seseorang yang sangat penting. “Aku cuma ingin memastikan dia baik-baik saja. Dia pernah menolongku banyak saat trainee.”
Para staf saling melirik.
Wartawan itu menangkap ketidakwajaran. “Jadi Anda peduli padanya?”
Seojun terdiam sepersekian detik—cukup lama untuk memicu rumor baru.
Akhirnya ia menjawab, “Aku akan selalu peduli.”
Jawaban itu… bukan jawaban standar PR.
Bukan jawaban profesional.
Itu jawaban orang yang perasaannya terlalu jelas.
Dan publik menangkap itu.
Kolom komentar meledak:
“Kenapa nada bicara Seojun kayak lagi melindungi orang yang dia sayang???”
“Teman lama kok kayak gitu? Too soft, dude.”
“Lihat tatapan dia waktu nyebut nama Hyunjin. Beda.”
“Aku dukung mereka kalau beneran 😭💗”
“Ini bromance atau apa?!”
Klip wawancara itu viral dalam 12 jam.
---
Di Dorm Stray Kids
Hyunjin menatap layar ponselnya sambil duduk di pojok sofa dorm. Video Seojun diulang berkali-kali. Setiap kali Seojun menyebut namanya—Hyunjin itu orang paling bekerja keras… Aku akan selalu peduli—jantungnya terasa aneh.
Bukan sakit.
Bukan manis.
Tapi… campuran keduanya.
“Hyun, kamu oke?” tanya Chan dari dapur.
Hyunjin cepat-cepat mematikan layar. “I–iya, hyung.”
Padahal wajahnya memerah. Kupingnya bahkan panas.
Chan mendekat, mengerutkan dahi. “Ada masalah lagi? Fans pada ribut soalnya.”
Hyunjin menunduk, memegang gelang biru di pergelangan tangannya—gelang dari Seojun, yang kini ia sembunyikan di balik lengan hoodie setiap kali keluar.
“…Kenapa dia bicara kayak gitu…” gumam Hyunjin pelan, lebih ke diri sendiri.
Chan duduk di sebelahnya. “Seojun itu temen dekatmu, kan?”
Hyunjin mengangguk pelan.
Chan tersenyum simpul. “Cara dia ngomong itu… bukan cara ‘teman biasa’ ngomong, Hyun.”
Hyunjin membeku.
Lalu Chan menepuk pundaknya. “Asal kamu tahu, apapun hubungan kalian… aku cuma harap kamu bahagia. Tapi hati-hati sama publik, ya.”
KAMU SEDANG MEMBACA
hyunjin harem
Fiksi Penggemartentang hyunjin dan para haremnya Random ae Malas ngetik Update kalo udh ada 35 mata Dan klo udh 10 vote Update klo ide lancar Ak ngetik pakai AI Udh tau kan gimana hasilnya nnti Klo ngk nyambung salah AI nya hehe🤭🤭😋🙏🙏🙏
