Sungjin

200 9 0
                                        

Ledakan itu mengguncang seluruh fasilitas bawah tanah.

Lampu emergency berkedip merah, alarm meraung, dan bau asap memenuhi lorong-lorong dingin laboratorium itu. Sirine berbunyi dengan suara yang menusuk telinga—namun semua itu tenggelam oleh suara langkah dua orang yang berlari secepat napas mereka bisa bertahan.

Sunghoon menarik tangan seseorang dengan erat—seolah tangan itu adalah satu-satunya alasan ia masih hidup.

Hyunjin.
Yang selama ini hanya menjadi subjek bernomor #A-117.

Rambut hitam panjang  Hyunjin menempel di pipinya dipenuhi keringat, napasnya terengah, tubuhnya gemetar—bukan hanya karena takut, tapi karena dosis serum yang merusak urat syarafnya masih mengalir di tubuhnya.

“Su–Sunghoon… aku… aku nggak kuat…” suara Hyunjin lemah, hampir putus.

Sunghoon menoleh cepat, matanya gelap—mata seorang werewolf alpha yang sudah kehilangan semua kesabarannya pada dunia ini.

“Aku sudah menghancurkan semuanya,” jawabnya pelan tapi tegas. “Mulai dari sekarang, kamu bukan eksperimen. Kamu milikku. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu lagi.”

Hyunjin membeku sebentar—kata-kata itu menusuk perasaannya lebih dari jarum suntik yang selama ini menusuk nadinya.

Namun sebelum ia sempat merespons, pintu baja di depan mereka terbuka otomatis. Bukan karena sistem, tapi karena Sunghoon menghancurkannya dengan pukulan yang bahkan tidak terlihat seperti milik manusia.

Cakar tajam keluar dari kedua tangannya. Mata kuning keemasan bersinar marah.

“Terus jalan. Kita hampir keluar.”

Hyunjin mencoba melangkah lagi, tapi pandangannya buram. Serum mutasi itu menahan kekuatan luar biasa yang ada di tubuhnya—kekuatan werewolf yang belum bangkit sepenuhnya.

Sunghoon melihat keadaan itu, dan tanpa bertanya, ia menarik Hyunjin ke pelukannya—mengangkat tubuh ringan itu bridal style.

Hyunjin terkejut.
“…Kamu nggak perlu—”

“Aku perlu.”
Sunghoon memotong cepat.
“Kamu terluka karena percobaan mereka. Karena mereka memaksamu berubah sebelum waktumu.”

Hyunjin menggigit bibir. Ada rasa takut… tapi juga rasa aman.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, seseorang menyentuhnya bukan sebagai objek riset… tapi sebagai seseorang yang ingin dilindungi.

Saat mereka keluar dari pintu besar terakhir menuju udara malam, cahaya bulan penuh menerangi keduanya. Angin dingin menyapu rambut Hyunjin.

Di belakang, laboratorium itu terbakar.

Pecahan kaca, beton retak, dan asap hitam menyembur ke langit malam.

Sunghoon berdiri diam, tatapannya tidak berkedip menatap api yang menelan tempat di mana semuanya dimulai—dan hampir mengakhiri hidup seseorang yang ia sayangi.

Hyunjin bisa mendengar detak jantung Sunghoon—cepat, panas, penuh kemarahan.

“Sunghoon…” ia berbisik.

Seme itu menunduk. “Ya?”

Hyunjin menyentuh dadanya perlahan. “Sekarang… kita ke mana?”

Sunghoon menghela napas pelan, tetapi nada suara dan garis wajahnya berubah—bukan lagi marah, tapi protektif.

“Ke tempat yang tidak bisa mereka temukan,” katanya.

Kemudian dengan nada lebih rendah, hampir seperti janji:

hyunjin haremTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang