Sunghoon

154 8 1
                                        

The Beautiful Omega – Extended Story

Ada hal yang unik dari cara Sunghoon memperlakukan Hyunjin.
Dia tidak pernah memberi rasa takut, tidak menekan, tidak memintanya berubah menjadi versi yang lebih “aman” atau lebih “sesuai harapan orang”.Alpha lain sering merasa punya hak mengatur. Sunghoon tidak.

Dia hanya… hadir. Tapi dengan kehadiran yang berat, stabil, dan hangat.

Hari berganti hari. Studio latihan bukan lagi hanya tempat kerja keras. Perlahan berubah menjadi tempat pertemuan rutin dua orang yang tidak pernah mengakui secara langsung bahwa mereka saling menunggu.

Hyunjin mulai terbiasa melihat bayangan Sunghoon di cermin studio. Selalu datang tanpa banyak bicara, menyender pada dinding, memperhatikan tanpa menghakimi.

“Aku nggak mengganggu, kan?” tanya Sunghoon suatu sore.

Hyunjin tertawa kecil. “Kalau ganggu,  udah aku usir .”

Sunghoon hanya mengangguk pelan, seolah jawaban itu sudah lebih dari cukup.





....


























Perlahan Tapi Pasti

Suatu hari, hujan turun deras. Langit gelap, udara dingin, jalanan basah. Semua orang pulang cepat—kecuali Hyunjin yang masih menyelesaikan gerakan untuk koreografi barunya. Ketika akhirnya selesai, dia tersadar satu hal… payungnya tertinggal di dorm.

Dia berdiri di depan pintu studio, menatap tirai hujan dengan napas panjang.

“Kalau kamu berdiri di situ terus, hujannya nggak akan kasihan trus berhenti,” suara Sunghoon datang dari belakang.

Hyunjin menoleh, sedikit terkejut. “Kamu belum pulang?”

Sunghoon mengangkat bahu santai. “Kupikir kamu juga belum.”

Di tangannya ada payung hitam besar. Dia membukanya tanpa banyak bicara.

“Pulang bareng,” ucapnya singkat.

Bukan pertanyaan. Tapi juga bukan perintah. Hanya ajakan sederhana.

Mereka berjalan berdampingan dalam diam. Hujan jatuh deras, tapi langkah Sunghoon stabil. Payung itu sedikit condong ke arah Hyunjin, seolah secara naluriah Sunghoon memastikan dia tidak kehujanan.

“Kalau kamu terus begini, orang bisa salah paham,” kata Hyunjin pelan.

Sunghoon melirik sekilas. “Biar saja. Yang penting kamu nggak kedinginan.”

Jawaban itu sederhana. Tapi dada Hyunjin terasa hangat.

Untuk pertama kalinya setelah lama hidup dengan tuntutan “jadi kuat”, dia merasa aman bukan karena dirinya harus bertahan sendiri, tapi karena ada seseorang yang memilih berdiri di sampingnya—tanpa drama, tanpa tuntutan balasan.




.....








Yang Tidak Pernah Diucapkan.......

Hubungan mereka berkembang pelan. Tanpa label, tanpa pengakuan. Tapi ada banyak hal kecil yang mereka lakukan untuk satu sama lain.

Sunghoon mulai hafal preferensi Hyunjin. Kopi hangat di hari dingin. Minuman manis saat lelah. Air putih setiap kali latihan terlalu berat.

Hyunjin juga memperhatikan Sunghoon. Cara Sunghoon menahan beban sendirian. Cara dia jarang mengeluh. Cara dia menyembunyikan lelah di balik tatapan tenangnya.

Suatu malam, setelah latihan panjang, Hyunjin melihat Sunghoon duduk sendirian di sudut studio. Pundaknya sedikit turun, napasnya berat, tapi ekspresinya tetap kalem seperti biasa.

hyunjin haremTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang