---
Neo-Seoul
Langit malam berwarna kelabu keperakan, seperti logam yang dipoles setengah hati. Lampu neon berpendar di antara gedung-gedung tinggi, memantul di genangan air hujan yang belum sempat menguap. Kota itu tidak pernah benar-benar tidur—hanya berganti cara bernapas.
Di tepi sebuah gedung pencakar langit, seseorang berdiri diam.
Jas hitam panjangnya berkibar diterpa angin. Posturnya tegak, dingin, seolah menyatu dengan malam itu sendiri.
Hyunjin.
Seorang hunter—pemburu makhluk malam.
Terlatih. Presisi. Tak pernah gagal… kecuali sekali.
Dan kegagalan itu bernama Jeno.
“Sudah lama kau tidak mengejarku.”
Suara itu muncul dari balik bayangan, nyaris tanpa gema. Dalam satu kedipan mata, sosok berambut perak telah berdiri beberapa langkah di belakang Hyunjin. Senyumnya tenang, terlalu tenang untuk sesuatu yang berbahaya. Mata merahnya menyala redup—bukan seperti api, tapi seperti bara yang dipendam lama.
Hyunjin menoleh perlahan. Cahaya kota memantul di matanya yang tajam.
“Kau pikir aku punya waktu untuk bermain dengan vampir sepertimu?”
Jeno terkekeh pelan. Suaranya tipis, hampir larut bersama angin.
“Padahal dulu kau sangat bersemangat memburuku.”
“Aku hanya melakukan tugasku.”
“Benarkah?”
Jeno melangkah mendekat satu langkah. Nada suaranya merendah.
“Atau kau sebenarnya takut… kehilangan alasan untuk menemuiku?”
Hening.
Angin malam seolah terhenti, dan seluruh kota mendadak terasa jauh. Hyunjin menatap Jeno—tatapan yang tajam, tapi goyah di kedalaman. Ada sesuatu di sana. Keraguan. Dan perasaan yang tak pernah ia beri nama.
Jeno mengangkat tangan perlahan, jarinya nyaris menyentuh pipi Hyunjin.
“Lukamu…” bisiknya.
Hyunjin menepis tangan itu dengan cepat. Terlalu cepat—dan tetap tidak cukup untuk menyembunyikan napasnya yang tertahan.
“Jangan sentuh aku.”
“Kalau aku melakukannya… lagi?”
Senyum Jeno melengkung samar. Mata merahnya bersinar lembut namun berbahaya.
“Apa kau akan memburuku… atau mencariku?”
Kilatan biru menyambar langit di atas mereka.
Dan di detik itu, Hyunjin tahu—perburuan mereka belum selesai.
Hanya saja, kali ini yang dipertaruhkan bukan sekadar nyawa.
---
Flashback
Malam Pertama di Distrik Gelap
Delapan bulan sebelumnya.
Hujan turun deras di distrik bawah—wilayah yang bahkan kamera pengintai pemerintah memilih untuk menutup mata. Lampu reklame berkedip lemah, menerangi gang-gang sempit yang dipenuhi kabut dan bau besi berkarat.
Hyunjin menurunkan helm hitamnya.
Misi keempat malam itu telah selesai. Vampir kelas rendah, disamar sebagai manusia, dieliminasi tanpa kesalahan.
Namun malam itu terasa… berbeda.
Udara seperti bergetar. Seolah ada sesuatu yang mengamatinya dari balik gelap.
> “Target terakhir. Level ancaman: tak teridentifikasi.”
Suara dari alat komunikasi berderak di telinganya.
Hyunjin menghembuskan napas pendek. “Lokasi?”
> “Gudang tua, sektor sembilan.”
Ia melompat dari atap ke atap, jasnya berayun mengikuti gerak tubuh. Langkah-langkahnya sunyi, tapi jantungnya berdetak terlalu cepat—seakan tubuhnya lebih dulu memahami bahaya yang belum sempat dipikirkan pikirannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
hyunjin harem
Fiksi Penggemartentang hyunjin dan para haremnya Konsumsi pribadi Klo ngak suka ya udh terserah Vote aja klo mau Maaf weeee sering ilang hehe Random ae Malas ngetik Update kalo udh ada 35 mata Dan klo udh 10 vote Update klo ide lancar Ak ngetik pakai AI Udh tau...
